Tampilkan postingan dengan label Jrx. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jrx. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Agustus 2013

Superman Is Dead Rayakan Ulang Tahun Ke-18

TEMPO.CO, Jakarta - Band punk rock asal Bali, Superman is Dead (SID) baru saja merayakan ulang tahun yang ke-18, pada 18 Agustus 2013 lalu. Para personilnya merayakan ulang tahun ke-18 ini dengan cara yang spesial, karena belum pernah dilakukan sebelumnya.

"Kita merekam lagu bersama dengan musisi Bali lainnya, yang bertema m
elawan penguasa," ujar Jerinx, salah satu personel SID ditemui di Soehanna Hall, Jakarta, Rabu 21 Agustus 2013.

Hal ini dilakukan sebagai penolakan reklamasi laut di selatan Bali, yang telah disetujui oleh Gubernur Made Mangku Pastika. Menurut SID, --dan juga sebagian warga Bali lainnya-- reklamasi itu hanyalah proyek akal-akalan semata.

"Jelas itu akal-akalan, sudah banyak buktinya dan jelas banget cacat, mereka mau mereklamasi laut seluas 883 hektare," ujar Jerinx menjelaskan. Untuk itu, sebagai bentuk penolakan SID merekam lagu berjudul `Bali Tolak Reklamasi`. "Hari ini sudah bisa diunduh dan besok video sudah bisa dilihat," ujarnya.

Ulang tahun kali ini SID merayakan ulang tahunnya dengan istimewa, karena merayakan dengan sebuah penolakan. "Kita merayakannya dengan melakukan sebuah perlawanan, itu istimewa kan?" kata Jerinx menutup komentarnya.

Sebelumnya pada awal Agustus 2013 lalu ratusan warga juga telah melakukan demo penolakan rencana reklamasi laut. Para warga melakukan unjuk rasa di tengah laut Tanjung Benoa, Badung, Bali.

Sumber:Yahoo!

SID Tak Sabar "Muntahkan" 17 Lagu Baru


JAKARTA, KOMPAS.com — Tak lama lagi band punk rock asal Bali, Superman Is Dead (SID), akan merilis album terbaru mereka. Album itu direkam ketika grup yang terdiri dari Bobby Kool (vokal), Eka Rock (bas), dan Jerinx atau Jrx (drum) tersebut masih berusia 17 tahun pada 2012. Dijanjikan oleh SID, paling tidak, pada Oktober 2013, album mereka sudah beredar secara digital dan fisik.

"Full album akan keluar bulan Oktober dan beberapa lagu sudah kami bawakan di konser-konser di daerah," ujar Eka dalam wawancara usai manggung dalam Konser Kemerdekaan Republik Indonesia, yang digelar di Soehana Hall, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2013).

Sesuai usia SID ketika merekam album itu, 17 tahun, jumlah lagu baru yang akan mengisi album tersebut adalah 17 lagu. "Kami memiliki 17 lagu karena saat rekaman itu SID berusia 17 tahun. Kalau sekarang sih sudah 18 tahun," cerita Bobby.

Ketika itu, SID hanya menghabiskan waktu tiga bulan untuk merekam semua lagu tersebut. "Itu total berdurasi 67 menit sekian untuk 17 lagu," kata Jerinx. "Kalau take drum sih cuma sehari," sambung Bobby dengan canda disambut tawa kedua rekannya.

Bocorannya, SID memilih lagu-lagu bertema cinta dan perlawanan. "Temanya cinta dan perlawanan, ada juga motivasi, ya, dan kira-kira 40 persen liriknya bahasa Inggris," jelas Bobby.

SID mengaku tak sabar untuk segera "memuntahkan" 17 lagu baru itu. Salah satunya, "Jadilah Legenda", menjadi single pertama album tersebut. "Sebenarnya album ini sudah keluar tahun lalu. Cuma Sony Music (perusahaan rekaman yang menaungi SID) sangat excited sama kami. Jadi, mereka sangat hati-hati merilisnya agar nanti daya ledaknya maksimal," kata Jerinx.

Sumber: Kompas

Superman Is Dead: Nasionalisme Nggak Harus Kibarkan Bendera!


Kapanlagi.com - Bagi Superman Is Dead, rasa nasionalis tak sekedar hanya mengibarkan bendera sang saka merah putih, tetapi juga harus bisa memberikan bukti nyata dalam kehidupan.

"Nasionalisme gak harus mengibarkan bendera, tidak harus pakai batik ke mana-mana. Buat saya, apa yang kamu lakukan secara langsung, berikan impact positif, dengan menjaga lingkungan, peduli ekologi itu sudah bentuk nasionalisme," ujar Eka Rock di AXA Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/8).

