Yab Sarpote:
Bli
JRX aku kepengen diskusi soal mapan dan anti-mapan, bli. 'Main aman'
dalam status bli ini dalam konteks kasus apa, bli? Bukankah (misalnya)
dalam konteks konflik antara musik indie yang menolak mengkomodifikasi
karyanya dalam sistem kapitalis dengan korporasi industri musik semacam
Sony yang jelas mengkomodifikasi karya dan mengambil untung besar dari
karya tersebut, pilihan bli dan kawan-kawan SID dengan bergabung ke
industri musik itu bisa dikategorikan 'cari aman' atau pilihan 'mapan',
bli? Dalam hal ini, konflik dengan korporasi industri ini dihindari
dengan bergabungnya temen2 SID ke korporasi musik.. Ya, semacam "Rebel
Sell" begitu.
Saya:
Sony tidak mendapat
banyak profit dari SID karena: 1. Tidak seperti artis Sony yg lain,
manajemen SID tidak harus membayar royalty dari konser/merchandise SID.
Kami masih memakai kontrak lama (2003). 2. Satu2nya sumber pendapatan
Sony dari SID adalah dari penjualan CD. Dan dijaman pembajakan/ilegal
downloading ini, penjualan CD menurun sangat2 drastis. 3. Mencari aman
bukanlah alasan SID bergabung dgn Sony, alasan kami adalah utk
memperluas distribusi album (keputusan ini diambil sebelum era
pembajakan/ilegal downloading) karena kami merasakan memproduksi 3 album
pakai uang sendiri dan distribusi-nya sangat terbatas. Dan bagusnya
Sony sepakat utk tidak mencampuri urusan berkesenian kami. Apa salahnya?
Intinya begini, SID tidak dimanfaatkan oleh label, tapi SID yg
memanfaatkan label. Dan hal-hal ini tentu saja tidak banyak diketahui
publik kan? Dan itu masuk akal karena saya akui 99% artis major label
Indonesia memang 'diatur dan diperas' oleh labelnya. Saya gak
menyalahkan mayoritas yg berpikir SID juga 'diatur/diperas' oleh label.
Kesimpulan tsb mereka ambil dari fakta bahwa band-band major memang
kebanyakan demikian. Tapi ingat sekali lagi, SID bukanlah band yg umum.
Tak ada yg menyamai kami. Secara musik maupun movement. Kami banyak
melakukan hal-hal yg belum pernah dilakukan band lain di Indonesia. Kami
hidup di Bali, kami tidak stay di Ibukota. Pola pikir kami bukan pola
pikir mesin. Terima kasih.
Source: Facebook
Tampilkan postingan dengan label Interview. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Interview. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Februari 2014
Sabtu, 23 Maret 2013
Interview SID dengan Rolling Stone Indonesia
1. Kalian menjadi band Asia pertama yang tampil di Vans Warped Tour. Apa komentar kalian, dan atraksi apa saja yang kalian siapkan untuk itu?
Sebenarnya kita bukan band Asia pertama yang tampil di Warped Tour. SID adalah band Asia kedua, tapi kita adalah band Asia pertama yang walaupun tidak merilis album di Amerika tapi tampil di Warped Tour. Sebelumnya [tahun 2003] ada band punkrock dari Beijing yang sempat tampil di Warped namun album mereka sebelumya dirilis oleh label Amerika dan mereka dibawa ke Warped oleh labelnya. Perasaan kita sejauh ini sangat excited dan ada sedikit perasaan tegang juga, this a big chapter for us and one of our biggest dream. Karena waktu kita tampil per show di Warped hanya 20 menit, kita akan menyiapkan repertoar tanpa ampun. Hajar sejak awal, tanpa jeda, dan pergi pada saat yang tepat. Dengan waktu yang singkat kita akan coba meninggalkan kesan yang tajam menusuk. Atraksi khusus sejauh ini belum ada yang kita siapkan,-selain memasang bendera Merah Putih di stage- mungkin kita akan memakai pakaian adat Bali sambil bawa keris? Haha...we'll see how it goes....
