Yab Sarpote:
Bli
JRX aku kepengen diskusi soal mapan dan anti-mapan, bli. 'Main aman'
dalam status bli ini dalam konteks kasus apa, bli? Bukankah (misalnya)
dalam konteks konflik antara musik indie yang menolak mengkomodifikasi
karyanya dalam sistem kapitalis dengan korporasi industri musik semacam
Sony yang jelas mengkomodifikasi karya dan mengambil untung besar dari
karya tersebut, pilihan bli dan kawan-kawan SID dengan bergabung ke
industri musik itu bisa dikategorikan 'cari aman' atau pilihan 'mapan',
bli? Dalam hal ini, konflik dengan korporasi industri ini dihindari
dengan bergabungnya temen2 SID ke korporasi musik.. Ya, semacam "Rebel
Sell" begitu.
Saya:
Sony tidak mendapat
banyak profit dari SID karena: 1. Tidak seperti artis Sony yg lain,
manajemen SID tidak harus membayar royalty dari konser/merchandise SID.
Kami masih memakai kontrak lama (2003). 2. Satu2nya sumber pendapatan
Sony dari SID adalah dari penjualan CD. Dan dijaman pembajakan/ilegal
downloading ini, penjualan CD menurun sangat2 drastis. 3. Mencari aman
bukanlah alasan SID bergabung dgn Sony, alasan kami adalah utk
memperluas distribusi album (keputusan ini diambil sebelum era
pembajakan/ilegal downloading) karena kami merasakan memproduksi 3 album
pakai uang sendiri dan distribusi-nya sangat terbatas. Dan bagusnya
Sony sepakat utk tidak mencampuri urusan berkesenian kami. Apa salahnya?
Intinya begini, SID tidak dimanfaatkan oleh label, tapi SID yg
memanfaatkan label. Dan hal-hal ini tentu saja tidak banyak diketahui
publik kan? Dan itu masuk akal karena saya akui 99% artis major label
Indonesia memang 'diatur dan diperas' oleh labelnya. Saya gak
menyalahkan mayoritas yg berpikir SID juga 'diatur/diperas' oleh label.
Kesimpulan tsb mereka ambil dari fakta bahwa band-band major memang
kebanyakan demikian. Tapi ingat sekali lagi, SID bukanlah band yg umum.
Tak ada yg menyamai kami. Secara musik maupun movement. Kami banyak
melakukan hal-hal yg belum pernah dilakukan band lain di Indonesia. Kami
hidup di Bali, kami tidak stay di Ibukota. Pola pikir kami bukan pola
pikir mesin. Terima kasih.
Source: Facebook
Tampilkan postingan dengan label Superman Is Dead. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Superman Is Dead. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Februari 2014
Jumat, 23 Agustus 2013
Superman Is Dead Rayakan Ulang Tahun Ke-18
TEMPO.CO, Jakarta - Band punk rock asal Bali, Superman is Dead (SID)
baru saja merayakan ulang tahun yang ke-18, pada 18 Agustus 2013 lalu.
Para personilnya merayakan ulang tahun ke-18 ini dengan cara yang
spesial, karena belum pernah dilakukan sebelumnya."Kita merekam lagu bersama dengan musisi Bali lainnya, yang bertema m
elawan penguasa," ujar Jerinx, salah satu personel SID ditemui di Soehanna Hall, Jakarta, Rabu 21 Agustus 2013.
Hal ini dilakukan sebagai penolakan reklamasi laut di selatan Bali, yang telah disetujui oleh Gubernur Made Mangku Pastika. Menurut SID, --dan juga sebagian warga Bali lainnya-- reklamasi itu hanyalah proyek akal-akalan semata.
"Jelas itu akal-akalan, sudah banyak buktinya dan jelas banget cacat, mereka mau mereklamasi laut seluas 883 hektare," ujar Jerinx menjelaskan. Untuk itu, sebagai bentuk penolakan SID merekam lagu berjudul `Bali Tolak Reklamasi`. "Hari ini sudah bisa diunduh dan besok video sudah bisa dilihat," ujarnya.
Ulang tahun kali ini SID merayakan ulang tahunnya dengan istimewa, karena merayakan dengan sebuah penolakan. "Kita merayakannya dengan melakukan sebuah perlawanan, itu istimewa kan?" kata Jerinx menutup komentarnya.
Sebelumnya pada awal Agustus 2013 lalu ratusan warga juga telah melakukan demo penolakan rencana reklamasi laut. Para warga melakukan unjuk rasa di tengah laut Tanjung Benoa, Badung, Bali.
Sumber:Yahoo!
Label:
Bobby Kool,
Catatan,
Eka Rock,
Jrx,
Superman Is Dead
SID Tak Sabar "Muntahkan" 17 Lagu Baru
JAKARTA, KOMPAS.com — Tak lama lagi band punk rock asal Bali, Superman Is Dead (SID), akan merilis album terbaru mereka. Album itu direkam ketika grup yang terdiri dari Bobby Kool (vokal), Eka Rock (bas), dan Jerinx atau Jrx (drum) tersebut masih berusia 17 tahun pada 2012. Dijanjikan oleh SID, paling tidak, pada Oktober 2013, album mereka sudah beredar secara digital dan fisik.
"Full album akan keluar bulan Oktober dan beberapa lagu sudah kami bawakan di konser-konser di daerah," ujar Eka dalam wawancara usai manggung dalam Konser Kemerdekaan Republik Indonesia, yang digelar di Soehana Hall, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2013).
Sesuai usia SID ketika merekam album itu, 17 tahun, jumlah lagu baru yang akan mengisi album tersebut adalah 17 lagu. "Kami memiliki 17 lagu karena saat rekaman itu SID berusia 17 tahun. Kalau sekarang sih sudah 18 tahun," cerita Bobby.
Ketika itu, SID hanya menghabiskan waktu tiga bulan untuk merekam semua lagu tersebut. "Itu total berdurasi 67 menit sekian untuk 17 lagu," kata Jerinx. "Kalau take drum sih cuma sehari," sambung Bobby dengan canda disambut tawa kedua rekannya.
Bocorannya, SID memilih lagu-lagu bertema cinta dan perlawanan. "Temanya cinta dan perlawanan, ada juga motivasi, ya, dan kira-kira 40 persen liriknya bahasa Inggris," jelas Bobby.
SID mengaku tak sabar untuk segera "memuntahkan" 17 lagu baru itu. Salah satunya, "Jadilah Legenda", menjadi single pertama album tersebut. "Sebenarnya album ini sudah keluar tahun lalu. Cuma Sony Music (perusahaan rekaman yang menaungi SID) sangat excited sama kami. Jadi, mereka sangat hati-hati merilisnya agar nanti daya ledaknya maksimal," kata Jerinx.
Sumber: Kompas
Label:
Bobby Kool,
Catatan,
Eka Rock,
Jrx,
Superman Is Dead
Superman Is Dead: Nasionalisme Nggak Harus Kibarkan Bendera!

Kapanlagi.com - Bagi Superman Is Dead, rasa nasionalis tak sekedar hanya mengibarkan bendera sang saka merah putih, tetapi juga harus bisa memberikan bukti nyata dalam kehidupan.
"Nasionalisme gak harus mengibarkan bendera, tidak harus pakai batik ke mana-mana. Buat saya, apa yang kamu lakukan secara langsung, berikan impact positif, dengan menjaga lingkungan, peduli ekologi itu sudah bentuk nasionalisme," ujar Eka Rock di AXA Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/8).
Band asal Bali itu melihat masih banyak masyarakat yang belum peduli dengan lingkungan. Maka dari itu band yang digawangi Bobby Kool, Eka Rock dan Jerinx itu berharap agar masyarakat peduli dengan lingkungan.
"Perbaiki diri dan lingkungan, sekarang kita jaga sekitar kita aja, apakah lingkungan kita sudah bersih," kata Eka.
"Musuh kita masih banyak, yang nggak keliatan, kita harus menyadarkan diri kita sendiri dari lingkungan," timpal Jerinx.
Source: KapanLagi
Label:
Bobby Kool,
Catatan,
Eka Rock,
Jrx,
Superman Is Dead
Rabu, 26 Juni 2013
Sabtu, 18 Mei 2013
Lirik Lagu Superman Is Dead - Suara Dalam Menara
Aku adalah malaikat kematian
Aku adalah durjana senja
Tanpa namaku bermakna ditepian badai
Kulukiskan namamu cinta
Akulah suara wuohohohoooooo
Dalam menara wuohohohoooooo
Bernafaskan api terjadilah peristiwa
Yang terlena dalam bencana
Menangislah di surga berperanglah dineraka
Aku gelegar yang tak terdengar
Akulah suara wuohohohoooooo
Dalam menara wuohohohoooooo
Dan setiap badai kan temani murkamu cinta
Dan setiap langit kan hujani rindu mu cinta
Hingga menghitam semesta.
Ku adalah cinta
Ku adalah sakit
Ku adalah dendam
Ku adalah kasih
Aku adalah malaikat kematian
Aku adalah durjana senja
Tanpa namaku bermakna ditepian badai
Kulukiskan namamu cinta
Akulah suara wuohohohoooooo
Dalam menara wuohohohoooooo
Dan setiap langit kan temani murkamu cinta
Dan setiap badai kan hujani rindu mu cinta
Hingga menghitam semesta.
Ku adalah cinta
Ku adalah sakit
Ku adalah dendam
Ku adalah kasih
Aku adalah durjana senja
Tanpa namaku bermakna ditepian badai
Kulukiskan namamu cinta
Akulah suara wuohohohoooooo
Dalam menara wuohohohoooooo
Bernafaskan api terjadilah peristiwa
Yang terlena dalam bencana
Menangislah di surga berperanglah dineraka
Aku gelegar yang tak terdengar
Akulah suara wuohohohoooooo
Dalam menara wuohohohoooooo
Dan setiap badai kan temani murkamu cinta
Dan setiap langit kan hujani rindu mu cinta
Hingga menghitam semesta.
Ku adalah cinta
Ku adalah sakit
Ku adalah dendam
Ku adalah kasih
Aku adalah malaikat kematian
Aku adalah durjana senja
Tanpa namaku bermakna ditepian badai
Kulukiskan namamu cinta
Akulah suara wuohohohoooooo
Dalam menara wuohohohoooooo
Dan setiap langit kan temani murkamu cinta
Dan setiap badai kan hujani rindu mu cinta
Hingga menghitam semesta.
Ku adalah cinta
Ku adalah sakit
Ku adalah dendam
Ku adalah kasih
Label:
Lirik Lagu,
Superman Is Dead
Lirik Lagu Superman Is Dead - Bulan Dan Ksatria
Song : Bobby Kool
Words : JRX
Jejak dendam perih meraksasa di angkasa
Akan cinta yang besar dan terhalang durjana
Manusia melacurkan diri di istana
Namun tak demikian dengan Bulan Ksatria
Kekuatan cinta kan beri dia mahkota
Bulan merana jingga hapus air matamu
Ksatria datang dengan bendera tanpa pedang
Di detik ini cinta adalah kebenaran
Tinggi menjulang, menembus peradaban
Melewati waktu melawan pembenaran
Dan kini Bulan menantikan gemilang
Tangis, air matanya tlah hilang
Derap kuda Ksatria gagah dekati surga
Walau neraka berjanji tuk menghabisinya
Di pintu istana Bulan merajah hatinya
Tuk tinggalkan raja, hakim dan khianat semesta
Kekuatan cinta kan beri dia mahkota
Bulan merana jingga hapus air matamu
Ksatria datang dengan bendera tanpa pedang
Di detik ini cinta adalah kebenaran
Tinggi menjulang, menembus peradaban
Melewati waktu melawan pembenaran
Dan kini Bulan menantikan gemilang
Tangis, air matanya tlah hilang
Menuju kemenangan, dan cinta dikumandangkan
Menuju kata hati, dan terbakarlah semua kebencian!
Label:
Lirik Lagu,
Superman Is Dead
Lirik lagu Superman Is Dead - Sunset Di Tanah Anarki
Andaiku malaikat, kupotong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu
Perang kan berakhir, cinta kan abadi, di tanah anarki romansa terjadi
Desing peluru tak bertuan, hari-hari yang tak benderang
Setiap detik nyawa ini kupertahankan untukmu
Alasanku ada di sini, dan parasmu yang kurindukan
Di neraka kan kumenangkan, hariku bersamamu
Andaiku malaikat, kupotong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu
Perang kan berakhir, cinta kan abadi, di tanah anarki romansa terjadi
Dalam gelisahku menunggu, berita tentang gerilyamu
Semerbak rindu kuasai udara panas ini
Sepucuk surat telah tiba, dan senja pun ikut berdebar
Kalimat indah dan kisahmu tentang perang dan cinta
Andaiku malaikat, kupotong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu
Perang kan berakhir, cinta kan abadi, di tanah anarki romansa terjadi
Kubasuh luka dengan air mata
Oh hatimu beku, serta jiwamu yang lelah
Tak henti lawan dunia dengan mimpi besar untuk cinta
Dan jalanmu tuk pulang, di ujung waktu kan ada cahaya
Itulah aku, raihlah mimpimu
Andaiku malaikat, kupotong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu
Perang kan berakhir, cinta kan abadi, di tanah anarki romansa terjadi
Itulah aku, raihlah mimpimu
Perang kan berakhir, cinta kan abadi, di tanah anarki romansa terjadi
Desing peluru tak bertuan, hari-hari yang tak benderang
Setiap detik nyawa ini kupertahankan untukmu
Alasanku ada di sini, dan parasmu yang kurindukan
Di neraka kan kumenangkan, hariku bersamamu
Andaiku malaikat, kupotong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu
Perang kan berakhir, cinta kan abadi, di tanah anarki romansa terjadi
Dalam gelisahku menunggu, berita tentang gerilyamu
Semerbak rindu kuasai udara panas ini
Sepucuk surat telah tiba, dan senja pun ikut berdebar
Kalimat indah dan kisahmu tentang perang dan cinta
Andaiku malaikat, kupotong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu
Perang kan berakhir, cinta kan abadi, di tanah anarki romansa terjadi
Kubasuh luka dengan air mata
Oh hatimu beku, serta jiwamu yang lelah
Tak henti lawan dunia dengan mimpi besar untuk cinta
Dan jalanmu tuk pulang, di ujung waktu kan ada cahaya
Itulah aku, raihlah mimpimu
Andaiku malaikat, kupotong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu
Perang kan berakhir, cinta kan abadi, di tanah anarki romansa terjadi
Itulah aku, raihlah mimpimu
Label:
Lirik Lagu,
Superman Is Dead
Kamis, 02 Mei 2013
Sabtu, 23 Maret 2013
Interview SID dengan Rolling Stone Indonesia
1. Kalian menjadi band Asia pertama yang tampil di Vans Warped Tour. Apa komentar kalian, dan atraksi apa saja yang kalian siapkan untuk itu?
Sebenarnya kita bukan band Asia pertama yang tampil di Warped Tour. SID adalah band Asia kedua, tapi kita adalah band Asia pertama yang walaupun tidak merilis album di Amerika tapi tampil di Warped Tour. Sebelumnya [tahun 2003] ada band punkrock dari Beijing yang sempat tampil di Warped namun album mereka sebelumya dirilis oleh label Amerika dan mereka dibawa ke Warped oleh labelnya. Perasaan kita sejauh ini sangat excited dan ada sedikit perasaan tegang juga, this a big chapter for us and one of our biggest dream. Karena waktu kita tampil per show di Warped hanya 20 menit, kita akan menyiapkan repertoar tanpa ampun. Hajar sejak awal, tanpa jeda, dan pergi pada saat yang tepat. Dengan waktu yang singkat kita akan coba meninggalkan kesan yang tajam menusuk. Atraksi khusus sejauh ini belum ada yang kita siapkan,-selain memasang bendera Merah Putih di stage- mungkin kita akan memakai pakaian adat Bali sambil bawa keris? Haha...we'll see how it goes....
2. Di sana kalian akan menjalani tur. Hal apa yang paling menyenangkan dan menyebalkan dari sebuah tur?
Berkaca dari tour kita di Australia, yang paling menyenangkan adalah ketika kita berada diatas panggung dan melihat ekspresi para penonton yang sebelumnya seperti underestimate terhadap SID namun perlahan mulai menangkap energi yang kita lemparkan. Dan pada akhirnya semua ikut berpesta dengan SID ditemani stage dive dan mosh yang mereka ciptakan. That feeling is priceless. Selain itu mencicipi rasa bir yang berbeda-beda disetiap state and making new friends selalu menjadi hal yang menyenangkan. Biasanya banyal hal-hal adventurous dan unpredictable terjadi with our new friends. Haha. Yang paling menyebalkan mungkin pada saat kita lelah atau sakit disertai massive hangover. But mostly it's fun coz we're doing what we love...