Band asal Bali itu melihat masih banyak masyarakat yang belum peduli dengan lingkungan. Maka dari itu band yang digawangi Bobby Kool, Eka Rock dan Jerinx itu berharap agar masyarakat peduli dengan lingkungan.

"Perbaiki diri dan lingkungan, sekarang kita jaga sekitar kita aja, apakah lingkungan kita sudah bersih," kata Eka.

"Musuh kita masih banyak, yang nggak keliatan, kita harus menyadarkan diri kita sendiri dari lingkungan," timpal Jerinx.

Source:  KapanLagi

Sabtu, 23 Maret 2013

SID American Tour Diary 3

Oleh: Superman Is Dead

5 Juli 2009, Dallas, TX.

Naskleng telat nok! Gara-gara ada masalah dengan GPS [alat bantu penentu arah yang terhubung dengan satelit] di van sewaan, kami sempat tersesat dan telat tiba di venue. Kami seharusnya naik jam 11.15 siang namun tiba di venue jam 11.25. Dari parkiran kita berlari [sambil menenteng gitar, drum dll] ke stage dan langsung set alat. Tak diduga jumlah penonton lumayan rame, kami pun bermain dengan semangat walaupun Bobby belum sempat melumuri rambutnya dengan hairwax. Karena telat kami hanya membawakan 3 lagu namun sambutan crowd amat bagus dan penjualan CD pun lancar.

Salah satu pembeli adalah seorang tattoo artis lokal yang hanya memiliki satu buah tattoo, hehe. Kelar di panggung, kami antri makan siang seperti biasa, keliling-keliling sebentar lalu mewawancarai band Born To Lose [Texas] sebelum akhirnya cabut menuju Memphis, Tennessee [7 jam]. Kita akan menginap di Memphis karena the next Warped Tour tanggal 7 Juli diadakan di Indianapolis [15 jam dari Dallas].

Yeah, perjalanan yang panjang dan melelahkan namun kita berusaha untuk stay positive. Rasa jenuh kita bunuh dengan joke-joke amatir [yang sebenarnya tidak lucu], menyimak album baru No Use For A Name dan memuaskan naluri kulinari dengan series of the worst American junk foods! 3-4 jam sekali kita berhenti di pompa bensin dan biasanya kembali ke mobil dengan tangan [dan kantong] penuh hot dog, beef jerky, pork crackers, ice cream, chilli dog dan lain-lain. Haha, pulang pulang bentuk badan bisa berubah nih. Hope not!



7 Juli 2009, Indianapolis, IN.

Sempat singgah di kampung Elvis Presley di Graceland [Memphis, Tennessee] dan bergaya bak tourist dari neraka, kami sempat membuat video dan sedikit berbelanja. Here in Graceland you can get about anything that has to do with Elvis. Dari wig, topeng sampai sambal merk Elvis, hebat! 8 jam perjalanan dengan Mbak Lia sebagai DJ ipod [yang menuai banyak protes, hehe] kita tiba di Indianapolis jam 1 malam dan disambut elevator hotel yang sudah layak ganti. Beruntung hotel-hotel di Amerika memiliki lantai yang berkarpet tebal, tak masalah bagi kami untuk sebagian tidur di lantai.

Bangun jam 8 pagi cuaca cukup bersahabat, cuma 28 derajat celcius, hampir mirip di Indonesia. Kelar sarapan cereal dan toast kami menuju venue dengan energi yang cukup bagus. Kami menarik banyak perhatian saat berkelling dengan pakaian adat Bali, bahkan kali ini kami berkeliling dengan volume maksimal ipod speaker yang memutar lagu SID. Main tepat pukul 12.25 siang setelah band pop punk semi-terkenal The Blackout [Wales, UK], kami mendapat crowd yang sedikit diluar dugaan! Ramai dan sangat responsif. Kami pun seperti mendapat energi tambahan dan sukses menghajar stage. Lagi lagi penjualan CD/merch melampaui rekor sebelumnya.


Permintaan foto dan tandatangan pun mulai berdatangan. Tak lama kami diculik sekelompok pemuda Bali yang menetap di Indiana untuk dibawa menuju ke restoran Jepang tempat mereka bekerja. Next, atraksi drum tradisional Jepang ala SID yang ditemani sirkus memasak ditampilkan. Tawa keras, beer, sake bomb, sushi segar dan wasabi yang maksimal membut kami ingin stay lebih lama tapi itu tak mungkin. Jam 6 kami tancap gas menuju Pittsburgh [6 jam] dan beruntung sosok baik hati yang kami kenal di Myspace menawarkan tempat menginap [dan seisi kulkas penuh bir] di Pittsburgh. Yeah, the long road continues.....Pittsburgh you better be ready!