2. Di sana kalian akan menjalani tur. Hal apa yang paling menyenangkan dan menyebalkan dari sebuah tur?
Berkaca dari tour kita di Australia, yang paling menyenangkan adalah ketika kita berada diatas panggung dan melihat ekspresi para penonton yang sebelumnya seperti underestimate terhadap SID namun perlahan mulai menangkap energi yang kita lemparkan. Dan pada akhirnya semua ikut berpesta dengan SID ditemani stage dive dan mosh yang mereka ciptakan. That feeling is priceless. Selain itu mencicipi rasa bir yang berbeda-beda disetiap state and making new friends selalu menjadi hal yang menyenangkan. Biasanya banyal hal-hal adventurous dan unpredictable terjadi with our new friends. Haha. Yang paling menyebalkan mungkin pada saat kita lelah atau sakit disertai massive hangover. But mostly it's fun coz we're doing what we love...
3. Energi apa yang ingin ditonjolkan dari album Angels and the Outsiders?
Positivity, kerja keras dan semangat unity in diversity a.k.a Bhinneka Tunggal Ika.
4. Apa saja hal favorit kalian di album ini?
Selain cover nya yang kita anggap the best abum cover since The Clash's London Calling, kita menyukai the fact that SID tidak harus selalu bermain up-tempo untuk tetap menyalakan api pemberontakan. Dengan bermain mid-tempo pesan kita tetap tersampaikan dengan utuh. Album ini bisa disebut sebagai a mind opener untuk generasi yang menganggap punkrock harus selalu bermain cepat dan penuh distorsi. Ibaratnya, kita tidak harus memelihara anjing pitbull untuk merasa menjadi seorang lelaki. There's so many other dangerous things than a pitbull. This album is a statement that punkrock is already in our blood so we don't need to be pretentious and showing it with too much speed and distortion. We know what we're made of.
5. Kalau ada orang yang baru pertama kali mendengar SID, apa wejangan kalian terhadapnya, dan sebaiknya dia memulai dengan mendengarkan album yang mana?
Start it with Black Market Love, karena di album ini SID mulai menemukan bentuk pemikiran yang nantinya menjadi fondasi musik dan attitude kita sampai sejauh ini. Perpaduan esensi amarah punkrock, kebrandalan rockabilly, outlaw love songs dan being the real minority in Indonesia. That's SID dan Black Market Love merangkumnya dengan seimbang. Our suggestion to our first listener will be "Go grab a beer and kiss the mainstream world goodbye!"
6. Kalian tidak takut bereksperimen dan memasukkan hal-hal baru. Bagi kalian, seberapa penting menjaga keterbukaan dalam bermusik?
Honestly, musically nothing is new in this world. Everything has been done. That's why hal-hal baru yang kita masukkan juga selalu kita jaga agar tidak menjadi dominan dan benang merah SID tetap terlihat. Kami selalu berexperimen tapi tidak sampai ke level 'too much'. We're not The Mars Volta, we're a punkrock band so esensi yang kita pegang teguh adalah etika 'in your face'. Straightforward, tidak banyak basa basi atau bermain-main dengan dimensi. Sometime less is more.
7. Berdiri selama lebih dari 10 tahun dengan personal yang sama sudah merupakan suatu prestasi membanggakan untuk sebuah band. Apakah ini berlaku juga untuk kalian? Apa tantangan yang paling besar dalam mempertahankan SID selama ini?
Kita merasa it's just the beginning of SID. Kita baru saja terlahir kembali dengan album Angels and The Outsiders dan jalan kita masih sangat panjang. 14 tahun mungkin bukan waktu yang singkat namun kami masih terus belajar. Belajar bagaimana menundukkan industri musik Indonesia, belajar bagaimana menerjemahkan isi kepala dan hati kita dengan lebih utuh tanpa bias agar pendengar juga bisa menerjemahkannya dengan benar. Dalam tubuh SID sendiri saat ini kita tidak menemukan masalah yang signifikan untuk menjaga keutuhan band. Tantangan terbesar justru datangnya dari industri musik Indonesia dimana kita kadang dihadapkan dengan sebuah tembok besar bernama diskriminasi. Hal-hal seperti itu yang kadang membat kita drop, namun kadang juga memberi motivasi untuk lebih keras lagi menampar wajah industri musik Indonesia, dengan prestasi dan hal-hal positif tentunya.