3. Energi apa yang ingin ditonjolkan dari album Angels and the Outsiders?
Positivity, kerja keras dan semangat unity in diversity a.k.a Bhinneka Tunggal Ika.
4. Apa saja hal favorit kalian di album ini?
Selain cover nya yang kita anggap the best abum cover since The Clash's London Calling, kita menyukai the fact that SID tidak harus selalu bermain up-tempo untuk tetap menyalakan api pemberontakan. Dengan bermain mid-tempo pesan kita tetap tersampaikan dengan utuh. Album ini bisa disebut sebagai a mind opener untuk generasi yang menganggap punkrock harus selalu bermain cepat dan penuh distorsi. Ibaratnya, kita tidak harus memelihara anjing pitbull untuk merasa menjadi seorang lelaki. There's so many other dangerous things than a pitbull. This album is a statement that punkrock is already in our blood so we don't need to be pretentious and showing it with too much speed and distortion. We know what we're made of.
5. Kalau ada orang yang baru pertama kali mendengar SID, apa wejangan kalian terhadapnya, dan sebaiknya dia memulai dengan mendengarkan album yang mana?
Start it with Black Market Love, karena di album ini SID mulai menemukan bentuk pemikiran yang nantinya menjadi fondasi musik dan attitude kita sampai sejauh ini. Perpaduan esensi amarah punkrock, kebrandalan rockabilly, outlaw love songs dan being the real minority in Indonesia. That's SID dan Black Market Love merangkumnya dengan seimbang. Our suggestion to our first listener will be "Go grab a beer and kiss the mainstream world goodbye!"
6. Kalian tidak takut bereksperimen dan memasukkan hal-hal baru. Bagi kalian, seberapa penting menjaga keterbukaan dalam bermusik?
Honestly, musically nothing is new in this world. Everything has been done. That's why hal-hal baru yang kita masukkan juga selalu kita jaga agar tidak menjadi dominan dan benang merah SID tetap terlihat. Kami selalu berexperimen tapi tidak sampai ke level 'too much'. We're not The Mars Volta, we're a punkrock band so esensi yang kita pegang teguh adalah etika 'in your face'. Straightforward, tidak banyak basa basi atau bermain-main dengan dimensi. Sometime less is more.
7. Berdiri selama lebih dari 10 tahun dengan personal yang sama sudah merupakan suatu prestasi membanggakan untuk sebuah band. Apakah ini berlaku juga untuk kalian? Apa tantangan yang paling besar dalam mempertahankan SID selama ini?
Kita merasa it's just the beginning of SID. Kita baru saja terlahir kembali dengan album Angels and The Outsiders dan jalan kita masih sangat panjang. 14 tahun mungkin bukan waktu yang singkat namun kami masih terus belajar. Belajar bagaimana menundukkan industri musik Indonesia, belajar bagaimana menerjemahkan isi kepala dan hati kita dengan lebih utuh tanpa bias agar pendengar juga bisa menerjemahkannya dengan benar. Dalam tubuh SID sendiri saat ini kita tidak menemukan masalah yang signifikan untuk menjaga keutuhan band. Tantangan terbesar justru datangnya dari industri musik Indonesia dimana kita kadang dihadapkan dengan sebuah tembok besar bernama diskriminasi. Hal-hal seperti itu yang kadang membat kita drop, namun kadang juga memberi motivasi untuk lebih keras lagi menampar wajah industri musik Indonesia, dengan prestasi dan hal-hal positif tentunya.
8. Musik Indonesia saat ini dihuni band-band yang seragam. Apakah kalian melihat itu sebagai tantangan, sesuatu yang harus hilang, atau itu justru tidak masuk dalam perhatian kalian?
Bagi SID itu sebuah tantangan besar yang harus ditaklukkan. Kita ini bagaikan semut yang melawan gajah, namun semutnya percaya diri karena punya karma dan strategi yang bagus. Situasi industri musik Indonesia inilah yang membuat kita tertantang untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa musisi Indonesia sebenarnya tidak seragam. Dan sebenarnya terlihat seragam karena band-band yang muncul di TV/media adalah band-band yang itu itu saja. Hasil survei statistik amatir versi SID: di Indonesia jumlah band yang memainkan musik-musik cutting edge lebih banyak daripada band-band komersial. Lalu kenapa band komersial yang selalu dominan di media-media? Itulah yang sedang kita pelajari formula nya, kita mencoba dalami trik-trik bisnis nya tanpa mengorbankan idealisme dan sikap hidup. Kita percaya -apalagi dengan fanbase Outsiders yang bertambah kuat setiap detik- jika serius kita pasti bisa menaklukkan sang gajah industri.
9. Kalian berbicara tentang hal-hal yang 'rumit' melalui musik, seperti menentang perang, kesetaraan, sampai Bhinneka Tunggal Ika. Apakah pernah merasakan kesulitan dalam melakukannya? Jika ya, apa saja dan bagaimana mengatasinya?
Hal-hal yang kita suarakan sebenarnya bukanlah hal-hal yang rumit. It's all real. Itu semua terjadi setiap saat disekitar kita, secara langsung maupun tidak. Cuma masalahnya sekarang apakah kita mau membicarakannya? Kita percaya sebuah issue akan bisa menjadi sedikit teratasi dan mulai menemukan solusi disaat kita mulai terbiasa membicarakannya. Contohnya issue HIV dan Global Warming, masyarakat kita sekarang sudah jauh lebih terbuka dan educated tentang issue-issue tersebut. Mungkin suatu saat, hal yang sama akan terjadi dalam issue kesetaraan, SARA yang -mudah-mudahan- nantinya bisa memberi impact positif dalam kehidupan kita di Indonesia yang multi-kultural. Kami sadar, kami ini hanya sebuah band dan pesan-pesan kita tidak akan bisa merubah dunia seperti yang kita bayangkan. Kami tahu banyak musisi lain melihat apa yang kita lakukan ini tidak efektif. Buat apa musisi bicara tentang kesetaraan, perdamaian? Useless! Sudah sana cari duit saja, main aman, nyanyi cinta, kalian tidak akan bisa merubah Indonesia. And you know what? We don't give a flying fuck about what you think of us. We're rebels and we like to take some risk. Kita tidak mengklaim diri kita lebih baik daripada orang lain, tapi SID mencintai Indonesia dan ingin melakukan sesuatu yang positif untuk pemikiran generasi muda bangsa ini. Bagi SID, rasa ketidak pedulian tidak akan membawa kita kemana-mana. Menjadi peduli adalah tindakan yang bernyali. Karena kita punya musik, maka musik lah yang kita pakai sebagai senjata. Kita tidak pernah menemukan kesulitan besar karena kami nyaman dengan apa yang kami lakukan. Kami nyaman berada di posisi ini: sebuah band minoritas dengan fanbase kuat yang tidak takut menjadi dirinya dan selalu berpesta keras untuk Bhinneka Tunggal Ika. Does that sounds familiar di Indonesia? No. Hell no.
10. Apakah kalian merasa harus selalu memasukkan pesan dalam musik kalian?
Tidak juga. Ada beberapa lagu SID yang bercerita tentang hal-hal ringan selain hal 'rumit' diatas. Namun bagi kita semua lagu pasti ada pesannya. Entah itu krusial atau tidak, tergantung dari perspektif dan background pendengarnya.
11. Apa hal yang paling ingin kalian lakukan, tapi belum kesampaian?
Membuat video klip 'Memories of Rose' yang di sutradarai oleh Garin Nugroho dan memakai Christine Hakim sebagai model-nya.
12. Band/musisi apa yang sedang gemar didengar?
Bobby Kool: The Living End, NOFX, AFI, AC/DC, Dave Matthews Band, No Use For A Name.
Eka Rock: The Living End, AC/DC, AFI, Helltrain, Paul Anka, No Use For A Name.
Jrx: The Gaslight Anthem, Bruce Springsteen, Everlast, Social Distortion, Tiger Army.
13. Setelah berdiri selama ini, pencapaian apa yang paling membuat kalian bangga?
Melewati 14 tahun dengan punkrock dan personel yang sama membuat kami merasa kuat. Namun melihat peta kekuatan Outsiders di Indonesia yang berkembang pesat dan makin kuat membuat kami bangga dan percaya diri. Mereka adalah refleksi SID terhadap sikap masyarakat mainstream. Walaupun kami minoritas, kami makin kuat dan tidak pernah sendiri...
14. SID adalah ikon musik Bali. Setujukah Anda dengan pernyataan itu?
Mungkin lebih tepatnya sebagai 'salah satu' ikon musik Bali. Dan lebih tepat lagi kalau SID adalah Ikon Berandalan Bali. Hahaha.
15. Kalian ingin dikenang sebagai apa?
Band yang membuat orang tua dan pacar anda resah.

12 pages of maximum rock n roll with SID!
Label:
Interview,
Superman Is Dead
SID vs Dunia
Oleh: Superman Is Dead
Well, sebuah berita gembira baru saja menghampiri Indonesia. Pengakuan tak terbantahkan datang dari Billboard, sebuah media musik maha kredibel dari Amerika Serikat, negara yang -suka atau tidak- masih relevan disebut sebagai 'penentu arah' dunia hiburan global.
SID masuk dalam daftar 50 Artis Billboard Uncharted. Menurut data yang didapat Billboard melalui program research dan seleksi nya, SID terbukti memiliki fanbase dengan tingkat interaksi, intensitas dan loyalitas tinggi.
Perlu dicatat bahwa di Billboard Uncharted, SID bersaing dengan band/musisi dari seluruh dunia. Inilah persaingan global yang sebenarnya.
Masuknya SID ke dalam daftar ini otomatis menjadi sebuah pengakuan solid bahwa Indonesia memiliki potensi seni modern. Bahwa Indonesia layak diperhitungkan. Pengakuan bahwa Indonesia bisa.
Dan kami, SID, sangat bangga bisa menjadi alasan kenapa pengakuan itu hinggap disini, di negara ketiga ini.
Tentu saja ini semua tidak akan terjadi tanpa kerjasama, baik secara langsung ataupun tidak. Analogi nya, SID meletupkan api, para pemberontak menyalakan obor dan berlarian membawa bara dari Sabang sampai Merauke, sampai ke negara seberang dan tersiar hingga pelosok dunia.
Karena itu, rasa terima kasih terdalam kami untuk kesetiaan tiada henti para loyalis SID (Outsiders/LadyRose). Kami sangat percaya, kalian adalah api-api kecil yang suatu saat akan membakar kemunduran di negeri ini. Dan selama kalian ada, api ini tidak akan pernah padam.
Juga rasa terima kasih yang tulus kami untuk para simpatisan, oposan dan (sedikit) media/jurnalis yang bisa mengapresiasi, membaca dan membahasakan SID dengan adil.
Semua ini tidak akan terjadi tanpa eksistensi cinta, rasa benci dan rindu kalian.
Kami berharap pengakuan besar ini bisa memberi sinar di wajah muram Indonesia dan memotivasi para anak bangsa untuk bangkit, merobohkan semua tembok penjara dan menjadi legenda di wilayah kerja nya masing-masing.
Kemenangan ini adalah hasil kerja keras kita semua, anak-anak muda Indonesia, yang tanpa pernah lelah meneriakkan rasa cinta dan cita-cita nya untuk perubahan yang lebih baik di negeri ini.
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-vs-dunia/10150125608900589
Well, sebuah berita gembira baru saja menghampiri Indonesia. Pengakuan tak terbantahkan datang dari Billboard, sebuah media musik maha kredibel dari Amerika Serikat, negara yang -suka atau tidak- masih relevan disebut sebagai 'penentu arah' dunia hiburan global.
SID masuk dalam daftar 50 Artis Billboard Uncharted. Menurut data yang didapat Billboard melalui program research dan seleksi nya, SID terbukti memiliki fanbase dengan tingkat interaksi, intensitas dan loyalitas tinggi.
Perlu dicatat bahwa di Billboard Uncharted, SID bersaing dengan band/musisi dari seluruh dunia. Inilah persaingan global yang sebenarnya.
Masuknya SID ke dalam daftar ini otomatis menjadi sebuah pengakuan solid bahwa Indonesia memiliki potensi seni modern. Bahwa Indonesia layak diperhitungkan. Pengakuan bahwa Indonesia bisa.
Dan kami, SID, sangat bangga bisa menjadi alasan kenapa pengakuan itu hinggap disini, di negara ketiga ini.
Tentu saja ini semua tidak akan terjadi tanpa kerjasama, baik secara langsung ataupun tidak. Analogi nya, SID meletupkan api, para pemberontak menyalakan obor dan berlarian membawa bara dari Sabang sampai Merauke, sampai ke negara seberang dan tersiar hingga pelosok dunia.
Karena itu, rasa terima kasih terdalam kami untuk kesetiaan tiada henti para loyalis SID (Outsiders/LadyRose). Kami sangat percaya, kalian adalah api-api kecil yang suatu saat akan membakar kemunduran di negeri ini. Dan selama kalian ada, api ini tidak akan pernah padam.
Juga rasa terima kasih yang tulus kami untuk para simpatisan, oposan dan (sedikit) media/jurnalis yang bisa mengapresiasi, membaca dan membahasakan SID dengan adil.
Semua ini tidak akan terjadi tanpa eksistensi cinta, rasa benci dan rindu kalian.
Kami berharap pengakuan besar ini bisa memberi sinar di wajah muram Indonesia dan memotivasi para anak bangsa untuk bangkit, merobohkan semua tembok penjara dan menjadi legenda di wilayah kerja nya masing-masing.
Kemenangan ini adalah hasil kerja keras kita semua, anak-anak muda Indonesia, yang tanpa pernah lelah meneriakkan rasa cinta dan cita-cita nya untuk perubahan yang lebih baik di negeri ini.
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-vs-dunia/10150125608900589
Label:
Catatan,
Superman Is Dead
SID American Tour Diary 3
Oleh: Superman Is Dead
5 Juli 2009, Dallas, TX.
Naskleng telat nok! Gara-gara ada masalah dengan GPS [alat bantu penentu arah yang terhubung dengan satelit] di van sewaan, kami sempat tersesat dan telat tiba di venue. Kami seharusnya naik jam 11.15 siang namun tiba di venue jam 11.25. Dari parkiran kita berlari [sambil menenteng gitar, drum dll] ke stage dan langsung set alat. Tak diduga jumlah penonton lumayan rame, kami pun bermain dengan semangat walaupun Bobby belum sempat melumuri rambutnya dengan hairwax. Karena telat kami hanya membawakan 3 lagu namun sambutan crowd amat bagus dan penjualan CD pun lancar.
Salah satu pembeli adalah seorang tattoo artis lokal yang hanya memiliki satu buah tattoo, hehe. Kelar di panggung, kami antri makan siang seperti biasa, keliling-keliling sebentar lalu mewawancarai band Born To Lose [Texas] sebelum akhirnya cabut menuju Memphis, Tennessee [7 jam]. Kita akan menginap di Memphis karena the next Warped Tour tanggal 7 Juli diadakan di Indianapolis [15 jam dari Dallas].
Yeah, perjalanan yang panjang dan melelahkan namun kita berusaha untuk stay positive. Rasa jenuh kita bunuh dengan joke-joke amatir [yang sebenarnya tidak lucu], menyimak album baru No Use For A Name dan memuaskan naluri kulinari dengan series of the worst American junk foods! 3-4 jam sekali kita berhenti di pompa bensin dan biasanya kembali ke mobil dengan tangan [dan kantong] penuh hot dog, beef jerky, pork crackers, ice cream, chilli dog dan lain-lain. Haha, pulang pulang bentuk badan bisa berubah nih. Hope not!
7 Juli 2009, Indianapolis, IN.
Sempat singgah di kampung Elvis Presley di Graceland [Memphis, Tennessee] dan bergaya bak tourist dari neraka, kami sempat membuat video dan sedikit berbelanja. Here in Graceland you can get about anything that has to do with Elvis. Dari wig, topeng sampai sambal merk Elvis, hebat! 8 jam perjalanan dengan Mbak Lia sebagai DJ ipod [yang menuai banyak protes, hehe] kita tiba di Indianapolis jam 1 malam dan disambut elevator hotel yang sudah layak ganti. Beruntung hotel-hotel di Amerika memiliki lantai yang berkarpet tebal, tak masalah bagi kami untuk sebagian tidur di lantai.
Bangun jam 8 pagi cuaca cukup bersahabat, cuma 28 derajat celcius, hampir mirip di Indonesia. Kelar sarapan cereal dan toast kami menuju venue dengan energi yang cukup bagus. Kami menarik banyak perhatian saat berkelling dengan pakaian adat Bali, bahkan kali ini kami berkeliling dengan volume maksimal ipod speaker yang memutar lagu SID. Main tepat pukul 12.25 siang setelah band pop punk semi-terkenal The Blackout [Wales, UK], kami mendapat crowd yang sedikit diluar dugaan! Ramai dan sangat responsif. Kami pun seperti mendapat energi tambahan dan sukses menghajar stage. Lagi lagi penjualan CD/merch melampaui rekor sebelumnya.