8 Juli 2009, Pittsburgh, PA.

Tiba di lokasi menginap jam 3 pagi, kita disambut bir dingin, film Reservoir Dogs dan cuaca yang tak kalah dinginnya. Yeah, Pittsburgh yang dijuluki Iron City [karena banyak pabrik baja] lumayan dingin malam ini. Kita semua tidur di karpet dan saking dinginnya, jam 6 pagi Jrx sempat pindah ke mobil dan menghangatkan diri dengan heater. Karena tidak ingin terlambat lagi seperti di Dallas, kita bangun jam 8 pagi dan sampai di venue jam 9 hanya untuk mengetahui bahwa SID main jam 4.30 sore, damn! Ya sudahlah, sambil menunggu kita keliling-keliling venue yang berbukit-bukit.

Sempat terjebak pesta beer, hot dog dan ‘lain-lain’ di parkiran bersama beberapa kawan baru, kami terbawa suasana [mabuk, hehe] dan terkapar di jok belakang mobil seorang Jewish yang sangat menghargai ‘moment’ tersebut. Hari ini nasib kami kurang beruntung, jam main kami berbarengan dengan Anti Flag yang bermain di main stage [jaraknya cuma 20 meter dari stage kami]. Dan parahnya lagi, Anti Flag berasal dari Pittsburgh! Bisa ditebak, they totally won the crowd but SID tetap semangat beraksi, Eka melompat kesana kemari bagaikan kucing diatas aspal panas dan kita bertiga melompat tinggi meraih langit diakhir Kuta Rock City. Yep! Walaupun sepi, kami tetap berhasil menjual banyak CD dan menerima permintaan foto dan tandatangan. Salah seorang warga AS pembeli CD malah berkomentar “You guys got more skills than Green Day!” Haha, walaupun kami tahu itu pujian yang berlebihan, namun hal tersebut cukup menghibur.

Oya, hari ini kami kedatangan dua rekan wartawan dari Indonesia yang khusus datang untuk meliput kegiatan SID selama beberapa hari di Warped Tour dan From Bali With Rock Tour. Setelah interview session dengan mereka, kami meluncur ke Cleveland [3 jam] dengan rasa lelah campur gembira karena besok adalah hari terakhir kita main di Warped Tour. Senang karena terus terang menjalani Warped Tour sangat mengurus tenaga dan pikiran. Tiap hari kita bangun pagi, menuju venue, konser, masuk ke mobil yang penuh sesak barang dan penumpang, menuju kota lain, konser, masuk mobil, begitu diulang terus menerus. Walaupun seru tapi setelah hari ke 14 kami merasa perlu break.



9 Juli 2009, Cleveland, OH.

Karena tiba di Cleveland lumayan awal dan mendapat hotel yang nyaman [akhirnya!], kami istirahat dengan maksimal dan siap tempur untuk hari terakhir kita di Warped Tour. Venue kali ini cukup berkarakter, ditengah kota namun seperti dikurung oleh komplek pabrik besi yang sudah pensiun. Kami main jam 1.50 siang dan walaupun bersaing dengan Bad Religion yang bermain bersamaan, kami cukup berhasil memancing penonton. Bahkan setelah lagu terakhir, crowd sempat meneriakkan “more! more! more!” walaupun sayang sekali kami tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Penjualan CD dan t.shirt sama sekali tidak mengecewakan. Kami juga bertemu dengan beberapa warga AS yang mengaku cukup mengikuti SID dari internet.

Setelah membuat beberapa footage untuk kepentingan DVD kami, kami segera meluncur ke Washington [6 jam] dan akan menginap di rumah Dubes RI disana. Wah harus jaga sikap nih, hehe. Oya, jika ada satu hal yang cukup berarti bagi SID selama Warped Tour ini -berdasarkan evaluasi lapangan- rata-rata warga AS yang menyukai SID adalah mereka yang masuk dalam kategori outcast [tidak diterima pergaulan dan sering diremehkan]. Ini terlihat dari bentuk fisik, cara berbicara dan berpakaian mereka. Kalau di Indonesia istilahnya mereka anak-anak yang ‘tidak mengikuti jaman’ atau ‘tidak gaul’. Dan kami bangga kami bisa membuat mereka tersenyum. Kami bangga musik kami bisa berarti di hati mereka karena SID memang tercipta untuk orang-orang tersisih dimanapun mereka berada.

Goodbye Warped Tour, we had a good fight!





