8. Musik Indonesia saat ini dihuni band-band yang seragam. Apakah kalian melihat itu sebagai tantangan, sesuatu yang harus hilang, atau itu justru tidak masuk dalam perhatian kalian?
Bagi SID itu sebuah tantangan besar yang harus ditaklukkan. Kita ini bagaikan semut yang melawan gajah, namun semutnya percaya diri karena punya karma dan strategi yang bagus. Situasi industri musik Indonesia inilah yang membuat kita tertantang untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa musisi Indonesia sebenarnya tidak seragam. Dan sebenarnya terlihat seragam karena band-band yang muncul di TV/media adalah band-band yang itu itu saja. Hasil survei statistik amatir versi SID: di Indonesia jumlah band yang memainkan musik-musik cutting edge lebih banyak daripada band-band komersial. Lalu kenapa band komersial yang selalu dominan di media-media? Itulah yang sedang kita pelajari formula nya, kita mencoba dalami trik-trik bisnis nya tanpa mengorbankan idealisme dan sikap hidup. Kita percaya -apalagi dengan fanbase Outsiders yang bertambah kuat setiap detik- jika serius kita pasti bisa menaklukkan sang gajah industri.
9. Kalian berbicara tentang hal-hal yang 'rumit' melalui musik, seperti menentang perang, kesetaraan, sampai Bhinneka Tunggal Ika. Apakah pernah merasakan kesulitan dalam melakukannya? Jika ya, apa saja dan bagaimana mengatasinya?
Hal-hal yang kita suarakan sebenarnya bukanlah hal-hal yang rumit. It's all real. Itu semua terjadi setiap saat disekitar kita, secara langsung maupun tidak. Cuma masalahnya sekarang apakah kita mau membicarakannya? Kita percaya sebuah issue akan bisa menjadi sedikit teratasi dan mulai menemukan solusi disaat kita mulai terbiasa membicarakannya. Contohnya issue HIV dan Global Warming, masyarakat kita sekarang sudah jauh lebih terbuka dan educated tentang issue-issue tersebut. Mungkin suatu saat, hal yang sama akan terjadi dalam issue kesetaraan, SARA yang -mudah-mudahan- nantinya bisa memberi impact positif dalam kehidupan kita di Indonesia yang multi-kultural. Kami sadar, kami ini hanya sebuah band dan pesan-pesan kita tidak akan bisa merubah dunia seperti yang kita bayangkan. Kami tahu banyak musisi lain melihat apa yang kita lakukan ini tidak efektif. Buat apa musisi bicara tentang kesetaraan, perdamaian? Useless! Sudah sana cari duit saja, main aman, nyanyi cinta, kalian tidak akan bisa merubah Indonesia. And you know what? We don't give a flying fuck about what you think of us. We're rebels and we like to take some risk. Kita tidak mengklaim diri kita lebih baik daripada orang lain, tapi SID mencintai Indonesia dan ingin melakukan sesuatu yang positif untuk pemikiran generasi muda bangsa ini. Bagi SID, rasa ketidak pedulian tidak akan membawa kita kemana-mana. Menjadi peduli adalah tindakan yang bernyali. Karena kita punya musik, maka musik lah yang kita pakai sebagai senjata. Kita tidak pernah menemukan kesulitan besar karena kami nyaman dengan apa yang kami lakukan. Kami nyaman berada di posisi ini: sebuah band minoritas dengan fanbase kuat yang tidak takut menjadi dirinya dan selalu berpesta keras untuk Bhinneka Tunggal Ika. Does that sounds familiar di Indonesia? No. Hell no.