Permintaan foto dan tandatangan pun mulai berdatangan. Tak lama kami diculik sekelompok pemuda Bali yang menetap di Indiana untuk dibawa menuju ke restoran Jepang tempat mereka bekerja. Next, atraksi drum tradisional Jepang ala SID yang ditemani sirkus memasak ditampilkan. Tawa keras, beer, sake bomb, sushi segar dan wasabi yang maksimal membut kami ingin stay lebih lama tapi itu tak mungkin. Jam 6 kami tancap gas menuju Pittsburgh [6 jam] dan beruntung sosok baik hati yang kami kenal di Myspace menawarkan tempat menginap [dan seisi kulkas penuh bir] di Pittsburgh. Yeah, the long road continues.....Pittsburgh you better be ready!
8 Juli 2009, Pittsburgh, PA.
Tiba di lokasi menginap jam 3 pagi, kita disambut bir dingin, film Reservoir Dogs dan cuaca yang tak kalah dinginnya. Yeah, Pittsburgh yang dijuluki Iron City [karena banyak pabrik baja] lumayan dingin malam ini. Kita semua tidur di karpet dan saking dinginnya, jam 6 pagi Jrx sempat pindah ke mobil dan menghangatkan diri dengan heater. Karena tidak ingin terlambat lagi seperti di Dallas, kita bangun jam 8 pagi dan sampai di venue jam 9 hanya untuk mengetahui bahwa SID main jam 4.30 sore, damn! Ya sudahlah, sambil menunggu kita keliling-keliling venue yang berbukit-bukit.
Sempat terjebak pesta beer, hot dog dan ‘lain-lain’ di parkiran bersama beberapa kawan baru, kami terbawa suasana [mabuk, hehe] dan terkapar di jok belakang mobil seorang Jewish yang sangat menghargai ‘moment’ tersebut. Hari ini nasib kami kurang beruntung, jam main kami berbarengan dengan Anti Flag yang bermain di main stage [jaraknya cuma 20 meter dari stage kami]. Dan parahnya lagi, Anti Flag berasal dari Pittsburgh! Bisa ditebak, they totally won the crowd but SID tetap semangat beraksi, Eka melompat kesana kemari bagaikan kucing diatas aspal panas dan kita bertiga melompat tinggi meraih langit diakhir Kuta Rock City. Yep! Walaupun sepi, kami tetap berhasil menjual banyak CD dan menerima permintaan foto dan tandatangan. Salah seorang warga AS pembeli CD malah berkomentar “You guys got more skills than Green Day!” Haha, walaupun kami tahu itu pujian yang berlebihan, namun hal tersebut cukup menghibur.
Oya, hari ini kami kedatangan dua rekan wartawan dari Indonesia yang khusus datang untuk meliput kegiatan SID selama beberapa hari di Warped Tour dan From Bali With Rock Tour. Setelah interview session dengan mereka, kami meluncur ke Cleveland [3 jam] dengan rasa lelah campur gembira karena besok adalah hari terakhir kita main di Warped Tour. Senang karena terus terang menjalani Warped Tour sangat mengurus tenaga dan pikiran. Tiap hari kita bangun pagi, menuju venue, konser, masuk ke mobil yang penuh sesak barang dan penumpang, menuju kota lain, konser, masuk mobil, begitu diulang terus menerus. Walaupun seru tapi setelah hari ke 14 kami merasa perlu break.
9 Juli 2009, Cleveland, OH.
Karena tiba di Cleveland lumayan awal dan mendapat hotel yang nyaman [akhirnya!], kami istirahat dengan maksimal dan siap tempur untuk hari terakhir kita di Warped Tour. Venue kali ini cukup berkarakter, ditengah kota namun seperti dikurung oleh komplek pabrik besi yang sudah pensiun. Kami main jam 1.50 siang dan walaupun bersaing dengan Bad Religion yang bermain bersamaan, kami cukup berhasil memancing penonton. Bahkan setelah lagu terakhir, crowd sempat meneriakkan “more! more! more!” walaupun sayang sekali kami tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Penjualan CD dan t.shirt sama sekali tidak mengecewakan. Kami juga bertemu dengan beberapa warga AS yang mengaku cukup mengikuti SID dari internet.
Setelah membuat beberapa footage untuk kepentingan DVD kami, kami segera meluncur ke Washington [6 jam] dan akan menginap di rumah Dubes RI disana. Wah harus jaga sikap nih, hehe. Oya, jika ada satu hal yang cukup berarti bagi SID selama Warped Tour ini -berdasarkan evaluasi lapangan- rata-rata warga AS yang menyukai SID adalah mereka yang masuk dalam kategori outcast [tidak diterima pergaulan dan sering diremehkan]. Ini terlihat dari bentuk fisik, cara berbicara dan berpakaian mereka. Kalau di Indonesia istilahnya mereka anak-anak yang ‘tidak mengikuti jaman’ atau ‘tidak gaul’. Dan kami bangga kami bisa membuat mereka tersenyum. Kami bangga musik kami bisa berarti di hati mereka karena SID memang tercipta untuk orang-orang tersisih dimanapun mereka berada.
Goodbye Warped Tour, we had a good fight!

Jrx
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-american-tour-diary-3/127833145588
5 Juli 2009, Dallas, TX.
Naskleng telat nok! Gara-gara ada masalah dengan GPS [alat bantu penentu arah yang terhubung dengan satelit] di van sewaan, kami sempat tersesat dan telat tiba di venue. Kami seharusnya naik jam 11.15 siang namun tiba di venue jam 11.25. Dari parkiran kita berlari [sambil menenteng gitar, drum dll] ke stage dan langsung set alat. Tak diduga jumlah penonton lumayan rame, kami pun bermain dengan semangat walaupun Bobby belum sempat melumuri rambutnya dengan hairwax. Karena telat kami hanya membawakan 3 lagu namun sambutan crowd amat bagus dan penjualan CD pun lancar.
Salah satu pembeli adalah seorang tattoo artis lokal yang hanya memiliki satu buah tattoo, hehe. Kelar di panggung, kami antri makan siang seperti biasa, keliling-keliling sebentar lalu mewawancarai band Born To Lose [Texas] sebelum akhirnya cabut menuju Memphis, Tennessee [7 jam]. Kita akan menginap di Memphis karena the next Warped Tour tanggal 7 Juli diadakan di Indianapolis [15 jam dari Dallas].
Yeah, perjalanan yang panjang dan melelahkan namun kita berusaha untuk stay positive. Rasa jenuh kita bunuh dengan joke-joke amatir [yang sebenarnya tidak lucu], menyimak album baru No Use For A Name dan memuaskan naluri kulinari dengan series of the worst American junk foods! 3-4 jam sekali kita berhenti di pompa bensin dan biasanya kembali ke mobil dengan tangan [dan kantong] penuh hot dog, beef jerky, pork crackers, ice cream, chilli dog dan lain-lain. Haha, pulang pulang bentuk badan bisa berubah nih. Hope not!
7 Juli 2009, Indianapolis, IN.
Sempat singgah di kampung Elvis Presley di Graceland [Memphis, Tennessee] dan bergaya bak tourist dari neraka, kami sempat membuat video dan sedikit berbelanja. Here in Graceland you can get about anything that has to do with Elvis. Dari wig, topeng sampai sambal merk Elvis, hebat! 8 jam perjalanan dengan Mbak Lia sebagai DJ ipod [yang menuai banyak protes, hehe] kita tiba di Indianapolis jam 1 malam dan disambut elevator hotel yang sudah layak ganti. Beruntung hotel-hotel di Amerika memiliki lantai yang berkarpet tebal, tak masalah bagi kami untuk sebagian tidur di lantai.
Bangun jam 8 pagi cuaca cukup bersahabat, cuma 28 derajat celcius, hampir mirip di Indonesia. Kelar sarapan cereal dan toast kami menuju venue dengan energi yang cukup bagus. Kami menarik banyak perhatian saat berkelling dengan pakaian adat Bali, bahkan kali ini kami berkeliling dengan volume maksimal ipod speaker yang memutar lagu SID. Main tepat pukul 12.25 siang setelah band pop punk semi-terkenal The Blackout [Wales, UK], kami mendapat crowd yang sedikit diluar dugaan! Ramai dan sangat responsif. Kami pun seperti mendapat energi tambahan dan sukses menghajar stage. Lagi lagi penjualan CD/merch melampaui rekor sebelumnya.
Permintaan foto dan tandatangan pun mulai berdatangan. Tak lama kami diculik sekelompok pemuda Bali yang menetap di Indiana untuk dibawa menuju ke restoran Jepang tempat mereka bekerja. Next, atraksi drum tradisional Jepang ala SID yang ditemani sirkus memasak ditampilkan. Tawa keras, beer, sake bomb, sushi segar dan wasabi yang maksimal membut kami ingin stay lebih lama tapi itu tak mungkin. Jam 6 kami tancap gas menuju Pittsburgh [6 jam] dan beruntung sosok baik hati yang kami kenal di Myspace menawarkan tempat menginap [dan seisi kulkas penuh bir] di Pittsburgh. Yeah, the long road continues.....Pittsburgh you better be ready!
8 Juli 2009, Pittsburgh, PA.
Tiba di lokasi menginap jam 3 pagi, kita disambut bir dingin, film Reservoir Dogs dan cuaca yang tak kalah dinginnya. Yeah, Pittsburgh yang dijuluki Iron City [karena banyak pabrik baja] lumayan dingin malam ini. Kita semua tidur di karpet dan saking dinginnya, jam 6 pagi Jrx sempat pindah ke mobil dan menghangatkan diri dengan heater. Karena tidak ingin terlambat lagi seperti di Dallas, kita bangun jam 8 pagi dan sampai di venue jam 9 hanya untuk mengetahui bahwa SID main jam 4.30 sore, damn! Ya sudahlah, sambil menunggu kita keliling-keliling venue yang berbukit-bukit.
Sempat terjebak pesta beer, hot dog dan ‘lain-lain’ di parkiran bersama beberapa kawan baru, kami terbawa suasana [mabuk, hehe] dan terkapar di jok belakang mobil seorang Jewish yang sangat menghargai ‘moment’ tersebut. Hari ini nasib kami kurang beruntung, jam main kami berbarengan dengan Anti Flag yang bermain di main stage [jaraknya cuma 20 meter dari stage kami]. Dan parahnya lagi, Anti Flag berasal dari Pittsburgh! Bisa ditebak, they totally won the crowd but SID tetap semangat beraksi, Eka melompat kesana kemari bagaikan kucing diatas aspal panas dan kita bertiga melompat tinggi meraih langit diakhir Kuta Rock City. Yep! Walaupun sepi, kami tetap berhasil menjual banyak CD dan menerima permintaan foto dan tandatangan. Salah seorang warga AS pembeli CD malah berkomentar “You guys got more skills than Green Day!” Haha, walaupun kami tahu itu pujian yang berlebihan, namun hal tersebut cukup menghibur.
Oya, hari ini kami kedatangan dua rekan wartawan dari Indonesia yang khusus datang untuk meliput kegiatan SID selama beberapa hari di Warped Tour dan From Bali With Rock Tour. Setelah interview session dengan mereka, kami meluncur ke Cleveland [3 jam] dengan rasa lelah campur gembira karena besok adalah hari terakhir kita main di Warped Tour. Senang karena terus terang menjalani Warped Tour sangat mengurus tenaga dan pikiran. Tiap hari kita bangun pagi, menuju venue, konser, masuk ke mobil yang penuh sesak barang dan penumpang, menuju kota lain, konser, masuk mobil, begitu diulang terus menerus. Walaupun seru tapi setelah hari ke 14 kami merasa perlu break.
9 Juli 2009, Cleveland, OH.
Karena tiba di Cleveland lumayan awal dan mendapat hotel yang nyaman [akhirnya!], kami istirahat dengan maksimal dan siap tempur untuk hari terakhir kita di Warped Tour. Venue kali ini cukup berkarakter, ditengah kota namun seperti dikurung oleh komplek pabrik besi yang sudah pensiun. Kami main jam 1.50 siang dan walaupun bersaing dengan Bad Religion yang bermain bersamaan, kami cukup berhasil memancing penonton. Bahkan setelah lagu terakhir, crowd sempat meneriakkan “more! more! more!” walaupun sayang sekali kami tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Penjualan CD dan t.shirt sama sekali tidak mengecewakan. Kami juga bertemu dengan beberapa warga AS yang mengaku cukup mengikuti SID dari internet.
Setelah membuat beberapa footage untuk kepentingan DVD kami, kami segera meluncur ke Washington [6 jam] dan akan menginap di rumah Dubes RI disana. Wah harus jaga sikap nih, hehe. Oya, jika ada satu hal yang cukup berarti bagi SID selama Warped Tour ini -berdasarkan evaluasi lapangan- rata-rata warga AS yang menyukai SID adalah mereka yang masuk dalam kategori outcast [tidak diterima pergaulan dan sering diremehkan]. Ini terlihat dari bentuk fisik, cara berbicara dan berpakaian mereka. Kalau di Indonesia istilahnya mereka anak-anak yang ‘tidak mengikuti jaman’ atau ‘tidak gaul’. Dan kami bangga kami bisa membuat mereka tersenyum. Kami bangga musik kami bisa berarti di hati mereka karena SID memang tercipta untuk orang-orang tersisih dimanapun mereka berada.
Goodbye Warped Tour, we had a good fight!

Jrx
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-american-tour-diary-3/127833145588
Label:
Catatan,
Jrx,
Superman Is Dead
SID American Tour Diary 2
Oleh: Superman Is Dead
30 Juni 2009, Phoenix, AZ.
6 hours from Santa Clarita to Phoenix, kita sampai di hotel jam 1 malam. Hotel yang cukup menyenangkan: $70/malam, 3 bed dan saluran TV yang dipenuhi berita religius. Haha. Woke up at 7 kita disambut suhu 46 derajat Celcius! Dan kita pikir Bali cukup panas. Perjalanan ke venue dan pencarian parkir berjalan aman. Mendapat jadwal bermain jam 2.35 sore kita memilih mengambil jatah makan siang dahulu, dan lagi-lagi antrian panjang menanti dibawah terik matahari Phoenix. Sehabis lunch, Bobby dan Eka sibuk meracik Tequila di belakang panggung. Tequila dan 46 derajat celcius bukanlah kombinasi yang menyenangkan. Panas-nya cuaca benar-benar menguras tenaga, terbukti kami cuma mampu membawa 5 dari 6 lagu. The heat was worst than playing in Twice Bar.
Sukses menjual beberapa CD dan T-shirt, kami mewawancarai Civet, sebuah femme fatale punkrock band from LA yang albumnya rilis under Hellcat Records milik Tim Armstrong. Kami juga sempat mewawancarai rekan sepanggung kami goth-rocker dari Holywood, Dommin untuk kepentingan dokumentasi tour SID. Setelah mengambil honor manggung yang tidak dipotong pajak seperti di 3 gig sebelumnya di California, kami menuju Las Cruces [New Mexico] yang berjarak 7 jam dari Phoenix.
Hmmm, New Mexico.....Tequila anyone?
1 Juli 2009, Las Cruces, NM.
Melewati hujan badai, perjalanan 7 jam menuju Las Cruces sedikit menegangkan karena kita harus menyalip truk truk gandeng besar sepanjang freeway. Hasilnya, kaca van sewaan kita retak terkena serpihan kerikil yang terpental dari ban truk. Well, itulah kegunaan asuransi right? Tiba di hotel jam 1 tengah malam, kita sempat kucing-kucingan dengan pemilik hotel. Berhubung budget terbatas, kami hanya menyewa satu kamar untuk 7 orang tanpa ketahuan pihak hotel, hehe. Woke up at 7 kita langsung menuju venue dengan strategi baru: pakaian adat Bali! Sebelum konser kita berjalan keliling venue mengenakan pakaian adat sambil membawa papan pengumuman yang berisi informasi di stage mana dan jam berapa SID bermain. Nasib kita bagus, strategi kita cukup berhasil dan tepat jam 12.35 saat kita menghajar panggung, jumlah penonton lumayan banyak, moshing pun pecah, kita bahkan diberi tambahan waktu oleh stage manager. Kita membawakan 7 lagu, menjual banyak CD/merchandise dan mendapat respek maksimal dari fans baru yang sebagian besar warga keturunan Mexico. Band-band lain dan panitia Warped Tour juga sempat memberi pujian. We did good today. Jam 3 sore kita langsung menuju San Antonio, Texas. Another 10 hours drive to the land of the cowboys, yiiiiha!