Jrx

Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-american-tour-diary-3/127833145588

Kisah Tatto di Tubuh Jrx

JAKARTA, KOMPAS.com - Jerinx, penggebuk drum Superman Is Dead (SID), menyimpan filosofi di balik tato-tato yang melekat di tubuhnya. Sadar bahwa tato merupakan sesuatu yang krusial, Jerinx tak mau asal menaruh gambar tanpa makna dan nilai apa-apa. "Tato itu bakal saya bawa sampai mati. Jadi, harus punya makna yang dalam," ujar Jerinx saat ditemui di Jakarta Barat, baru-baru ini.
Karenanya, Jerinx memilih motif tato yang dianggapnya punya nilai dan makna yang dalam. Tato bertuliskan "Grand Mom", misalnya, ia toreh ditubuhnya untuk mendedikasikannya kepada sang nenek.  "Nenek saya meninggal pas ulang tahun saya, sembilan tahun yang lalu, di bulan Februari," cerita Jerinx sambil menunjukkan tato di lengan sebelah kanannya.
Terus yang lainnya?  "Yang ini adalah judul lagu country yang dibawakan lagi sama Social Distortion yang liriknya bagus banget dan menyentuh banget bagi saya. Dan, yang ini adalah buat seseorang yang sangat spesial bagi saya, Lady Rose. Saya dedikasikan buat dia," katanya.  "Lalu ada naga karena shio saya naga," tambahnya, seraya mengatakan  bahwa tato-tato itu merupakan karya seniman-seniman  tato luar dan dalam negeri.
Bahkan, Jerinx juga mengabadikan runtuhnya menara kembar WTC dalam tubuhnya. "Yang ini saya buat pas 9/11. Waktu New York dihancurkan, saya langsung bikin tato ini, karena dunia saya pikir tidak sama lagi dan ternyata dunia benar-benar berubah. Setelah itu mulai ada bom Bali dan teroris," kata Jerinx.
Melongok ke belakang, Jerinx mengaku mendapatkan tato pertamanya sejak kelas dua SMA. "Waktu itu saya baru punya band. Jadi, saya terinspirasi tato tribal-nya Anthony 'Red Hot Chili Peppers'," kenang Jerinx. "Emang waktu itu saya belum terlalu paham dengan konsep tato seperti apa, tapi saya hanya berpikir ini keren saja," sambungnya.
Pilihan tato pertamanya itu, menurut Jerinx, hanya sebatas pengin keren-kerenan saja. "Waktu itu memang lagi tren tribal. Karena belum ada internet, referensi saya dari TV sama majalah-majalah yang saya dapat di jalan. Waktu itu, cukup susah dapatin majalah luar. Akhirnya, saya baru sadar kalau tato ternyata banyak konsepnya, ada yang old school segala macam," ujarnya.
Ngomong-ngomong, apa masih berniat membuat tato baru lagi di tubuhnya? "Saya bakal tato sebuah mesin motor di perut saya. Di Sanur, ada artis tato. Namanya Kaga, yang spesialis tato black and grey. Jadi, saya rasa, kalau di perut saya ditato mesin motor itu bakal keren hasilnya," tutup Jerinx.

Source: http://entertainment.kompas.com/read/2009/10/31/e114325/kisah.tato-tato.di.tubuh.jerinx.sid

Outsiders Bukan Kelompok Anak Manja

Oleh: Jerinx

Seorang Outsider bertanya kepada saya:

Bli Jrx waktu di MTV award kok mau salaman ma personil" pee wee sih ?? Waktu itu bendera SID kan di bakar ma anak party dork .Trus lambang outsider di tiban ma party DOG .
Kan itu pelecehan bli...


Jawaban saya:

Sampai saat ini saya belum melihat dengan mata kepala sendiri kalau SID dilecehkan oleh kelompok yg kamu sebut diatas. Kalau saya melihat langsung, sudah pasti saya akan berada di garis depan untuk membela band saya sendiri.

Dunia punkrock tidak sama dgn dunia sinetron/infotainment yg penuh dgn sensasi/negatifitas murahan dgn bumbu saling fitnah tidak jelas. Daripada kamu mikirin hal2 sampah diatas, mending kamu konsen ke masalah yg sebenarnya. Kalau kalian memang punya banyak waktu dan energi untuk melawan sesuatu, kenapa tidak lawan musuh yang sebenarnya? Kebodohan, terorisme, fasisme, korupsi dan penyeragaman. Berani?

Dan kalau memang ada yg membakar bendera Outsider kenapa tidak langsung diselesaikan masalahnya waktu itu juga? Kalian lakukan apa yg harus dilakukan. Tidak harus mengadu sana sini spt bayi.

Outsider jgn sampai menjadi kelompok anak cengeng yg gemar gosip tp tdk berani berbuat apa-apa!

Interview Jrx In English 2005

1. Do you remember the first band you heard or CD you bought? What or who was it?

Jrx: Well, when I was a kid my dad used to own a very small record shop at downtown Kuta in the 80s, so I hardly buy records [CD didnt even exist yet in Indonesia]. But I remember growing up listening to Dads fave like Men At Work, Midnight Oil, Rod Stewart, Bob Marley, Roy Orbison, Gipsy Kings and some Indonesian bands/solo artists..mostly ready-to-cry pop artists that are probably die already. But when I was 15, I fell in love w/ Nirvana and all the Seattle warriors. But the first record I bought was Sepultura Chaos A.D coz I couldnt find this album in my dads shop.