10. Apakah kalian merasa harus selalu memasukkan pesan dalam musik kalian?
Tidak juga. Ada beberapa lagu SID yang bercerita tentang hal-hal ringan selain hal 'rumit' diatas. Namun bagi kita semua lagu pasti ada pesannya. Entah itu krusial atau tidak, tergantung dari perspektif dan background pendengarnya.
11. Apa hal yang paling ingin kalian lakukan, tapi belum kesampaian?
Membuat video klip 'Memories of Rose' yang di sutradarai oleh Garin Nugroho dan memakai Christine Hakim sebagai model-nya.
12. Band/musisi apa yang sedang gemar didengar?
Bobby Kool: The Living End, NOFX, AFI, AC/DC, Dave Matthews Band, No Use For A Name.
Eka Rock: The Living End, AC/DC, AFI, Helltrain, Paul Anka, No Use For A Name.
Jrx: The Gaslight Anthem, Bruce Springsteen, Everlast, Social Distortion, Tiger Army.
13. Setelah berdiri selama ini, pencapaian apa yang paling membuat kalian bangga?
Melewati 14 tahun dengan punkrock dan personel yang sama membuat kami merasa kuat. Namun melihat peta kekuatan Outsiders di Indonesia yang berkembang pesat dan makin kuat membuat kami bangga dan percaya diri. Mereka adalah refleksi SID terhadap sikap masyarakat mainstream. Walaupun kami minoritas, kami makin kuat dan tidak pernah sendiri...
14. SID adalah ikon musik Bali. Setujukah Anda dengan pernyataan itu?
Mungkin lebih tepatnya sebagai 'salah satu' ikon musik Bali. Dan lebih tepat lagi kalau SID adalah Ikon Berandalan Bali. Hahaha.
15. Kalian ingin dikenang sebagai apa?
Band yang membuat orang tua dan pacar anda resah.

12 pages of maximum rock n roll with SID!
Label:
Interview,
Superman Is Dead
Interview SID dengan Daymagz
- Apa kabar bali?
Jrx: Bali baik-baik saja bro, masih menjadi tempat bertemunya berbagai kultur yang selalu rame. Oya, suhu air laut di pantai Kuta akhir-akhir ini sangat dingin, kalau surfing tidak bisa lama-lama.....
- Siapa yg kalian kagumi?
Jrx: Saat ini saya kagum dengan Mbah Surip, beliau adalah sosok yang merepresentasikan cinta kasih yang sebenarnya.
- Angel and outsiders begitu dewasa, tangguh dan mengagumkan. whats next project?
Jrx: Belum ada bayangan absolut. Tapi tampaknya tour ke luar negeri masih menjadi salah satu menu utama agenda SID. Tampar dan tampar terus wajah industri musik Indonesia.
- Kalian berteriak "harus percaya tak ada yg sempurna..."
sedangkan di group facebook, penggemar kalian sempat kecewa karena SID sempat satu panggung dengan kangen band.
ini sangat kontradiksi.
apa kalian merasa pesan di lirik tsb kurang maksimal?
Jrx: Good question. Dari awal, SID sepenuhnya sadar kalau tidak semua penggemar bisa menangkap dengan literal apa pesan lagu-lagu kami. Kita berbicara mengenai beribu-ribu kepala manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak mungkin kita bisa menyeragamkan, dan tidak perlu juga diseragamkan. That's just life. Jadi lirik '...tak ada yang sempurna' juga bisa kita posisikan sebagai lirik yang kita nyanyikan pada diri kita sendiri.
Dan SID harus bisa deal dengan itu. Khusus mengenai kasus Kangen Band, bisa dimengerti kenapa mereka tidak terima kita sepanggung. Itu wajar. Semua bagian dari proses filter untuk pada akhirnya hanya penggemar sejati yang tersisa.
- Siapa yang merancang kebutuhan visual SID? (fotografer, logo, artwork, videoworks, etc)
Jrx: Semua dari SID sendiri. Kita bertiga membuat konsep, merancang artworks, menulis skenario klip dll. Biasanya kita kerjasama dengan photografer/videomaker lokal untuk urusan photo/klip. Selalu support local talent semampu kita.