2 Juli 2009, San Antonio, TX.
Kami tiba di San Antonio jam 3.30 pagi, langsung masuk hotel dan KO. Arise at 9 kami bergegas menuju venue. Cuaca cukup panas, 37 derajat celcius dan antrian penonton amat sangat panjang. Tampaknya San Antonio is a high populated city. Segera kami kenakan pakaian adat Bali dan berkeliling venue dengan papan pengumuman sambil membagikan stiker. Hari ini kita main jam 3.35. Lelah berkeliling kami istirahat makan siang dan bersiap untuk membakar panggung. Inilah susahnya bermain di festival semacam Warped Tour. SID yang jelas masih bukan siapa-siapa di USA harus bersaing dengan band-band besar yang bermain di main stage dalam hal mencari penonton.
SID [dan band-band Kevin Says Stage lainnya] seringkali harus mati-matian merebut perhatian penonton yang lebih terkonsentrasi di main stage untuk menyaksikan Bad Religion, NOFX dll. It’s not an easy job at all but we won’t give up and we’ll never will.
Terbukti, walaupun hanya ditonton puluhan orang, grafik penjualan CD dan T-shirt kami yang kami jual disebelah panggung sama sekali tidak mengecewakan. Band-band lain juga ikut memberi kami support dari depan panggung. Dalam Vodkabilly, kami sempat memeperagakan aksi solo masing-masing personel. Hasilnya, seorang stage crew memberi kami hadiah spesial, stimulan herbal asli Amerika yang mengaktifkan syaraf tawa dan menenangkan pikiran, bagus dikonsumsi sebelum tidur, hehehe. Merdeka!
3 Juli 2009, Houston, TX.
Tiba di hotel jam 8.30 malam, kami disambut seorang junkie yang ingin meminjam HP diparkiran hotel. Absurd karena dia berbicara sepeti zombie. White trash zombie. Kelelahan, kami langsung tertidur setelah sebelumnya menyantap pizza delivery pesanan. Tiba di venue -seperti biasa- kami keliling deangan papan pengumuman. Sempat bertemu seorang bule tua yang jatuh cinta dengan Bali, kami sukses menarik perhatian calon penonton. Ternyata publik Amerika sangat minim pengetahuannya tentang Bali/Indonesia. Terbukti walaupun di papan pengumuman kami tertulis jelas ‘SID from Bali - Indonesia’ banyak dari mereka yang malah bertanya dimanakah Bali - Indonesia itu. Jadwal manggung kami hari ini jam 12.50 siang. Oya, khusus untuk Kevin Says stage tempat kami manggung, sumber listrik nya memakai tenaga matahari yang sangat ramah lingkungan. Solar system for punkrock noise! Kami sempat menyaksikan band-band punkrock keren seperti Civet [LA] dan Born To Lose [Texas] sebelum set kami tiba. Panasnya cuaca Houston yang sedikit lembab membuat kami benar-benar berkeringat untuk pertama kalinya di Amerika. Jumlah penonton makin bertambah dan Jrx pun sukses membuat basah udeng [penutup kepala tradisional Bali] yang dikenakannya. Penjualan CD/merchandise memecahkan rekor penjualan kami selama tour ini, indikasi yang cukup positif. Kami sempat lunch keliling sebentar sebelum akhirnya balik ke hotel. Besok libur nasional, hari kemerdekaan Amerika Serikat dan discount ada dimana-mana. Saat yang tepat untuk belanja. Sikat!

30 Juni 2009, Phoenix, AZ.
6 hours from Santa Clarita to Phoenix, kita sampai di hotel jam 1 malam. Hotel yang cukup menyenangkan: $70/malam, 3 bed dan saluran TV yang dipenuhi berita religius. Haha. Woke up at 7 kita disambut suhu 46 derajat Celcius! Dan kita pikir Bali cukup panas. Perjalanan ke venue dan pencarian parkir berjalan aman. Mendapat jadwal bermain jam 2.35 sore kita memilih mengambil jatah makan siang dahulu, dan lagi-lagi antrian panjang menanti dibawah terik matahari Phoenix. Sehabis lunch, Bobby dan Eka sibuk meracik Tequila di belakang panggung. Tequila dan 46 derajat celcius bukanlah kombinasi yang menyenangkan. Panas-nya cuaca benar-benar menguras tenaga, terbukti kami cuma mampu membawa 5 dari 6 lagu. The heat was worst than playing in Twice Bar.
Sukses menjual beberapa CD dan T-shirt, kami mewawancarai Civet, sebuah femme fatale punkrock band from LA yang albumnya rilis under Hellcat Records milik Tim Armstrong. Kami juga sempat mewawancarai rekan sepanggung kami goth-rocker dari Holywood, Dommin untuk kepentingan dokumentasi tour SID. Setelah mengambil honor manggung yang tidak dipotong pajak seperti di 3 gig sebelumnya di California, kami menuju Las Cruces [New Mexico] yang berjarak 7 jam dari Phoenix.
Hmmm, New Mexico.....Tequila anyone?
1 Juli 2009, Las Cruces, NM.
Melewati hujan badai, perjalanan 7 jam menuju Las Cruces sedikit menegangkan karena kita harus menyalip truk truk gandeng besar sepanjang freeway. Hasilnya, kaca van sewaan kita retak terkena serpihan kerikil yang terpental dari ban truk. Well, itulah kegunaan asuransi right? Tiba di hotel jam 1 tengah malam, kita sempat kucing-kucingan dengan pemilik hotel. Berhubung budget terbatas, kami hanya menyewa satu kamar untuk 7 orang tanpa ketahuan pihak hotel, hehe. Woke up at 7 kita langsung menuju venue dengan strategi baru: pakaian adat Bali! Sebelum konser kita berjalan keliling venue mengenakan pakaian adat sambil membawa papan pengumuman yang berisi informasi di stage mana dan jam berapa SID bermain. Nasib kita bagus, strategi kita cukup berhasil dan tepat jam 12.35 saat kita menghajar panggung, jumlah penonton lumayan banyak, moshing pun pecah, kita bahkan diberi tambahan waktu oleh stage manager. Kita membawakan 7 lagu, menjual banyak CD/merchandise dan mendapat respek maksimal dari fans baru yang sebagian besar warga keturunan Mexico. Band-band lain dan panitia Warped Tour juga sempat memberi pujian. We did good today. Jam 3 sore kita langsung menuju San Antonio, Texas. Another 10 hours drive to the land of the cowboys, yiiiiha!
2 Juli 2009, San Antonio, TX.
Kami tiba di San Antonio jam 3.30 pagi, langsung masuk hotel dan KO. Arise at 9 kami bergegas menuju venue. Cuaca cukup panas, 37 derajat celcius dan antrian penonton amat sangat panjang. Tampaknya San Antonio is a high populated city. Segera kami kenakan pakaian adat Bali dan berkeliling venue dengan papan pengumuman sambil membagikan stiker. Hari ini kita main jam 3.35. Lelah berkeliling kami istirahat makan siang dan bersiap untuk membakar panggung. Inilah susahnya bermain di festival semacam Warped Tour. SID yang jelas masih bukan siapa-siapa di USA harus bersaing dengan band-band besar yang bermain di main stage dalam hal mencari penonton.
SID [dan band-band Kevin Says Stage lainnya] seringkali harus mati-matian merebut perhatian penonton yang lebih terkonsentrasi di main stage untuk menyaksikan Bad Religion, NOFX dll. It’s not an easy job at all but we won’t give up and we’ll never will.
Terbukti, walaupun hanya ditonton puluhan orang, grafik penjualan CD dan T-shirt kami yang kami jual disebelah panggung sama sekali tidak mengecewakan. Band-band lain juga ikut memberi kami support dari depan panggung. Dalam Vodkabilly, kami sempat memeperagakan aksi solo masing-masing personel. Hasilnya, seorang stage crew memberi kami hadiah spesial, stimulan herbal asli Amerika yang mengaktifkan syaraf tawa dan menenangkan pikiran, bagus dikonsumsi sebelum tidur, hehehe. Merdeka!
3 Juli 2009, Houston, TX.
Tiba di hotel jam 8.30 malam, kami disambut seorang junkie yang ingin meminjam HP diparkiran hotel. Absurd karena dia berbicara sepeti zombie. White trash zombie. Kelelahan, kami langsung tertidur setelah sebelumnya menyantap pizza delivery pesanan. Tiba di venue -seperti biasa- kami keliling deangan papan pengumuman. Sempat bertemu seorang bule tua yang jatuh cinta dengan Bali, kami sukses menarik perhatian calon penonton. Ternyata publik Amerika sangat minim pengetahuannya tentang Bali/Indonesia. Terbukti walaupun di papan pengumuman kami tertulis jelas ‘SID from Bali - Indonesia’ banyak dari mereka yang malah bertanya dimanakah Bali - Indonesia itu. Jadwal manggung kami hari ini jam 12.50 siang. Oya, khusus untuk Kevin Says stage tempat kami manggung, sumber listrik nya memakai tenaga matahari yang sangat ramah lingkungan. Solar system for punkrock noise! Kami sempat menyaksikan band-band punkrock keren seperti Civet [LA] dan Born To Lose [Texas] sebelum set kami tiba. Panasnya cuaca Houston yang sedikit lembab membuat kami benar-benar berkeringat untuk pertama kalinya di Amerika. Jumlah penonton makin bertambah dan Jrx pun sukses membuat basah udeng [penutup kepala tradisional Bali] yang dikenakannya. Penjualan CD/merchandise memecahkan rekor penjualan kami selama tour ini, indikasi yang cukup positif. Kami sempat lunch keliling sebentar sebelum akhirnya balik ke hotel. Besok libur nasional, hari kemerdekaan Amerika Serikat dan discount ada dimana-mana. Saat yang tepat untuk belanja. Sikat!

Rock-a-Bali!
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-american-tour-diary-2/124351935588
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-american-tour-diary-2/124351935588
Label:
Catatan,
Superman Is Dead
SID American Tour Diary I
Oleh: Superman Is Dead
24 Juni 2009, Bali INA.
Berat! Kami berangkat menuju airport Ngurah Rai dengan perasaan berat. Perjalanan tour SID ke Amerika yang seharusnya penuh api semangat dan keriangan terasa terganjal karena salah satu personel SID; Eka Rock terhadang masalah Visa yang sampai pada hari keberangkatan belum juga keluar, sementara Vans Warped Tour dimulai 26 Juni.
Dengan China Airlines, kami melewati melewati Samudera Pasifik ditemani bir, Watchmen ber-subtitle mandarin [The Comedian kicks ass!] dan berbutir-butir pil tidur.
Transit di Taipei selama 30 menit kita lalui dengan lesu, berharap hari cepat berlalu dan Eka mendapatkan Visa-nya sebelum tanggal 25 Juni. Another 11 hours from Taipei to LA kita lewati dengan skenario yang sama; bir, film & pil tidur. Whatever.
25 Juni 2009, Santa Clarita CA.
Tidak ada masalah yang berarti ketika berurusan dengan imigrasi di LA. Hembus dingin udara LA [walaupun summer] menyambut ketika kita keluar dari bandara. Disaat kita sibuk mencari tempat untuk merokok, sebuah pesan singkat kami terima mengatakan “Eka sudah mendapatkan Visa nya, dia bisa berangkat tanggal 25 Juni”. Serasa di charge mesin V8, kami spontan berteriak gembira dan saling peluk. Momen yang cukup emosional. Mbak Lia manager SID terlihat hampir menagis. Nina dari Mastra Production yang menjemput kita di airport juga cukup terbawa suasana.
Yeah, sekarang semua bisa bernafas lega. Kita langsung tancap gas menuju Santa Clarita, tempat kita menginap selama di California. Persetan dengan jet lag, USA here we come!
26 Juni 2009, Pomona CA.
Karena Eka baru tiba di LA tanggal 26 Juni malam hari, kita memakai Eko [kru SID] untuk mengisi posisi bass pada Warped Tour di Pomona California. Eko menjalankan tugasnya dengan baik, sayang kita diposisikan sebagai band pembuka rangkaian Warped Tour 2009 ini. Kita main jam 11 siang disaat penonton baru masuk seperempatnya. Walaupun tidak dengan format 100% kami mampu membuat beberapa punkrocker lokal menunjukkan tarian pogo-nya. Setelahnya, kami antri untuk mengambil jatah makan siang dan terjadi pemandangan yang cukup menarik.
Dibarisan antrian yang cukup panjang ada beberapa nama besar skena punk/hardcore internasional : The Ataris, Thrice, Aiden, Anti Flag dll. Mereka semua ikut berdiri mengantri untuk makan siang. Pemandangan yang mungkin tidak pernah terjadi di Indonesia.
27 Juni 2009, San Fransisco CA.
Berangkat jam 3 pagi, perjalanan 8 jam dari Santa Clarita menuju SF terasa seabad dan pil tidur tidak lagi membantu. 7 orang plus alat-alat dalam 1 van is so not funny. Tiba di SF jam 9.30 pagi kami mengalami kesulitan mencari parkir. Kebetulan hari itu ada demo aktivis gay di dekat lokasi Warped Tour. Pukul 1.50 siang, dibawah cuaca SF yang cukup panas, kami sukses menghajar panggung dan pemintaan interview dari pers lokal mulai berdatangan. Setelah semua beres kami langsung cabut ke Ventura California.
Sempat singgah di Golden Gate dan mendapat kejutan hot dog gratis, kami tiba di Ventura jam 3 pagi. Beruntung rumah kosong yang kami tempati cukup nyaman, lengkap dengan seaview, boat/jetski pribadi, plasma TV dan seisi kulkas yang nyaris kadaluwarsa. Nicely, a friend came later with a crate of beer and a bottle of Jagermeister. Devilish!
28 Juni 2009, Ventura CA.
Di kota yang kustom kulture nya cukup kuat ini kami singgah di Tony’s Pizza, sebuah restaurant pizza tradisional dekat pantai yang merayakan ulang tahun nya yang ke 50. Kami menyantap pizza sambil menjatuhkan rahang dikala sebuah Cadillac Devillle berwarna matt black melintas dengan smooth-nya. Sebuah pemandangan yang sangat California: tattoos, hot rod, beach and punkrock. Disini hampir 70% orang yang kami jumpai memiliki tattoo, boys or girls. Dan tiba-tiba kami merasa kurang brandalan. Haha.
Hari ini kami bermain jam 3.15 sore. Kami kurang beruntung, lokasi panggung kami kurang strategis karena terhalang main stage. Band-band yang bermain sebelum/setelah kami juga mengalami nasib yang sama: tidak berhasil menarik penonton yang maksimal. Selesai menjalankan tugas, kami sempat ditraktir minum oleh seorang penonton yang keep saying “You guys made my day”. Balik ke Tony’s Pizza untuk mengambil mobil, kami diberi jatah free pizza dan dengan perut kenyang kami menuju Santa Clarita to celebrate a friend’s birthday. Auw!
24 Juni 2009, Bali INA.
Berat! Kami berangkat menuju airport Ngurah Rai dengan perasaan berat. Perjalanan tour SID ke Amerika yang seharusnya penuh api semangat dan keriangan terasa terganjal karena salah satu personel SID; Eka Rock terhadang masalah Visa yang sampai pada hari keberangkatan belum juga keluar, sementara Vans Warped Tour dimulai 26 Juni.
Dengan China Airlines, kami melewati melewati Samudera Pasifik ditemani bir, Watchmen ber-subtitle mandarin [The Comedian kicks ass!] dan berbutir-butir pil tidur.
Transit di Taipei selama 30 menit kita lalui dengan lesu, berharap hari cepat berlalu dan Eka mendapatkan Visa-nya sebelum tanggal 25 Juni. Another 11 hours from Taipei to LA kita lewati dengan skenario yang sama; bir, film & pil tidur. Whatever.
25 Juni 2009, Santa Clarita CA.
Tidak ada masalah yang berarti ketika berurusan dengan imigrasi di LA. Hembus dingin udara LA [walaupun summer] menyambut ketika kita keluar dari bandara. Disaat kita sibuk mencari tempat untuk merokok, sebuah pesan singkat kami terima mengatakan “Eka sudah mendapatkan Visa nya, dia bisa berangkat tanggal 25 Juni”. Serasa di charge mesin V8, kami spontan berteriak gembira dan saling peluk. Momen yang cukup emosional. Mbak Lia manager SID terlihat hampir menagis. Nina dari Mastra Production yang menjemput kita di airport juga cukup terbawa suasana.
Yeah, sekarang semua bisa bernafas lega. Kita langsung tancap gas menuju Santa Clarita, tempat kita menginap selama di California. Persetan dengan jet lag, USA here we come!