2. When and why did you decide that you wanted to become a rock star?

Jrx: Funny question. I don't like the term rockstar so I prefer punkrocker or musician. And the first time I wanted to be a musician is when I was 16 . We had a hi-school party and one of my class mate was playing the drum. I was never see anyone playing drum so close and I got so amazed by the sounds and they way he played it. That hits me and from that moment I wanted to be a musician. In school I got involved in some cover bands playing Guns n Roses and Bon Jovi cos no one are into grunge at the moment. Weird.

3. Have you always been a fan of the punk genre? What do you like about punk?

Jrx: A year later [1995] when I was 17, Green Day came and open up my mind about all the youth rebellion and about being a punkrocker. I fell in love with the whole concept of being different, honest and not listening to what people say. The resistance, the alcohol, eyeliner, tattoos, wifebeater, everything.Thats when this entire roller coaster ride started. I'd never wanna be a rockstar but if people today call what I do is being a rockstar, I don't care. Me and my band know what were made of.

4. Do you consider your music a fusion of punk and rockabilly? How does rockabilly come into play in your music?

Jrx: Yes, were a blend of punkrock and a bit of rockabilly. At the beginning we dont know anything about rockabilly, until 1997 when I know found out about the Orange Countys Social Distortion. This band blew my mind and gave me bigger impact than Green Day, still until this day. I know rockabilly from their interviews and stuff. Then we try to find out about other rocka/psychobilly bands like The Reverend Horton Heat, The Cramps, Johny Cash and all that. But still, Superman Is Dead roots are punkrock. We just put rockabilly elements in our lyrics, guitars and the way we dress up, mainly. We mix it up cos we love both genres. Also we don't wanna look and sounds like an average punkrock bands.

5. What was the first punk band you heard?

Jrx: Sex Pistols, but didnt like them very much until now.

6. Who are your influences?

Jrx: Social Distortion, The Clash, Ramones, Green Day, Rancid, U.S Bombs, Tiger Army, Dropkick Murphys, NOFX, The Living End, Johny Cash, The Reverend Horton Heat, AFI, Transplants, Cypress Hill, Avenged Sevenfold, Michael Buble, Brian Setzer, Big Bad Voodoo Daddy and some Balinese/Indonesian punkrock bands.

7. Why is most of your music in English rather than Bahasa?

Jrx: Its just a habit factor. Cos mostly were listening to western bands so when we write songs, English is the first language that came up in our head. Easy and simple like that. But in our newest 6th album Black Market Love we tried to write a bit more songs in Bahasa cos we have so many important and significant massages for the generation, and we want them to understand what were singing about. We wanna show people what were made of. We wanna make some point since theres so many misunderstanding about us goin on in Indonesia. Lots of people thinks were just some punk band with tattoos that just wanna be rich and famous.

8. Do you have plans to play in North America, Europe or Australia, where some of your overseas fans are based?

Jrx: Yes we do have many, but until now it's not happening yet. We got so many offers to play overseas but it's always got canceled. Maybe it's not our luck yet. Plus it's not easy you know, for a 3rd world country band like us, who have a shitty money rate, to go travel overseas. Next year we have another offer to play in U.K, hopefully this ones for real. God please put some mercy on me.

9. Which countries outside of Asia have you played in?
Jrx: A really really empty country called None. [kidding]

10. Which artists would you like to work with?
Jrx: Mike Ness, Brian Setzer, Billie Joe Armstrong, Johny Cash, Joe Strummer, Tim Armstrong and Shaggy Dog [ska swing band from Indonesia].

11. Has the music scene in Bali and Indonesia in general changed since the bombings? How has your music and outlook on life in general changed since then?

Jrx: Yes, it brought us so much anger and frustration. Bali is never gonna be the same since the bombings. So many people got crazy, lose their jobs and the criminal statistic got higher. And as the youth of counter-culture, we have a lot of things to fight now. Fascism, ignorance, discrimination, terrorism [by east and west], religion fundamentalists & media brainwash. Were fighting for our minority rights [yes, Bali is the most minority province in Indonesia]. We want our home to be like what it used to be, but theres so many fascist-pig out there thinks that our home needs to be destroyed. That's what the Bali punkrock scene is all about now. Were sick and tired of being in the middle of this so-called religion war. We dont wanna be a part of it and we dont wanna take sides cos we think both sides are wrong. I hope U.S President Mr. George W. Bush is reading this interview. MR. BUSH, PLEASE STOP THE WAR IN IRAQ! It destroys and hurts the whole world, race and religion. You know the reason why they bombs Bali? It's cos U.S keeps bombing Iraq. They want revenge and Bali is a perfect target since there are many westerns in Bali. We Balinese really feel the impact of the war in Iraq but we got no power to resist that. We are minority in our country. We are victims for things were not. So Mr. Bush, please stop it if you got a sense of humanity.


Source: https://www.facebook.com/notes/jrx/jrx-interview-in-english-2005/199640946245

SID anti mapan?

Oleh: Jerinx

Seseorang bertanya kepada saya:

Jrx, SID tu alirannya apa? PUNK ROCK, SKA atau SKATE PUNK.... kalau PUNK kenapa memasuki media? setahu saya PUNK itu ANTI MAPAN. di jawab yah...... :)


Jwaban saya:

Pengertian kalimat 'mapan' itu sangat luas. Tunduk thd kesepakatan moral/nilai2 yg ada di masyarakat bisa dikatakan salah satu standar 'kemapanan'. Kalau dari kacamata SID anti mapan bukan harus berarti anti uang [miskin] atau anti media. Bagi SID, anti mapan juga harus bisa survive dgn cara kita sendiri.

Mengenai punk masuk media, coba kamu search di internet, sejak awal lahirnya nya punk [band2 legenda spt. sex pistols, ramones, the clash, rancid, green day, social distortion dll] mereka tidak anti media, tapi memanfaatkan media utk menyebarkan pesan2 atau movement mereka.

Memang di dunia ini ada banyak band2 punk anti media, cuma konsekwensi nya mereka cuma dikenal oleh kalangan terbatas dan pesan2 dlm lagu mereka [yang menginginkan terjadinya perubahan] menjadi tidak efektif.

Intinya, kalau serius menginginkan perubahan, kenapa harus menutup diri thd dunia luar agar mereka mendengar suaramu.


Source: https://www.facebook.com/notes/jrx/sid-anti-mapan/199664676245

Indonesia-ku yang Fanatik & Bangga

 Oleh: Jerinx

Terkait dengan bunyi status FB SID yang berbunyi "Tolong hentikan cara2 berpikir model sinetron yg penuh drama dan konflik nan tak penting. SID bukan tim sepak bola. Fanatisme berlebihan akan membunuh kalian semua. Wake up!" Tak disangka SID mendapat beberapa respon menarik yang menganggap kami menyudutkan sepakbola Indonesia dan supporter-nya.

Inilah yang terjadi jika imajinasi dan daya nalar tidak digunakan dalam mengartikan sebuah expresi.

Kami mengerti sikap fanatik itu perlu dalam menunjukkan loyalitas. Dan SID akan menghargai sikap fanatik dlm bentuk apapun [bola, musik, agama dll] asal sikap fanatik tsb tidak sampai memakan korban jiwa dan menimbulkan permusuhan antar manusia di Indonesia.

Namun apakah yg kerap terjadi di Indonesia? Semua merasa tim-nya, ras-nya, agamanya atau band idolanya paling hebat lalu dengan bangga memusuhi orang2 yang berbeda dengannya. Itu kenyataan di lapangan dan itulah yang ingin kami pertanyakan.

Perlu diingat. Konteks SID ketika berkata 'fanatisme yg berlebihan akan membunuhmu' itu dalam kerangka yg luas, bukan cuma dalam konteks supporter bola namun lebih kepada semua unsur sikap fanatisme terhadap sesuatu.

Kerusuhan2 dlm konser musik/pertandingan bola maupun kerusuhan2 yang berbau SARA semua berawal dari rasa kebersamaan/loyalitas sebuah kelompok yg berlebihan dan ujung2nya memakan korban jiwa. Bagi kami itu pola pikir yang sangat bodoh dan terbelakang. TIDAK ada manusia yang layak mati sia-sia hanya karena perbedaan selera musik/bola/agama.

Kami berkata 'SID bukan tim sepak bola' sebagai kiasan karena akhir2 ini kami melihat sikap fanatik fans SID [Outsiders] hampir berlebihan dan mendekati fanatisme supporter bola.

Terus terang kami tidak nyaman dgn situasi ini. Tujuan kami membuat band bukan untuk dipuja-puja dgn perasaan fanatik berlebihan. Kita percaya semua manusia itu sama dimata Tuhan, terlepas dari apa itu suku, agama, ras, musik atau tim sepakbola favoritnya.

Mungkin bagi anda yang kurang bisa menangkap maksud kami, intinya adalah: cukup sudah warga Indonesia saling mangsa hanya karena perbedaan2 kecil yg seharusnya tidak menjadi masalah tsb.

Bersatu. Boleh fanatik tapi saling menghargai dan berjiwa besar. Sportif.