26 Juni 2009, Pomona CA.
Karena Eka baru tiba di LA tanggal 26 Juni malam hari, kita memakai Eko [kru SID] untuk mengisi posisi bass pada Warped Tour di Pomona California. Eko menjalankan tugasnya dengan baik, sayang kita diposisikan sebagai band pembuka rangkaian Warped Tour 2009 ini. Kita main jam 11 siang disaat penonton baru masuk seperempatnya. Walaupun tidak dengan format 100% kami mampu membuat beberapa punkrocker lokal menunjukkan tarian pogo-nya. Setelahnya, kami antri untuk mengambil jatah makan siang dan terjadi pemandangan yang cukup menarik.
Dibarisan antrian yang cukup panjang ada beberapa nama besar skena punk/hardcore internasional : The Ataris, Thrice, Aiden, Anti Flag dll. Mereka semua ikut berdiri mengantri untuk makan siang. Pemandangan yang mungkin tidak pernah terjadi di Indonesia.
27 Juni 2009, San Fransisco CA.
Berangkat jam 3 pagi, perjalanan 8 jam dari Santa Clarita menuju SF terasa seabad dan pil tidur tidak lagi membantu. 7 orang plus alat-alat dalam 1 van is so not funny. Tiba di SF jam 9.30 pagi kami mengalami kesulitan mencari parkir. Kebetulan hari itu ada demo aktivis gay di dekat lokasi Warped Tour. Pukul 1.50 siang, dibawah cuaca SF yang cukup panas, kami sukses menghajar panggung dan pemintaan interview dari pers lokal mulai berdatangan. Setelah semua beres kami langsung cabut ke Ventura California.
Sempat singgah di Golden Gate dan mendapat kejutan hot dog gratis, kami tiba di Ventura jam 3 pagi. Beruntung rumah kosong yang kami tempati cukup nyaman, lengkap dengan seaview, boat/jetski pribadi, plasma TV dan seisi kulkas yang nyaris kadaluwarsa. Nicely, a friend came later with a crate of beer and a bottle of Jagermeister. Devilish!
28 Juni 2009, Ventura CA.
Di kota yang kustom kulture nya cukup kuat ini kami singgah di Tony’s Pizza, sebuah restaurant pizza tradisional dekat pantai yang merayakan ulang tahun nya yang ke 50. Kami menyantap pizza sambil menjatuhkan rahang dikala sebuah Cadillac Devillle berwarna matt black melintas dengan smooth-nya. Sebuah pemandangan yang sangat California: tattoos, hot rod, beach and punkrock. Disini hampir 70% orang yang kami jumpai memiliki tattoo, boys or girls. Dan tiba-tiba kami merasa kurang brandalan. Haha.
Hari ini kami bermain jam 3.15 sore. Kami kurang beruntung, lokasi panggung kami kurang strategis karena terhalang main stage. Band-band yang bermain sebelum/setelah kami juga mengalami nasib yang sama: tidak berhasil menarik penonton yang maksimal. Selesai menjalankan tugas, kami sempat ditraktir minum oleh seorang penonton yang keep saying “You guys made my day”. Balik ke Tony’s Pizza untuk mengambil mobil, kami diberi jatah free pizza dan dengan perut kenyang kami menuju Santa Clarita to celebrate a friend’s birthday. Auw!

Amerika!
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-american-tour-diary-i/123215340588
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/sid-american-tour-diary-i/123215340588
Label:
Catatan,
Superman Is Dead
Short History of a Beautiful Mess by Jrx
Oleh: Superman Is Dead
Short History of a Beautiful Mess
Back in the day, April's Fools Day 1st of April 1997. Di siang yang tidak sepanas sekarang-sekarang ini, saya dan beberapa penjahat menyebarkan fake info to our friends kalau band punkrock legendaris dari Amerika, NOFX akan konser di Twice Bar -dulu masih di berlokasi di depan Monumen Bom Bali- dan akan jammin' dengan Superman Is Dead. Free tanpa tiket. Bam! Tak memakan waktu lama, ternyata our brainless tricks worked! Malamnya Twice Bar langsung rame kedatangan teman-teman yang percaya akan berita tersebut. Malah ada teman yang dengan bangga datang mengajak beberapa temannya yang lagi liburan di Bali. Haha. And we just couldn't stop laughing ketika satu persatu mereka datang dengan wajah excited-nya. Setelah kita bilang kalau it's just an April's Fools joke, semua cuma bisa ketawa maksa sambil sedikit menggerutu. Sorry guys but it was all your fault to believe in our unbelievably stupid joke -untuk standar 10 tahun yang lalu- Dan karena banyak yang datang, akhirnya we were end up drinking together, talking about NOFX and honestly, we've never thought of NOFX akan konser di Bali, apalagi sampai Superman Is Dead yang menjadi pembuka mereka. It was all just our wish, and dreams….as punkrock kids.
Dream came true, 23rd of April 2007, NOFX actually beneran konser di Bali dan berbagi panggung dengan Superman Is Dead! Malam yang mungkin menjadi momen paling dikenang oleh sebagian generasi punkrock di Bali. Venue malam itu benar-benar terasa runtuh, mosh pit dan pogo yang masif, sing along yang tak berkesudahan dan semuanya pulang dengan senyum puas layaknya seorang perampok amatir yang baru saja berhasil merampok toko mainan kesukaan anaknya.
A few days after the show, saat badan saya masih pegal from the mosh pit, Acid from Surftime called me coz I owe them an article for this month's edition. So ya, sekalian aja saya ingin menulis tentang seberapa besar pengaruh band-band punkrock luar negeri terhadap standar musik dan lifestyle remaja Bali hingga saat ini.
Punkrock sudah masuk Bali sejak akhir tahun 70-an sampai awal 80-an, jamannya band anarcho-punk Inggris The Sex Pistols. Hampir berbarengan dengan masuknya rockabilly ke Bali melalui band The Stray Cats. Walau tidak ada data yang valid dan akurat, tanda-tanda masuknya punkrock dan rockabilly di Bali bisa diketahui –seingat saya yang waktu itu masih SD- dari banyaknya graffiti Sex Pistols diseputaran tembok-tembok kota Denpasar dan ada geng sepeda BMX bernama Stray Cats. Tanda lainnya yang saya temui baru-baru ini, beberapa thugs/berandalan top jaman dulu di Denpasar mempunyai tato logo kepala kucing milik The Stray Cats. Cuma lucunya orang Bali waktu itu belum tahu istilah 'rockabilly'. Hehe. Namun punkrock/rockabilly tidak bertahan lama. Selain penikmatnya yang cenderung terbatas dan dianggap outcasts oleh masyarakat tradisional [dianggap jeleme buduh/orang gila], minimnya informasi tentang punkrock/rockabilly juga membuatnya begitu gampang dilibas oleh trend new wave yang yang lebih manstream dan market-friendly, dimotori oleh band semacam Duran-Duran dan Spandau Ballet. Dan dari awal sampai akhir tahun 80-an, remaja Bali pekat dipengaruhi oleh genre new wave, pop [New Kids on The Block] hingga Euro-pop
[Roxette]. Kemudian awal tahun 90-an genre rock/metal [Guns n Roses, Bon Jovi, Sepultura, Metallica, Helloween, Morbid Angel dll] sempat populer dan mempunyai komunitas yang cukup solid. Naiknya rock/metal berbarengan dengan naiknya genre reggae [Bob Marley, Peter Tosh, Alpha Blondie] yang berawal dari pesisir pantai Sanur, sebelum akhirnya keduanya meredup karena munculnya era grunge dan punkrock revival di pertengahan tahun 90-an. Nirvana, Pearl Jam dan Soundgarden mewakili grunge heroes. Green Day, Rancid, Bad Religion dan NOFX mewakili second wave punkrock revivalists. Naiknya kedua genre ini juga diikuti oleh naiknya genre lain seperti street-punk [The Exploited, Total Chaos], hardcore [Biohazard, Rykers, Sick Of It All], rock n roll punk [The Ramones, Social Distortion] dan rockabilly [The Living End, The Stray Cats]
Dan mulailah sejarah punkrock Bali dari sini…
Sejak saat itu genre punkrock dan teman-teman jahat-nya seperti enggan menjauh dari keindahan pulau Bali. Jumlah band-nya kian hari kian bertambah, distro-distro yang menjual pernik punkrock bertebaran dimana-mana dan kuantitas konser-konser underground yang makin meningkat. Observasi jalanan yang kerap tanpa sengaja saya lakukan, menunjukkan kalau hingga saat ini jumlah anak muda di Bali yang mendengarkan punkrock justru kian hari kian bertambah. Bukti kongkret, kalau tahun 90-an hanya anak golongan SMA keatas yang mengkonsumsi punkrock, awal tahun 2000-an meningkat menjadi golongan SMP keatas, dan hingga sekarang ini saya lihat anak-anak SD-pun sudah mengidolakan punkrock dan datang ke konser-konser underground. Jumlah anak-anak SD ini tidak sedikit dan hebatnya lagi, mereka sudah tahu cara berdandan ala punkrocker –bahkan mungkin mereka terlihat lebih punkrock daripada punkrocker dewasa, haha-
Seiring waktu, punkrock pun melahirkan sub-genre yang kian meluas, tapi masih memiliki benang merah yang jelas. Genre kekinian seperti emo, goth-punk, metal-punk, disco-punk, screamo, punk-core dll tetap tidak jauh dari etos musik dan gaya hidup punkrock. Remaja Bali-pun seperti untouchable, tidak tersentuh oleh trend lain yang melanda kota-kota besar di Indonesia. Genre mainstream yang dipuja di kota-kota besar di Indonesia [pop-rock, brit-pop dan sebangsanya] justru menjadi genre yang kurang populer di Bali. Entah apa alasannya, saya juga kurang begitu paham. Mungkin karena kultur di Bali yang cenderung permisif? Atau karena remaja di Bali memiliki kesetiaan luar biasa terhadap pattern musik yang diciptakan oleh generasi sebelumnya?
Jika kota-kota besar di Indonesia bertanggung jawab atas lahirnya band-band nasional bergenre pop, rock, pop-rock, brit-pop dan new wave, maka Bali bertanggung jawab akan eksistensi band-band nasional yang meneriakkan punkrock, grunge dan rockabilly. Sebuah fenomena yang cukup menarik, dimana sebuah province kecil dengan intens melahirkan band-band beraliran non-mainstream, hingga diakui ditingkat nasional.
Satu hal yang pasti, tiap daerah mempunyai karakter tersendiri. Mempunyai tekstur budaya dan cara komunikasi yang berbeda. Dari sudut pandang Bali adalah pulau yang kecil, bisa jadi kenapa secara musikal Bali bisa berbeda dengan daerah-daerah lain adalah karena jumlah komunitasnya kecil juga. Tidak sebanyak komunitas di daerah lain. Analisis kasarnya, dengan komunitas yang jumlahnya tidak terlalu banyak, otomatis proses saling mempengaruhi satu sama lain menjadi lebih cepat karena semuanya cenderung saling mengenal dan saling mendukung. Persaingan-nya pun tidak sekeras dan sekotor daerah lain. Dan jadilah komunitas kecil ini seperti sulit ditembus trend dari luar. Mereka seolah sepakat akan peraturan tidak tertulis yang mereka buat, kalau tidak semua trend musik dari kota besar adalah pilihan musik terbaik. Yup, it's simple like that.
Well kings and kittens, mudah-mudahan resistensi Bali terhadap gempuran musik-musik mainstream kota besar bisa tetap ada selamanya. Hal-hal seperti ini adalah salah satu dari beberapa faktor yang menjadikan pulau Bali selalu berbeda, unique and beautiful.
Selalu dukung band teman anda dan jangan lupa menghargai perbedaan.
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/short-history-of-a-beautiful-mess-by-jrx/136324590588
Short History of a Beautiful Mess
Back in the day, April's Fools Day 1st of April 1997. Di siang yang tidak sepanas sekarang-sekarang ini, saya dan beberapa penjahat menyebarkan fake info to our friends kalau band punkrock legendaris dari Amerika, NOFX akan konser di Twice Bar -dulu masih di berlokasi di depan Monumen Bom Bali- dan akan jammin' dengan Superman Is Dead. Free tanpa tiket. Bam! Tak memakan waktu lama, ternyata our brainless tricks worked! Malamnya Twice Bar langsung rame kedatangan teman-teman yang percaya akan berita tersebut. Malah ada teman yang dengan bangga datang mengajak beberapa temannya yang lagi liburan di Bali. Haha. And we just couldn't stop laughing ketika satu persatu mereka datang dengan wajah excited-nya. Setelah kita bilang kalau it's just an April's Fools joke, semua cuma bisa ketawa maksa sambil sedikit menggerutu. Sorry guys but it was all your fault to believe in our unbelievably stupid joke -untuk standar 10 tahun yang lalu- Dan karena banyak yang datang, akhirnya we were end up drinking together, talking about NOFX and honestly, we've never thought of NOFX akan konser di Bali, apalagi sampai Superman Is Dead yang menjadi pembuka mereka. It was all just our wish, and dreams….as punkrock kids.
Dream came true, 23rd of April 2007, NOFX actually beneran konser di Bali dan berbagi panggung dengan Superman Is Dead! Malam yang mungkin menjadi momen paling dikenang oleh sebagian generasi punkrock di Bali. Venue malam itu benar-benar terasa runtuh, mosh pit dan pogo yang masif, sing along yang tak berkesudahan dan semuanya pulang dengan senyum puas layaknya seorang perampok amatir yang baru saja berhasil merampok toko mainan kesukaan anaknya.
A few days after the show, saat badan saya masih pegal from the mosh pit, Acid from Surftime called me coz I owe them an article for this month's edition. So ya, sekalian aja saya ingin menulis tentang seberapa besar pengaruh band-band punkrock luar negeri terhadap standar musik dan lifestyle remaja Bali hingga saat ini.
Punkrock sudah masuk Bali sejak akhir tahun 70-an sampai awal 80-an, jamannya band anarcho-punk Inggris The Sex Pistols. Hampir berbarengan dengan masuknya rockabilly ke Bali melalui band The Stray Cats. Walau tidak ada data yang valid dan akurat, tanda-tanda masuknya punkrock dan rockabilly di Bali bisa diketahui –seingat saya yang waktu itu masih SD- dari banyaknya graffiti Sex Pistols diseputaran tembok-tembok kota Denpasar dan ada geng sepeda BMX bernama Stray Cats. Tanda lainnya yang saya temui baru-baru ini, beberapa thugs/berandalan top jaman dulu di Denpasar mempunyai tato logo kepala kucing milik The Stray Cats. Cuma lucunya orang Bali waktu itu belum tahu istilah 'rockabilly'. Hehe. Namun punkrock/rockabilly tidak bertahan lama. Selain penikmatnya yang cenderung terbatas dan dianggap outcasts oleh masyarakat tradisional [dianggap jeleme buduh/orang gila], minimnya informasi tentang punkrock/rockabilly juga membuatnya begitu gampang dilibas oleh trend new wave yang yang lebih manstream dan market-friendly, dimotori oleh band semacam Duran-Duran dan Spandau Ballet. Dan dari awal sampai akhir tahun 80-an, remaja Bali pekat dipengaruhi oleh genre new wave, pop [New Kids on The Block] hingga Euro-pop
[Roxette]. Kemudian awal tahun 90-an genre rock/metal [Guns n Roses, Bon Jovi, Sepultura, Metallica, Helloween, Morbid Angel dll] sempat populer dan mempunyai komunitas yang cukup solid. Naiknya rock/metal berbarengan dengan naiknya genre reggae [Bob Marley, Peter Tosh, Alpha Blondie] yang berawal dari pesisir pantai Sanur, sebelum akhirnya keduanya meredup karena munculnya era grunge dan punkrock revival di pertengahan tahun 90-an. Nirvana, Pearl Jam dan Soundgarden mewakili grunge heroes. Green Day, Rancid, Bad Religion dan NOFX mewakili second wave punkrock revivalists. Naiknya kedua genre ini juga diikuti oleh naiknya genre lain seperti street-punk [The Exploited, Total Chaos], hardcore [Biohazard, Rykers, Sick Of It All], rock n roll punk [The Ramones, Social Distortion] dan rockabilly [The Living End, The Stray Cats]
Dan mulailah sejarah punkrock Bali dari sini…
Sejak saat itu genre punkrock dan teman-teman jahat-nya seperti enggan menjauh dari keindahan pulau Bali. Jumlah band-nya kian hari kian bertambah, distro-distro yang menjual pernik punkrock bertebaran dimana-mana dan kuantitas konser-konser underground yang makin meningkat. Observasi jalanan yang kerap tanpa sengaja saya lakukan, menunjukkan kalau hingga saat ini jumlah anak muda di Bali yang mendengarkan punkrock justru kian hari kian bertambah. Bukti kongkret, kalau tahun 90-an hanya anak golongan SMA keatas yang mengkonsumsi punkrock, awal tahun 2000-an meningkat menjadi golongan SMP keatas, dan hingga sekarang ini saya lihat anak-anak SD-pun sudah mengidolakan punkrock dan datang ke konser-konser underground. Jumlah anak-anak SD ini tidak sedikit dan hebatnya lagi, mereka sudah tahu cara berdandan ala punkrocker –bahkan mungkin mereka terlihat lebih punkrock daripada punkrocker dewasa, haha-
Seiring waktu, punkrock pun melahirkan sub-genre yang kian meluas, tapi masih memiliki benang merah yang jelas. Genre kekinian seperti emo, goth-punk, metal-punk, disco-punk, screamo, punk-core dll tetap tidak jauh dari etos musik dan gaya hidup punkrock. Remaja Bali-pun seperti untouchable, tidak tersentuh oleh trend lain yang melanda kota-kota besar di Indonesia. Genre mainstream yang dipuja di kota-kota besar di Indonesia [pop-rock, brit-pop dan sebangsanya] justru menjadi genre yang kurang populer di Bali. Entah apa alasannya, saya juga kurang begitu paham. Mungkin karena kultur di Bali yang cenderung permisif? Atau karena remaja di Bali memiliki kesetiaan luar biasa terhadap pattern musik yang diciptakan oleh generasi sebelumnya?