Source: https://www.facebook.com/notes/jrx/indonesia-ku-yang-fanatik-bangga-oleh-jrx/280556601245

Sastra Is Dead

Oleh: Jerinx

Saat saya menulis note ini, saya serasa terbakar amarah, rasa tidak terima sekaligus jijik dengan rendahnya kualitas intelektual yg bertebaran congkak tanpa malu di facebook. Jika saya bisa mengalikan diri saya hingga berjumlah jutaan, ingin sekali rasanya mencari satu-satu idiot itu dirumahnya dan menampar mereka di depan ibu nya.

Sebagai seniman saya merasa kebebasan berexpresi saya hendak dilucuti, diturunkan tuk kemudian disamaratakan dengan intelektualitas 'mereka' agar 'mereka' bisa mengerti apa yg saya katakan/lakukan. Dan saya katakan: persetan! Mereka ingin saya memakai bahasa yang mudah dimengerti, ingin agar saya menafikan seni sastra dan mengatakan semuanya dengan literal. Lalu apa bedanya saya dengan seniman-seniman generik plastik yang merajai Indonesia saat ini? Kalian ingin saya menjadi seperti mereka?

Jika kalian tidak mengerti/sepenuhnya paham dengan apa yang saya tulis/katakan (di status FB, twitter, lirik lagu dll), GUNAKAN nalar & imaji mu untuk mengolahnya, atau kasarnya PAKAI OTAK! Tuhan memberi manusia otak untuk digunakan berpikir memecahkan sesuatu yang manusia tidak mengerti, otak bukan cuma untuk meminta. Jika tidak mengerti bahasa Inggris, buka kamus/internet. Perluas wawasan, perbanyak membaca.  Jangan manja lalu congkak meminta semuanya itu harus jelas ini A ini B. Ini dunia SENI, dunia yang indah karena misteri dan teka-teki nya, bukan bisnis supermarket yg semua kontrak hitam diatas putih-nya harus jelas.

Apa kalian pikir Chairil Anwar, Soe Hok Gie, WS Rendra dll HARUS menyertakan salinan maksud dari setiap puisi yang mereka tulis? Dimana HORMAT kalian untuk seni sastra?

Saya tidak pernah takut kehilangan penggemar/fans/apapun itu, jika kalian tidak suka dengan apa yang saya tulis saat ini, silakan pergi dan kutuk saya. Yang jelas, saya tidak akan pernah mau merendahkan inteletualitas diri saya demi memuaskan nalar pemalas idiot nan manja kalian!

Source: https://www.facebook.com/notes/jrx/sastra-is-dead/421809181245

Kehilangan Adalah Konsekuensi

Oleh: Jerinx

Akhir-akhir ini beberapa kali saya temui di fanpage ini komentar dari kalian yang intinya mengatakan "dulu saya menyukai JRX, tapi karena JRX sering membicarakan agama, saya jadi tidak menyukainya lagi" atau "saya menyukai JRX karena musiknya, bukan karena pandangannya tentang Tuhan"

Pada intinya, JRX yang ideal bagi 'mereka' adalah JRX yang hanya berbicara tentang musik. Jadi kalau ibaratnya saya ini petani, maka saya hanya berhak berbicara tentang sawah dan harga pupuk. Meski hak hidupnya terancam, para petani hanya boleh teriak tentang sawah dan harga pupuk. Hebat sekali Indonesia ini.

Mereka lupa. Selain musisi, saya juga MANUSIA.

Dan perlu saya tegaskan, saya TIDAK PERNAH membicarakan suatu agama. Saya tidak pernah menyerang suatu agama karena bagi saya, semua agama itu sama dan sejajar. Sama-sama mengajarkan kebaikan dan mencari kedamaian. Yang saya bicarakan adalah SIKAP MANUSIA yang kejam dan sombong dalam MENERJEMAHKAN agama.

Ini tentang manusia nya, bukan tentang agama nya. Ini bukan tentang kesalahan agama, ini tentang kesalahan manusia dalam menerjemahkan agama.

Bagi saya ini cukup menarik, sedikit ironis malah. Di Indonesia yang 'katanya' beragam, religius dan sopan ini, ternyata masih ada anak-anak muda yang over-sensitif setiap kali diajak membicarakan hal-hal yang berbau agama. Alasan mereka kebanyakan "jangan membicarakan agama, nanti ada yang tersinggung" dan ya, memang benar banyak yang tersinggung lalu tanpa dasar kuat menuduh saya memojokkan agama tertentu. Di dunia maya, kebencian cepat sekali menular. Begitu gampang utk menjadi 'pahlawan agama' di dunia maya. Ketika beberapa kali saya tanya apa buktinya saya memojokkan agama, mereka berkata "dari statu-status anda, saya menangkap pesan kalau anda anti agama tertentu"

Disinilah masalahnya. Prasangka diatas segalanya. Prasangka adalah kebenaran bagi mereka. Dan karena sikap over-sensitif itu, mereka lebih memilih percaya dengan prasangka ketimbang percaya dengan kebenaran. Mereka menutup mata terhadap fakta bahwa prasangka mereka dibangun atas dasar keterbatasan wawasan/ilmu dalam menerjemahkan opini saya.