Jika kota-kota besar di Indonesia bertanggung jawab atas lahirnya band-band nasional bergenre pop, rock, pop-rock, brit-pop dan new wave, maka Bali bertanggung jawab akan eksistensi band-band nasional yang meneriakkan punkrock, grunge dan rockabilly. Sebuah fenomena yang cukup menarik, dimana sebuah province kecil dengan intens melahirkan band-band beraliran non-mainstream, hingga diakui ditingkat nasional.
Satu hal yang pasti, tiap daerah mempunyai karakter tersendiri. Mempunyai tekstur budaya dan cara komunikasi yang berbeda. Dari sudut pandang Bali adalah pulau yang kecil, bisa jadi kenapa secara musikal Bali bisa berbeda dengan daerah-daerah lain adalah karena jumlah komunitasnya kecil juga. Tidak sebanyak komunitas di daerah lain. Analisis kasarnya, dengan komunitas yang jumlahnya tidak terlalu banyak, otomatis proses saling mempengaruhi satu sama lain menjadi lebih cepat karena semuanya cenderung saling mengenal dan saling mendukung. Persaingan-nya pun tidak sekeras dan sekotor daerah lain. Dan jadilah komunitas kecil ini seperti sulit ditembus trend dari luar. Mereka seolah sepakat akan peraturan tidak tertulis yang mereka buat, kalau tidak semua trend musik dari kota besar adalah pilihan musik terbaik. Yup, it's simple like that.
Well kings and kittens, mudah-mudahan resistensi Bali terhadap gempuran musik-musik mainstream kota besar bisa tetap ada selamanya. Hal-hal seperti ini adalah salah satu dari beberapa faktor yang menjadikan pulau Bali selalu berbeda, unique and beautiful.
Selalu dukung band teman anda dan jangan lupa menghargai perbedaan.
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/short-history-of-a-beautiful-mess-by-jrx/136324590588
Label:
Catatan,
Superman Is Dead
Interview SID dengan Daymagz
- Apa kabar bali?
Jrx: Bali baik-baik saja bro, masih menjadi tempat bertemunya berbagai kultur yang selalu rame. Oya, suhu air laut di pantai Kuta akhir-akhir ini sangat dingin, kalau surfing tidak bisa lama-lama.....
- Siapa yg kalian kagumi?
Jrx: Saat ini saya kagum dengan Mbah Surip, beliau adalah sosok yang merepresentasikan cinta kasih yang sebenarnya.
- Angel and outsiders begitu dewasa, tangguh dan mengagumkan. whats next project?
Jrx: Belum ada bayangan absolut. Tapi tampaknya tour ke luar negeri masih menjadi salah satu menu utama agenda SID. Tampar dan tampar terus wajah industri musik Indonesia.
- Kalian berteriak "harus percaya tak ada yg sempurna..."
sedangkan di group facebook, penggemar kalian sempat kecewa karena SID sempat satu panggung dengan kangen band.
ini sangat kontradiksi.
apa kalian merasa pesan di lirik tsb kurang maksimal?
Jrx: Good question. Dari awal, SID sepenuhnya sadar kalau tidak semua penggemar bisa menangkap dengan literal apa pesan lagu-lagu kami. Kita berbicara mengenai beribu-ribu kepala manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak mungkin kita bisa menyeragamkan, dan tidak perlu juga diseragamkan. That's just life. Jadi lirik '...tak ada yang sempurna' juga bisa kita posisikan sebagai lirik yang kita nyanyikan pada diri kita sendiri.
Dan SID harus bisa deal dengan itu. Khusus mengenai kasus Kangen Band, bisa dimengerti kenapa mereka tidak terima kita sepanggung. Itu wajar. Semua bagian dari proses filter untuk pada akhirnya hanya penggemar sejati yang tersisa.
- Siapa yang merancang kebutuhan visual SID? (fotografer, logo, artwork, videoworks, etc)
Jrx: Semua dari SID sendiri. Kita bertiga membuat konsep, merancang artworks, menulis skenario klip dll. Biasanya kita kerjasama dengan photografer/videomaker lokal untuk urusan photo/klip. Selalu support local talent semampu kita.
- SID sering menggunakan ikon-ikon "rasa amerika", seperti : cadillac, whiskey, tattoo, dadu, gurun nevada, tequila, vegas, lowrider, bengkel, etc. baik visual, lirik sampai artikel di web kalian.
apa ada alasan tertentu?
apa latar belakangnya terciptanya ikon tsb?
apakah suatu saat akan berubah?
Jrx: Alasan pertama tentu saja karena kita mencintai ikon-ikon tersebut. Terlepas apakah mereka berasal dari Amerika atau tidak bukanlah hal yang penting. Kami menyukainya secara estetika [gagah] dan secara konsep [jelas], bukan karena berasal dari Amerika. The way we see it, ada banyak energi yang tersimpan dalam ikon-ikon tersebut. Sebut saja misalnya Cadillac yang bagi kami melambangkan kekuatan yang anggun, tattoo yang melambangkan komitmen dan loyalitas, whiskey yang melambangkan kerasnya hidup, dadu yang melambangkan sikap berani mengambil resiko. Hal-hal seperti itu yang membuat SID tetap berbahaya dan tidak bisa ditiru di Indonesia. Apakah suatu saat semua itu akan berubah? Cuma Elvis dan Tuhan yang tahu.....
- Baru saja Jakarta menjadi korban teror bom, apa yang SID lakukan bila ada kesempatan bertemu langsung dengan mastermind teroris?
Jrx: Saya akan memaksanya untuk tiarap dan menggigit tepi trotoar, lalu dengan sekuat tenaga akan saya injak kepalanya sampai rahangnya hancur. Saya tidak menyukai kekerasan tapi hanya untuk sang mastermind teror, saya siap menjadi setan.
- Lets talk bout enviroment. bali sempat dikecam dunia internasional karena dianggap sebagai tempat pembantaian penyu dan jalak bali juga nyaris punah.
ada tangapan SID tentang hal ini?
Jrx: Sangat sedih, tapi memang tidak banyak yang bisa kita lakukan. Kesadaran masyarakat di Bali masih rendah. Jangankan melindungi binatang langka, membuang sampah saja masih sembarangan. Masyarakat Bali berpikir sangat simpel dan issue-issue tersebut dianggap kurang penting karena masih ada issue lain yang lebih dekat dengan kehidupan ekonomi mereka. Harus ada satu moment kuat yang bisa menyadarkan mereka. Kita tunggu saja, mudah-mudahan SID memiliki moment tersebut.
Jrx: Bali baik-baik saja bro, masih menjadi tempat bertemunya berbagai kultur yang selalu rame. Oya, suhu air laut di pantai Kuta akhir-akhir ini sangat dingin, kalau surfing tidak bisa lama-lama.....
- Siapa yg kalian kagumi?
Jrx: Saat ini saya kagum dengan Mbah Surip, beliau adalah sosok yang merepresentasikan cinta kasih yang sebenarnya.
- Angel and outsiders begitu dewasa, tangguh dan mengagumkan. whats next project?
Jrx: Belum ada bayangan absolut. Tapi tampaknya tour ke luar negeri masih menjadi salah satu menu utama agenda SID. Tampar dan tampar terus wajah industri musik Indonesia.
- Kalian berteriak "harus percaya tak ada yg sempurna..."
sedangkan di group facebook, penggemar kalian sempat kecewa karena SID sempat satu panggung dengan kangen band.
ini sangat kontradiksi.
apa kalian merasa pesan di lirik tsb kurang maksimal?
Jrx: Good question. Dari awal, SID sepenuhnya sadar kalau tidak semua penggemar bisa menangkap dengan literal apa pesan lagu-lagu kami. Kita berbicara mengenai beribu-ribu kepala manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak mungkin kita bisa menyeragamkan, dan tidak perlu juga diseragamkan. That's just life. Jadi lirik '...tak ada yang sempurna' juga bisa kita posisikan sebagai lirik yang kita nyanyikan pada diri kita sendiri.
Dan SID harus bisa deal dengan itu. Khusus mengenai kasus Kangen Band, bisa dimengerti kenapa mereka tidak terima kita sepanggung. Itu wajar. Semua bagian dari proses filter untuk pada akhirnya hanya penggemar sejati yang tersisa.
- Siapa yang merancang kebutuhan visual SID? (fotografer, logo, artwork, videoworks, etc)
Jrx: Semua dari SID sendiri. Kita bertiga membuat konsep, merancang artworks, menulis skenario klip dll. Biasanya kita kerjasama dengan photografer/videomaker lokal untuk urusan photo/klip. Selalu support local talent semampu kita.
- SID sering menggunakan ikon-ikon "rasa amerika", seperti : cadillac, whiskey, tattoo, dadu, gurun nevada, tequila, vegas, lowrider, bengkel, etc. baik visual, lirik sampai artikel di web kalian.
apa ada alasan tertentu?
apa latar belakangnya terciptanya ikon tsb?
apakah suatu saat akan berubah?
Jrx: Alasan pertama tentu saja karena kita mencintai ikon-ikon tersebut. Terlepas apakah mereka berasal dari Amerika atau tidak bukanlah hal yang penting. Kami menyukainya secara estetika [gagah] dan secara konsep [jelas], bukan karena berasal dari Amerika. The way we see it, ada banyak energi yang tersimpan dalam ikon-ikon tersebut. Sebut saja misalnya Cadillac yang bagi kami melambangkan kekuatan yang anggun, tattoo yang melambangkan komitmen dan loyalitas, whiskey yang melambangkan kerasnya hidup, dadu yang melambangkan sikap berani mengambil resiko. Hal-hal seperti itu yang membuat SID tetap berbahaya dan tidak bisa ditiru di Indonesia. Apakah suatu saat semua itu akan berubah? Cuma Elvis dan Tuhan yang tahu.....
- Baru saja Jakarta menjadi korban teror bom, apa yang SID lakukan bila ada kesempatan bertemu langsung dengan mastermind teroris?
Jrx: Saya akan memaksanya untuk tiarap dan menggigit tepi trotoar, lalu dengan sekuat tenaga akan saya injak kepalanya sampai rahangnya hancur. Saya tidak menyukai kekerasan tapi hanya untuk sang mastermind teror, saya siap menjadi setan.
- Lets talk bout enviroment. bali sempat dikecam dunia internasional karena dianggap sebagai tempat pembantaian penyu dan jalak bali juga nyaris punah.
ada tangapan SID tentang hal ini?
Jrx: Sangat sedih, tapi memang tidak banyak yang bisa kita lakukan. Kesadaran masyarakat di Bali masih rendah. Jangankan melindungi binatang langka, membuang sampah saja masih sembarangan. Masyarakat Bali berpikir sangat simpel dan issue-issue tersebut dianggap kurang penting karena masih ada issue lain yang lebih dekat dengan kehidupan ekonomi mereka. Harus ada satu moment kuat yang bisa menyadarkan mereka. Kita tunggu saja, mudah-mudahan SID memiliki moment tersebut.
Label:
Interview,
Superman Is Dead
Kenapa SID Tampil Minus One di TV?
Oleh: Superman Is Dead
Menanggapi pertanyaan yang sering ditujukan kepada SID terkait penampilan kami di stasiun-stasiun TV nasional.
Tukang protes bertanya:
"Kenapa SID sering tidak tampil full live band kalau main di TV? Gak seru!"
Sebelum menjawab, kami ingin menjelaskan tampil dengan format tidak full live band memiliki beberapa istilah teknis, yang sering dipakai antara lain:
1. 'Minus One' yaitu ketika hanya vokal saja yang live sementara instrumen lainnya tidak.
Tehnik yang sama persis seperti ketika kita ber-karaoke.
2. 'Lip Sync' atau 'Playback' yaitu ketika semua instrumen termasuk vokal tidak ada yang live, semuanya diputar ulang. Tehnik ini juga selalu dilakukan oleh semua band dalam proses shooting video clip.
Dalam kasus SID, kami sama sekali tidak pernah melakukan 'Lyp Sync' atau 'Playback' di stasiun TV manapun. Yang kadang kami lakukan selama ini adalah tehnik 'Minus One'
Dan ini adalah alasannya, mohon diresapi:
1. Kendala teknis dan keterbatasan fasilitas yang dimiliki stasiun TV adalah alasan terbesar kenapa SID kadang harus memilih melakukan Minus One. Walaupun kita selalu fight dan berusaha untuk bisa tampil full live, kadang pihak TV memang tidak memiliki alat-alat yang mendukung. Mohon diingat, tampil live dan disiarkan di TV membutuhkan lebih banyak alat broadcast dan teknis nya lebih rumit daripada sekedar tampil live saja.
Alasan teknis inilah yang kadang membuat stasiun TV tidak bisa memberi SID fasilitas untuk tampil live. SID sadar jika keadaan memang tidak memungkinkan kami harus tahu diri dan bisa memanfaatkan apa yang ada.
2. Stasiun-stasiun TV tersebut BUKAN milik SID dan kami bukan tipe band rockstar manja yang belum apa-apa sudah minta ini minta itu. Kami ikuti peraturan main mereka karena kami tidak melihat hal tersebut mengancam esensi pesan dari lagu/attitude kami. Sama seperti halnya ketika mendengar lagu dari band favorit mu melalui radio atau CD player. Tidak ada bedanya. Band seperti SID tidak banyak memiliki kesempatan untuk tampil di media nasional karena -jujur- semua band di Indonesia tidak ada yang mendapat bayaran jika tampil di acara-acara TV. Kita hanya mendapat sedikit uang bensin dan makan. Semua itu dihitung promo. Bagi SID untuk tampil di TV kadang berat karena kami stay di Bali. Jadi selagi kita bisa tampil di TV, kita akan manfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Misi utama kami adalah menyebarluaskan pesan-pesan dalam lagu dan attitude kami seluas mungkin.
Apapun caranya akan kami lakukan.
Jadi bagi kamu yang rajin protes, tolong berpikir lebih luas. Tidak semua hal di dunia ini semudah yang kamu bayangkan. Kita tidak hidup sendiri dan bisa seenaknya menuntut ini itu disaat situasi tidak memungkinkan. Jika tidak suka melihat SID tampil minus one, matikan saja TV nya, beres. Yang jelas ada berjuta-juta remaja di pelosok Indonesia yang akhirnya bisa mengenal dan meresapi pesan yang kami sebarkan lewat TV. Dan bagi kami itu jauh lebih penting daripada hanya ingin 'terdengar' sangar dan idealis. Itu tidak akan merubah apa-apa.
Menanggapi pertanyaan yang sering ditujukan kepada SID terkait penampilan kami di stasiun-stasiun TV nasional.
Tukang protes bertanya:
"Kenapa SID sering tidak tampil full live band kalau main di TV? Gak seru!"
Sebelum menjawab, kami ingin menjelaskan tampil dengan format tidak full live band memiliki beberapa istilah teknis, yang sering dipakai antara lain:
1. 'Minus One' yaitu ketika hanya vokal saja yang live sementara instrumen lainnya tidak.
Tehnik yang sama persis seperti ketika kita ber-karaoke.
2. 'Lip Sync' atau 'Playback' yaitu ketika semua instrumen termasuk vokal tidak ada yang live, semuanya diputar ulang. Tehnik ini juga selalu dilakukan oleh semua band dalam proses shooting video clip.
Dalam kasus SID, kami sama sekali tidak pernah melakukan 'Lyp Sync' atau 'Playback' di stasiun TV manapun. Yang kadang kami lakukan selama ini adalah tehnik 'Minus One'
Dan ini adalah alasannya, mohon diresapi:
1. Kendala teknis dan keterbatasan fasilitas yang dimiliki stasiun TV adalah alasan terbesar kenapa SID kadang harus memilih melakukan Minus One. Walaupun kita selalu fight dan berusaha untuk bisa tampil full live, kadang pihak TV memang tidak memiliki alat-alat yang mendukung. Mohon diingat, tampil live dan disiarkan di TV membutuhkan lebih banyak alat broadcast dan teknis nya lebih rumit daripada sekedar tampil live saja.
Alasan teknis inilah yang kadang membuat stasiun TV tidak bisa memberi SID fasilitas untuk tampil live. SID sadar jika keadaan memang tidak memungkinkan kami harus tahu diri dan bisa memanfaatkan apa yang ada.
2. Stasiun-stasiun TV tersebut BUKAN milik SID dan kami bukan tipe band rockstar manja yang belum apa-apa sudah minta ini minta itu. Kami ikuti peraturan main mereka karena kami tidak melihat hal tersebut mengancam esensi pesan dari lagu/attitude kami. Sama seperti halnya ketika mendengar lagu dari band favorit mu melalui radio atau CD player. Tidak ada bedanya. Band seperti SID tidak banyak memiliki kesempatan untuk tampil di media nasional karena -jujur- semua band di Indonesia tidak ada yang mendapat bayaran jika tampil di acara-acara TV. Kita hanya mendapat sedikit uang bensin dan makan. Semua itu dihitung promo. Bagi SID untuk tampil di TV kadang berat karena kami stay di Bali. Jadi selagi kita bisa tampil di TV, kita akan manfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Misi utama kami adalah menyebarluaskan pesan-pesan dalam lagu dan attitude kami seluas mungkin.
Apapun caranya akan kami lakukan.
Jadi bagi kamu yang rajin protes, tolong berpikir lebih luas. Tidak semua hal di dunia ini semudah yang kamu bayangkan. Kita tidak hidup sendiri dan bisa seenaknya menuntut ini itu disaat situasi tidak memungkinkan. Jika tidak suka melihat SID tampil minus one, matikan saja TV nya, beres. Yang jelas ada berjuta-juta remaja di pelosok Indonesia yang akhirnya bisa mengenal dan meresapi pesan yang kami sebarkan lewat TV. Dan bagi kami itu jauh lebih penting daripada hanya ingin 'terdengar' sangar dan idealis. Itu tidak akan merubah apa-apa.
Label:
Catatan,
Superman Is Dead
Tentang SID by Gendo, Seorang Aktivis HAM dan Lingkungan
Oleh: Superman Is Dead
Superman Is Dead; Oase di Tengah Pemikiran Sempit Keseragaman
Oleh I Wayan “Gendo” Suardana
“Superman Is Dead (S.I.D) menginspirasi dan mengajarkan kami tentang indahnya perbedaan dan untuk menghormati keberagaman!” Kurang lebih itulah pendapat salah seorang penonton yang hadir dalam gig semalam (12/3/09) di salah satu pusat hiburan di bilangan Jakarta Pusat. Pernyataan secara terbuka yang diucapkan dalam sebuah panggung “glam” peluncuran album baru S.I.D yang bertajuk Angels & the OutSIDers.
Damn! Saya tersentak dengan pernyataan tersebut. Pernyataan yang sudah sangat lama saya nanti-nantikan tiba-tiba terdengar langsung oleh telinga saya. Mungkin banyak orang yang akan bertanya-tanya, apa istimewanya komentar tersebut? Sehingga harus membuat tersentak? Bukankah pendapat-pendapat seperti itu sudah biasa diucapkan? Lalu apa yang menjadi luar biasa?
Pertanyaan dan pernyataan seperti itu seolah-oleh beruntun menerjang kepala saya, seraya berusaha menjelaskannya. Pendapat seperti itu, tidak akan menjadi luar biasa apabila disampaikan untuk para pegiat kemanusiaan atau untuk kelompok-kelompok yang memang aktivitas mereka ada di wilayah perjuangan pluralisme. Namun tidak demikian apabila ucapan itu didedikasikan untuk S.I.D.
Dengan latar belakang “glamour”, tampilan ala punker, musik cadas, dan segala atribut “gaul” yang disandang oleh grup band ini, seolah-olah mereka adalah tiga “berandal” yang hanya bermusik dan larut dalam kehidupan glamour. Rambut spiky, rantai bergelantungan di pinggang, berbusana gaul nan glamour tidaklah cukup menggambarkan ketepatan dari penyataan di awal tulisan ini. Betapa ketiga pemuda ini jauh dari kategori kelompok yang peduli dengan keadaan sekitar.
Ditambah lagi tangan yang tiada henti memegang botol minuman beralkohol, semakin menjauhkan cap pemuda yang mempunyai kepedulian terhadap kehidupan sosial. Belum lagi bila kita menengok ke belakang atas perjalanan grup band ini yang sempat dipenuhi dengan tuduhan rasis dan diskriminatif, menyebabkan S.I.D. sempat terpuruk dalam tuduhan-tuduhan rasis. Tentu saja keadaan ini kerap membuat roh lagu mereka menjadi hilang dan terkubur dalam “judge” glamour, rasis, dan anti sosial. Aktivitas-aktivitas mereka untuk kampanye kemanusiaan, kesetaraan, pluralisme menjadi sirna begitu saja.
Antara Glam dan Kemanusiaan
Sepanjang pengetahuan saya, SID baik sebagai sebuah grup band maupun individu-individunya adalah salah satu grup band yang cukup aktif dalam melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan, tentunya yang paling sering adalah melakukan kampanye pluralisme, kemanusiaan dan juga lingkungan. Tidak sebatas hanya datang dan bermain musik, bahkan terlibat langsung dalam pengadaan kampanye termasuk memobilisasi resource untuk menggelar kampanye musik.
Komitmen mereka atas kemanusiaan, pluralisme, lingkungan tergambar pula secara kuat dalam lagu-lagu mereka. Dapat dicatat bahwa hampir dalam setiap album yang dirilis oleh SID terdapat tema-tema lagu yang mengedepankan persaudaraan, kesetaraan, pluralisme. Kita vs Mereka, Marah Bumi, Citra O.D bahkan dalam album terbarunya terdapat pesan untuk menjaga semangat keberagaman yang tercermin dalam lagu “Kuat Kita Bersinar”.
Dalam setiap mereka penampilannya, tak henti-hentinya mengingatkan penonton yang ada di depan mereka untuk menghargai setiap perbedaan. Kadangkala oleh Bobby dengan mimik serius bak orator, atau kadang dengan guyonan “jorok” ala Eka Rock yang mengundang tawa tapi sarat dengan pesan indahnya keberagaman.
“Akh, itu hal yang biasa kali, namanya juga cari popularitas,” begitu kira-kira pendapat yang muncul bila kita menelaah S.I.D dan sisi humanismenya. Namun pendapat itu menjadi keliru bila menyimak perjalanan kreativitas para personel S.I.D di kala mereka belum terkenal seperti sekarang. Cukup susah mengatakan bahwa tema lagu mereka tentang kemanusiaan, kesetaraan dan pluralisme, adalah sebatas lagu panggung. Sebatas untaian kata yang hanya diteriakan di panggung-panggung lalu hilang dan lepas tak bermakna di dalam kehidupan mereka di luar panggung. Atau sangat berat rasanya mengatakan, bahwa pesan-pesan mereka adalah pesan semu yang hanya untuk gagah-gagahan di atas panggung.
Lekat dalam ingatan saya bagaimana S.I.D termasuk salah satu band menyisihkan energinya untuk kegiatan-kegiatan jalanan terutama pada tahun 1998 di mana euforia reformasi sedang masak-masaknya. Aksi massa di kampus-kampus sedang marak, diskusi informal merebak tiap saat dan di situlah beberapakali terlibat pula pemuda-pemuda ini.
Mereka bergabung dalam setiap aktivitas, mengeluarkan “merchandise” dalam bentuk stiker-stiker. Bukan stiker gaul atau stiker yang beraroma dunia glam tapi “merchandice” yang berbau kampanye gerakan. Tercatat dalam ingatan saya, berbagai stiker sarkas dengan tulisan; “Sohardto F**k”, atau maaf” Tutut Titit” yang sesuai kehendak zaman pada saat itu. Mungkin seseuatu hal yang kecil, tetapi sarat akan makna kepedulian mereka dengan kondisi sosial.
Di tengah lagu-lagu mereka yang sekilas terkesan mengumbar tema glam, S.ID adalah salah satu band di Bali yang selalu siap tampil dalam acara-acara charity untuk kemanusiaan. Mungkin puluhan kali bahkan lebih, grup band ini terlibat secara aktif dalam pagelaran sosial tanpa bayaran. Tercatat S.I.D tampil dalam penggalangan dana untuk kemanusiaan pada saat bencana tsunami Aceh dan bencana gempa Jogjakarta. Bukan hanya sebatas tampil memikan musiknya, tapi juga peran Jerinx (drummer S.I.D) sebagai pengagas ide terutama dalam Pagelaran Kemanusiaan untuk bencana gempa Jogjakarta.
Demikian pula dalam hal perjuangan atas pluralisme dan keberagaman, S.I.D adalah Band yang terlibat pula secara aktif dalam kampanye penolakan RUU APP dari sejak dikumandangkan tahun 2006 sampai 2008. Tidak melulu aksi panggung tapi pemuda-pemuda ini juga terlibat dalam aksi-aksi jalanan. Menggarap roadshow musik untuk mengampanyekan, betapa berbahanya RUU APP dalam ranah Bhinekka Tunggal Ika. Betapa RUU APP mengancam sendi-sendi keberagaman dan berujung terancamnya nilai-nilai dan hakikat kemanusiaan.
Tema lagu kemanusiaan termanifestasikan dalam bentuk praktik-praktik S.I.D. Nilai universal kemanusiaan, menjadi lakon yang tidak bisa dinafikan begitu saja dari S.I.D. Kita masih ingat bagaimana agresi USA terhadap negara Irak? Di tengah kondisi sentimentil yang berkembang atas dunia Islam, S.I.D justru tampil dan keluar dari sentimentil itu. Solidaritas kemanusiaan adalah universal dan menembus batas tanpa memandang warna kulit, jenis kelamin, agama, suku, bangsa. Ini terwujudkan dalam pagelaran musik bertajuk “Stop War”, sebuah pagelaran musik untuk menentang agresi USA ke negara-negara Timur Tengah.
Apakah sebatas datang dan tampil dan menyanyi? Oh, tidak! S.I.D hadir dari menggagas ide, menyiapkan rencana kegiatan, mendesain propaganda dan mengumpulkan band-band untuk tampil bahkan sampai teknis acara. Itulah sekian banyak aktivitas dan praktek-praktek S.I.D yang menunjukan keselarasan antara tema lagu dengan praktik kehidupan nyata mereka.
Di tangan mereka, dunia “glam” menjadi tidak sebatas hura-hura dan dentingan sulang gelas dan botol alkohol . Dunia “glam saat ini menjadi dunia yang sarat dengan upaya penyadaran akan nilai-nilai kemanusiaan, keberagaman, keseteraan dan perdamaian. Pesan-pesan yang secara termaktub dalam lagu-lagu mereka, terpropagandakan dalam “orasi-orasi panggung” dan mampu membangunkan kesadaran orang-orang akan arti penting dari nilai-nilai itu. Minimal di tingkatan penggemar mereka a.k.a outSIDers. Mampu meretas perbedaan sempit yang selama ini dikonstruksi oleh negara atas sekat-sekat suku, agama, ras, jenis kelamin, kebangsaan dll.
Lalu seberapa pentingkah ucapan penonton yang saya sampaikan di awal tulisan ini? Buat saya pernyataan itu sangat istimewa. Inilah pertamakalinya saya mendengar “pengakuan” atas aktivitas-aktivitas S.I.D yang sesungguhnya tidak pernah lepas dari dinamika sosial. Setidaknya ada satu orang yang tersadarkan atas kampanye dan propaganda lagu S.I.D selama ini. Bahkan bisa saja mewakili puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang lainnya. Sehingga judge fatalis (rasis, anti sosial) terkubur seiiring waktu.
Di tengah krisisnya bangsa ini akan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dengan bergelimang manusia-manusia berperilaku primitif dan berpikiran sempit nan membosankan, S.I.D tampil sebagai oase yang memberikan secercah harapan. Semestinya orang-orang yang selalu bertampilan necis, berjas rapi, mengaku orang terhormat merasa malu karena justru pesan-pesan kemanusiaan, anti diskriminasi, kesetaraan keluar dari mulut “berandal-berandal” ini.
Semoga tetep konsisten, mari ciptakan dunia baru tanpa diskriminasi. S.I.D “glam”mu kami tunggu seiiring dengan laju sepeda “lowrider” yang mengilhami orang untuk mencintai lingkungan.
……Dan kau sahabatku, mari kita bersulang!
Jakarta, 14 Maret 2009
artikel lengkap ada di http://gendovara.com/superman-is-dead-sid-oase-ditengah-pemikiran-sempit-keseragaman/
Superman Is Dead; Oase di Tengah Pemikiran Sempit Keseragaman
Oleh I Wayan “Gendo” Suardana
“Superman Is Dead (S.I.D) menginspirasi dan mengajarkan kami tentang indahnya perbedaan dan untuk menghormati keberagaman!” Kurang lebih itulah pendapat salah seorang penonton yang hadir dalam gig semalam (12/3/09) di salah satu pusat hiburan di bilangan Jakarta Pusat. Pernyataan secara terbuka yang diucapkan dalam sebuah panggung “glam” peluncuran album baru S.I.D yang bertajuk Angels & the OutSIDers.
Damn! Saya tersentak dengan pernyataan tersebut. Pernyataan yang sudah sangat lama saya nanti-nantikan tiba-tiba terdengar langsung oleh telinga saya. Mungkin banyak orang yang akan bertanya-tanya, apa istimewanya komentar tersebut? Sehingga harus membuat tersentak? Bukankah pendapat-pendapat seperti itu sudah biasa diucapkan? Lalu apa yang menjadi luar biasa?
Pertanyaan dan pernyataan seperti itu seolah-oleh beruntun menerjang kepala saya, seraya berusaha menjelaskannya. Pendapat seperti itu, tidak akan menjadi luar biasa apabila disampaikan untuk para pegiat kemanusiaan atau untuk kelompok-kelompok yang memang aktivitas mereka ada di wilayah perjuangan pluralisme. Namun tidak demikian apabila ucapan itu didedikasikan untuk S.I.D.
Dengan latar belakang “glamour”, tampilan ala punker, musik cadas, dan segala atribut “gaul” yang disandang oleh grup band ini, seolah-olah mereka adalah tiga “berandal” yang hanya bermusik dan larut dalam kehidupan glamour. Rambut spiky, rantai bergelantungan di pinggang, berbusana gaul nan glamour tidaklah cukup menggambarkan ketepatan dari penyataan di awal tulisan ini. Betapa ketiga pemuda ini jauh dari kategori kelompok yang peduli dengan keadaan sekitar.
Ditambah lagi tangan yang tiada henti memegang botol minuman beralkohol, semakin menjauhkan cap pemuda yang mempunyai kepedulian terhadap kehidupan sosial. Belum lagi bila kita menengok ke belakang atas perjalanan grup band ini yang sempat dipenuhi dengan tuduhan rasis dan diskriminatif, menyebabkan S.I.D. sempat terpuruk dalam tuduhan-tuduhan rasis. Tentu saja keadaan ini kerap membuat roh lagu mereka menjadi hilang dan terkubur dalam “judge” glamour, rasis, dan anti sosial. Aktivitas-aktivitas mereka untuk kampanye kemanusiaan, kesetaraan, pluralisme menjadi sirna begitu saja.
Antara Glam dan Kemanusiaan
Sepanjang pengetahuan saya, SID baik sebagai sebuah grup band maupun individu-individunya adalah salah satu grup band yang cukup aktif dalam melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan, tentunya yang paling sering adalah melakukan kampanye pluralisme, kemanusiaan dan juga lingkungan. Tidak sebatas hanya datang dan bermain musik, bahkan terlibat langsung dalam pengadaan kampanye termasuk memobilisasi resource untuk menggelar kampanye musik.
Komitmen mereka atas kemanusiaan, pluralisme, lingkungan tergambar pula secara kuat dalam lagu-lagu mereka. Dapat dicatat bahwa hampir dalam setiap album yang dirilis oleh SID terdapat tema-tema lagu yang mengedepankan persaudaraan, kesetaraan, pluralisme. Kita vs Mereka, Marah Bumi, Citra O.D bahkan dalam album terbarunya terdapat pesan untuk menjaga semangat keberagaman yang tercermin dalam lagu “Kuat Kita Bersinar”.