Jadi jelas sudah, mereka-mereka yang salah menerjemahkan agama nya, akan selalu salah dalam menerjemahkan apapun yang berbau agama. Ketika memasuki wilayah agama, mereka hanya memiliki kebencian, curiga dan naluri memusnahkan siapa saja yg mereka anggap "musuh". Sekali lagi, prasangka diatas kebenaran.

Disini saya sadar, bahwa selama ini yang menyukai saya/SID belum tentu mengerti akan lirik/esensi/pesan dari lagu-lagu SID. Disini juga saya sadar bahwa inilah yang kita sebut sebagai seleksi alam untuk menentukan siapa yang layak siapa yang tidak. Dan saya manusia yang cukup sadar dan tahu diri bahwa saya terlahir bukan untuk menjadi penjilat yang bisa menyenangkan hati semua orang.

Dalam kasus ini, saya melihat kehilangan penggemar/simpatisan adalah konsekwensi dalam usaha saya untuk menjadi seorang warga negara Indonesia yang menolak keras diskriminasi dan kekerasan atas dasar SARA.

Dan saya tidak pernah takut atas konsekwensi ini, karena saya/SID percaya diluar sana ada lebih banyak anak muda dengan pemikiran bersih yang -terlepas dari mereka suka musik SID atau tidak- lebih memilih percaya terhadap kemanusian, keadilan dan kebenaran.


Source: https://www.facebook.com/notes/jrx/kehilangan-adalah-konsekuensi/502153411245

Kamis, 21 Februari 2013

Biografi Jerinx

 I Gede Ari Astina, lahir di Kuta, 10 Februari 1977,sekarang berusia 33 tahun. Di grup Superman Is Dead, Jerinx memainkan instrumen drum. Jerinx terkenal karena teknik bermain drumnya yang menggunakan speed tinggi dan skill tinggi pula.


Jerinx, menyimpan filosofi di balik tato-tato yang melekat di tubuhnya. Sadar bahwa tato merupakan sesuatu yang krusial, Jerinx tak mau asal menaruh gambar tanpa makna dan nilai apa-apa. Dia berujar bila tato itu bakal dibawa sampai mati. Jadi, harus punya makna yang dalam.

Tato yang ada di badan Bli Jerinx antara lain :

1.Tato bertuliskan "Grand Mom" di lengan kanan ia toreh ditubuhnya untuk mendedikasikannya kepada sang nenek.
2. Judul lagu country yang dibawakan lagi sama Social Distortion yang liriknya bagus dan menyentuh banget bagi saya. Ditato di perut.
3. Tato Lady Rose, yang didedikasikan orang yang sangat berarti dan berharga bagi Jerinx .
4. Tato naga yang berarti bahwa Jerinx ber-shio naga.
5. Bahkan, Jerinx juga mengabadikan runtuhnya menara kembar WTC dalam tubuhnya.


Dimata saya sebagai fans SID, lebih dari seorang drummer, Jerinx adalah seseorang yang berwawasan dan berpandangan sangat luas dalam berbagai hal. Baik itu soal musik, sosial, bahkan sampai masalah agama sekalipun. Hal tersebut dapat dilihat dari twitter bli Jerinx.


Jernix pernah membuat sebuah pernyataan yang membuat saya semakin kagum dengan SID umumnya, khususnya sosok Jerinx.
Pernyataan tersebut adalah "Kami sama sekali tidak pernah melakukan lipsync atau playback di stasiun TV manapun. Yang kadang kami lakukan selama ini adalah teknik minus one,"

Selanjutnya, Jerinx juga menegaskan, jika penampilan mereka sepenuhnya ditujukan untuk fans.
"Jika tidak suka melihat SID tampil minus one, matikan saja TV nya, beres. Yang jelas ada berjuta-juta remaja di pelosok Indonesia yang akhirnya bisa mengenal dan meresapi pesan yang kami sebarkan lewat TV,"
"Dan bagi kami itu jauh lebih penting daripada hanya ingin 'terdengar' sangar dan idealis. Itu tidak akan merubah apa-apa,"



Itulah beberapa pernyataan Jerinx yang bikin saya kagum jon.
Oh iya, selain SID, Jerinx juga punya band lagi jon, namanya Devildice, ini dia beberapa penampakannya :

Tetapi ada sedikit ganjalan dari band Devildice ini, karena salah satu personil (bassist) juga pendiri yaitu Kuzz keluar karena alasan ingin fokus terhadap keluarganya. Tapi keberadaannya sudah digantikan oleh @leo_sinatra, mantan gitaris Suicidal Sinatra.