Dalam setiap mereka penampilannya, tak henti-hentinya mengingatkan penonton yang ada di depan mereka untuk menghargai setiap perbedaan. Kadangkala oleh Bobby dengan mimik serius bak orator, atau kadang dengan guyonan “jorok” ala Eka Rock yang mengundang tawa tapi sarat dengan pesan indahnya keberagaman.
“Akh, itu hal yang biasa kali, namanya juga cari popularitas,” begitu kira-kira pendapat yang muncul bila kita menelaah S.I.D dan sisi humanismenya. Namun pendapat itu menjadi keliru bila menyimak perjalanan kreativitas para personel S.I.D di kala mereka belum terkenal seperti sekarang. Cukup susah mengatakan bahwa tema lagu mereka tentang kemanusiaan, kesetaraan dan pluralisme, adalah sebatas lagu panggung. Sebatas untaian kata yang hanya diteriakan di panggung-panggung lalu hilang dan lepas tak bermakna di dalam kehidupan mereka di luar panggung. Atau sangat berat rasanya mengatakan, bahwa pesan-pesan mereka adalah pesan semu yang hanya untuk gagah-gagahan di atas panggung.
Lekat dalam ingatan saya bagaimana S.I.D termasuk salah satu band menyisihkan energinya untuk kegiatan-kegiatan jalanan terutama pada tahun 1998 di mana euforia reformasi sedang masak-masaknya. Aksi massa di kampus-kampus sedang marak, diskusi informal merebak tiap saat dan di situlah beberapakali terlibat pula pemuda-pemuda ini.
Mereka bergabung dalam setiap aktivitas, mengeluarkan “merchandise” dalam bentuk stiker-stiker. Bukan stiker gaul atau stiker yang beraroma dunia glam tapi “merchandice” yang berbau kampanye gerakan. Tercatat dalam ingatan saya, berbagai stiker sarkas dengan tulisan; “Sohardto F**k”, atau maaf” Tutut Titit” yang sesuai kehendak zaman pada saat itu. Mungkin seseuatu hal yang kecil, tetapi sarat akan makna kepedulian mereka dengan kondisi sosial.
Di tengah lagu-lagu mereka yang sekilas terkesan mengumbar tema glam, S.ID adalah salah satu band di Bali yang selalu siap tampil dalam acara-acara charity untuk kemanusiaan. Mungkin puluhan kali bahkan lebih, grup band ini terlibat secara aktif dalam pagelaran sosial tanpa bayaran. Tercatat S.I.D tampil dalam penggalangan dana untuk kemanusiaan pada saat bencana tsunami Aceh dan bencana gempa Jogjakarta. Bukan hanya sebatas tampil memikan musiknya, tapi juga peran Jerinx (drummer S.I.D) sebagai pengagas ide terutama dalam Pagelaran Kemanusiaan untuk bencana gempa Jogjakarta.
Demikian pula dalam hal perjuangan atas pluralisme dan keberagaman, S.I.D adalah Band yang terlibat pula secara aktif dalam kampanye penolakan RUU APP dari sejak dikumandangkan tahun 2006 sampai 2008. Tidak melulu aksi panggung tapi pemuda-pemuda ini juga terlibat dalam aksi-aksi jalanan. Menggarap roadshow musik untuk mengampanyekan, betapa berbahanya RUU APP dalam ranah Bhinekka Tunggal Ika. Betapa RUU APP mengancam sendi-sendi keberagaman dan berujung terancamnya nilai-nilai dan hakikat kemanusiaan.
Tema lagu kemanusiaan termanifestasikan dalam bentuk praktik-praktik S.I.D. Nilai universal kemanusiaan, menjadi lakon yang tidak bisa dinafikan begitu saja dari S.I.D. Kita masih ingat bagaimana agresi USA terhadap negara Irak? Di tengah kondisi sentimentil yang berkembang atas dunia Islam, S.I.D justru tampil dan keluar dari sentimentil itu. Solidaritas kemanusiaan adalah universal dan menembus batas tanpa memandang warna kulit, jenis kelamin, agama, suku, bangsa. Ini terwujudkan dalam pagelaran musik bertajuk “Stop War”, sebuah pagelaran musik untuk menentang agresi USA ke negara-negara Timur Tengah.
Apakah sebatas datang dan tampil dan menyanyi? Oh, tidak! S.I.D hadir dari menggagas ide, menyiapkan rencana kegiatan, mendesain propaganda dan mengumpulkan band-band untuk tampil bahkan sampai teknis acara. Itulah sekian banyak aktivitas dan praktek-praktek S.I.D yang menunjukan keselarasan antara tema lagu dengan praktik kehidupan nyata mereka.
Di tangan mereka, dunia “glam” menjadi tidak sebatas hura-hura dan dentingan sulang gelas dan botol alkohol . Dunia “glam saat ini menjadi dunia yang sarat dengan upaya penyadaran akan nilai-nilai kemanusiaan, keberagaman, keseteraan dan perdamaian. Pesan-pesan yang secara termaktub dalam lagu-lagu mereka, terpropagandakan dalam “orasi-orasi panggung” dan mampu membangunkan kesadaran orang-orang akan arti penting dari nilai-nilai itu. Minimal di tingkatan penggemar mereka a.k.a outSIDers. Mampu meretas perbedaan sempit yang selama ini dikonstruksi oleh negara atas sekat-sekat suku, agama, ras, jenis kelamin, kebangsaan dll.
Lalu seberapa pentingkah ucapan penonton yang saya sampaikan di awal tulisan ini? Buat saya pernyataan itu sangat istimewa. Inilah pertamakalinya saya mendengar “pengakuan” atas aktivitas-aktivitas S.I.D yang sesungguhnya tidak pernah lepas dari dinamika sosial. Setidaknya ada satu orang yang tersadarkan atas kampanye dan propaganda lagu S.I.D selama ini. Bahkan bisa saja mewakili puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang lainnya. Sehingga judge fatalis (rasis, anti sosial) terkubur seiiring waktu.
Di tengah krisisnya bangsa ini akan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dengan bergelimang manusia-manusia berperilaku primitif dan berpikiran sempit nan membosankan, S.I.D tampil sebagai oase yang memberikan secercah harapan. Semestinya orang-orang yang selalu bertampilan necis, berjas rapi, mengaku orang terhormat merasa malu karena justru pesan-pesan kemanusiaan, anti diskriminasi, kesetaraan keluar dari mulut “berandal-berandal” ini.
Semoga tetep konsisten, mari ciptakan dunia baru tanpa diskriminasi. S.I.D “glam”mu kami tunggu seiiring dengan laju sepeda “lowrider” yang mengilhami orang untuk mencintai lingkungan.
……Dan kau sahabatku, mari kita bersulang!
Jakarta, 14 Maret 2009
artikel lengkap ada di http://gendovara.com/superman-is-dead-sid-oase-ditengah-pemikiran-sempit-keseragaman/
Label:
Catatan,
Superman Is Dead
Tulisan Menarik di KOMPAS
Oleh: Superman Is Dead
Senin, 14 September 2009 | 21:01 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pengasuh Ponpes Rudlotul Fatihah, Bantul, KH Muhammad Fuad Riyadi (38), gerah melihat semangat Islam disampaikan hanya secara sepotong-potong oleh para juru dakwah Islam. "Juru dakwah banyak yang bodoh. Saya tantang mereka memahami Islam," kata Kyai Fuad.
Ia melihat bahwa yang disampaikan juru dakwah di masjid, di televisi, dan di mana saja sudah melenceng dari semangat Islam, agama yang seharusnya memberi kesejukan, ketentraman, kedamaian bagi siapa saja, tak hanya umat Islam, tetapi semua orang non-muslim, termasuk mereka yang ateis sekalipun.
Dengan kata lain, jika apa yang dikatakan juru dakwah membuat umat nonmuslim waswas, merasa terancam, dan tak nyaman, maka itu sudah cukup memberikan gambaran bahwa dakwah yang dilontarkan juru dakwah sudah tak lagi Islami. Ini fenomena yang menurut dia sudah mulai muncul sejak tahun 1970-an, dan mulai kencang.
Ia banyak memberi kritik tentang kebiasaan dan perilaku umat Muslim. Misalnya memakai pengeras suara sekeras mungkin sehingga umat non-muslim dan muslim pun sama-sama terganggu, juga rangkaian acara puasa yang kemeriahannya berlebihan.
"Juru dakwah, dai-dai itu, maaf, baru memegang satu ayat, tapi ngomong-nya sejuta ayat. Tak heran, sekarang bermunculan radikalisme, seperti aksi sweeping, fundamentalisme, dan hal tak mengenakkan yang mengatasnamakan agama. Peraturan daerah pun digiring menjadi bernuansa Islam," paparnya.
Lihat saja, menurutnya, sekarang banyak yang secara eksplisit dan implisit menyuarakan perlunya Indonesia menjadi negara Islam. "Enggak hanya orang nonmuslim yang ketar-ketir dan cemas. Saya juga takut. Apa Islam di Indonesia seperti itu? Islam adalah agama yang menyuarakan kerinduan pada Allah, bukan agama yang bikin orang lain takut, apalagi menyemai benih permusuhan," katanya.
"Perlu dicatat, saya hapal 'Malam Kudus', lagu rohani umat Katolik saat Natal . Liriknya bagus. Lagunya bagus. Saya suka Natal , gereja. Saya suka semangat Natal , damai di bumi damai di hati. Saya berani katakan, lagu 'Malam Kudus' itu lagu Islami," ujar kyai muda ini.
Tentang Puasa, mestinya umat Islam merefleksikan hal itu seperti umat Hindu merayakan Nyepi. "Mestinya Puasa itu ya nuansanya seperti saat Nyepi. Kita merenung, berdiam, bukan malam ramai," katanya.
Pengotakan agama mesti dihapus. "Saya justru gembira jika saat zikir bersama, ada teman-teman nonmuslim yang ikut datang. Ikut nggabung. Sering mereka datang ke ponpes saya. Seorang Katolik yang pernah datang pas zikir bilang ke saya, kok dia merasa tenang dan nyaman. Tentu ia masih Katolik. Ketika dia pun merasa damai, tenang, itulah juga sejatinya esensi zikir," ucap dia.
Kyai ini merasa perlu minta maaf kepada semua umat nonmuslim yang pernah tersinggung dengan perlakuan umat Muslim dan perkataan/perbuatan para juru dakwah. "Saya mohon maaf karena mereka melakukan itu. Mohon dimaklumi," kata Kyai Fuad.
Kyai ini menggelar lukisan bertema "Aura Dsikir" di Bentara Budaya Yogyakarta . Acara berlangsung dari Sabtu (12/9) hingga Kamis (17/9). Proses pembuatan lukisan dilakukan dengan berzikir terlebih dulu.
Tambahan dari SID: Kami memuat tulisan ini karena memiliki nilai pluralisme yang tinggi. Selaras dgn pemikiran SID. Aneh nya, kami terpaksa menghapus beberapa comment utk tulisan ini karena ternyata di FB SID masih ada manusia2 buta pluralisme yang ikut memberi komen negatif. Mendapat pencerahan dlm masalah agama dan diberi tahu kenyataan di lapangan, malah langsung sensitif dan negatif tdh SID. Kami dituduh menyudutkan Islam.
Yep, itu adalah contoh kecil kenyataan bahwa di Indonesia generasi2 muda [dan tua]-nya masih banyak yang mempunyai pemikiran terpatri 'Agama Saya Paling Hebat'.
Ingat, tulisan ini dimuat di KOMPAS yang tidak sembarangan memuat berita tidak berkualitas. Jadikan renungan, apa yg sebenarnya terjadi di negara ini. Agama bukan alat untuk mengitimidasi. Saling menghargai. Jika ada yang tidak suka SID memuat tulisan ini disini, silakan keluar dari FB kami dan jadikanlah SID musuh anda!
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/tulisan-menarik-di-kompas/162150965588
Senin, 14 September 2009 | 21:01 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pengasuh Ponpes Rudlotul Fatihah, Bantul, KH Muhammad Fuad Riyadi (38), gerah melihat semangat Islam disampaikan hanya secara sepotong-potong oleh para juru dakwah Islam. "Juru dakwah banyak yang bodoh. Saya tantang mereka memahami Islam," kata Kyai Fuad.
Ia melihat bahwa yang disampaikan juru dakwah di masjid, di televisi, dan di mana saja sudah melenceng dari semangat Islam, agama yang seharusnya memberi kesejukan, ketentraman, kedamaian bagi siapa saja, tak hanya umat Islam, tetapi semua orang non-muslim, termasuk mereka yang ateis sekalipun.
Dengan kata lain, jika apa yang dikatakan juru dakwah membuat umat nonmuslim waswas, merasa terancam, dan tak nyaman, maka itu sudah cukup memberikan gambaran bahwa dakwah yang dilontarkan juru dakwah sudah tak lagi Islami. Ini fenomena yang menurut dia sudah mulai muncul sejak tahun 1970-an, dan mulai kencang.
Ia banyak memberi kritik tentang kebiasaan dan perilaku umat Muslim. Misalnya memakai pengeras suara sekeras mungkin sehingga umat non-muslim dan muslim pun sama-sama terganggu, juga rangkaian acara puasa yang kemeriahannya berlebihan.
"Juru dakwah, dai-dai itu, maaf, baru memegang satu ayat, tapi ngomong-nya sejuta ayat. Tak heran, sekarang bermunculan radikalisme, seperti aksi sweeping, fundamentalisme, dan hal tak mengenakkan yang mengatasnamakan agama. Peraturan daerah pun digiring menjadi bernuansa Islam," paparnya.
Lihat saja, menurutnya, sekarang banyak yang secara eksplisit dan implisit menyuarakan perlunya Indonesia menjadi negara Islam. "Enggak hanya orang nonmuslim yang ketar-ketir dan cemas. Saya juga takut. Apa Islam di Indonesia seperti itu? Islam adalah agama yang menyuarakan kerinduan pada Allah, bukan agama yang bikin orang lain takut, apalagi menyemai benih permusuhan," katanya.
"Perlu dicatat, saya hapal 'Malam Kudus', lagu rohani umat Katolik saat Natal . Liriknya bagus. Lagunya bagus. Saya suka Natal , gereja. Saya suka semangat Natal , damai di bumi damai di hati. Saya berani katakan, lagu 'Malam Kudus' itu lagu Islami," ujar kyai muda ini.
Tentang Puasa, mestinya umat Islam merefleksikan hal itu seperti umat Hindu merayakan Nyepi. "Mestinya Puasa itu ya nuansanya seperti saat Nyepi. Kita merenung, berdiam, bukan malam ramai," katanya.
Pengotakan agama mesti dihapus. "Saya justru gembira jika saat zikir bersama, ada teman-teman nonmuslim yang ikut datang. Ikut nggabung. Sering mereka datang ke ponpes saya. Seorang Katolik yang pernah datang pas zikir bilang ke saya, kok dia merasa tenang dan nyaman. Tentu ia masih Katolik. Ketika dia pun merasa damai, tenang, itulah juga sejatinya esensi zikir," ucap dia.
Kyai ini merasa perlu minta maaf kepada semua umat nonmuslim yang pernah tersinggung dengan perlakuan umat Muslim dan perkataan/perbuatan para juru dakwah. "Saya mohon maaf karena mereka melakukan itu. Mohon dimaklumi," kata Kyai Fuad.
Kyai ini menggelar lukisan bertema "Aura Dsikir" di Bentara Budaya Yogyakarta . Acara berlangsung dari Sabtu (12/9) hingga Kamis (17/9). Proses pembuatan lukisan dilakukan dengan berzikir terlebih dulu.
Tambahan dari SID: Kami memuat tulisan ini karena memiliki nilai pluralisme yang tinggi. Selaras dgn pemikiran SID. Aneh nya, kami terpaksa menghapus beberapa comment utk tulisan ini karena ternyata di FB SID masih ada manusia2 buta pluralisme yang ikut memberi komen negatif. Mendapat pencerahan dlm masalah agama dan diberi tahu kenyataan di lapangan, malah langsung sensitif dan negatif tdh SID. Kami dituduh menyudutkan Islam.
Yep, itu adalah contoh kecil kenyataan bahwa di Indonesia generasi2 muda [dan tua]-nya masih banyak yang mempunyai pemikiran terpatri 'Agama Saya Paling Hebat'.
Ingat, tulisan ini dimuat di KOMPAS yang tidak sembarangan memuat berita tidak berkualitas. Jadikan renungan, apa yg sebenarnya terjadi di negara ini. Agama bukan alat untuk mengitimidasi. Saling menghargai. Jika ada yang tidak suka SID memuat tulisan ini disini, silakan keluar dari FB kami dan jadikanlah SID musuh anda!
Source: https://www.facebook.com/notes/superman-is-dead/tulisan-menarik-di-kompas/162150965588
Label:
Catatan,
Superman Is Dead
Langganan:
Postingan (Atom)