- SID sering menggunakan ikon-ikon "rasa amerika", seperti : cadillac, whiskey, tattoo, dadu, gurun nevada, tequila, vegas, lowrider, bengkel, etc. baik visual, lirik sampai artikel di web kalian.
apa ada alasan tertentu?
apa latar belakangnya terciptanya ikon tsb?
apakah suatu saat akan berubah?
Jrx: Alasan pertama tentu saja karena kita mencintai ikon-ikon tersebut. Terlepas apakah mereka berasal dari Amerika atau tidak bukanlah hal yang penting. Kami menyukainya secara estetika [gagah] dan secara konsep [jelas], bukan karena berasal dari Amerika. The way we see it, ada banyak energi yang tersimpan dalam ikon-ikon tersebut. Sebut saja misalnya Cadillac yang bagi kami melambangkan kekuatan yang anggun, tattoo yang melambangkan komitmen dan loyalitas, whiskey yang melambangkan kerasnya hidup, dadu yang melambangkan sikap berani mengambil resiko. Hal-hal seperti itu yang membuat SID tetap berbahaya dan tidak bisa ditiru di Indonesia. Apakah suatu saat semua itu akan berubah? Cuma Elvis dan Tuhan yang tahu.....
- Baru saja Jakarta menjadi korban teror bom, apa yang SID lakukan bila ada kesempatan bertemu langsung dengan mastermind teroris?
Jrx: Saya akan memaksanya untuk tiarap dan menggigit tepi trotoar, lalu dengan sekuat tenaga akan saya injak kepalanya sampai rahangnya hancur. Saya tidak menyukai kekerasan tapi hanya untuk sang mastermind teror, saya siap menjadi setan.
- Lets talk bout enviroment. bali sempat dikecam dunia internasional karena dianggap sebagai tempat pembantaian penyu dan jalak bali juga nyaris punah.
ada tangapan SID tentang hal ini?
Jrx: Sangat sedih, tapi memang tidak banyak yang bisa kita lakukan. Kesadaran masyarakat di Bali masih rendah. Jangankan melindungi binatang langka, membuang sampah saja masih sembarangan. Masyarakat Bali berpikir sangat simpel dan issue-issue tersebut dianggap kurang penting karena masih ada issue lain yang lebih dekat dengan kehidupan ekonomi mereka. Harus ada satu moment kuat yang bisa menyadarkan mereka. Kita tunggu saja, mudah-mudahan SID memiliki moment tersebut.
Jrx: Bali baik-baik saja bro, masih menjadi tempat bertemunya berbagai kultur yang selalu rame. Oya, suhu air laut di pantai Kuta akhir-akhir ini sangat dingin, kalau surfing tidak bisa lama-lama.....
- Siapa yg kalian kagumi?
Jrx: Saat ini saya kagum dengan Mbah Surip, beliau adalah sosok yang merepresentasikan cinta kasih yang sebenarnya.
- Angel and outsiders begitu dewasa, tangguh dan mengagumkan. whats next project?
Jrx: Belum ada bayangan absolut. Tapi tampaknya tour ke luar negeri masih menjadi salah satu menu utama agenda SID. Tampar dan tampar terus wajah industri musik Indonesia.
- Kalian berteriak "harus percaya tak ada yg sempurna..."
sedangkan di group facebook, penggemar kalian sempat kecewa karena SID sempat satu panggung dengan kangen band.
ini sangat kontradiksi.
apa kalian merasa pesan di lirik tsb kurang maksimal?
Jrx: Good question. Dari awal, SID sepenuhnya sadar kalau tidak semua penggemar bisa menangkap dengan literal apa pesan lagu-lagu kami. Kita berbicara mengenai beribu-ribu kepala manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak mungkin kita bisa menyeragamkan, dan tidak perlu juga diseragamkan. That's just life. Jadi lirik '...tak ada yang sempurna' juga bisa kita posisikan sebagai lirik yang kita nyanyikan pada diri kita sendiri.
Dan SID harus bisa deal dengan itu. Khusus mengenai kasus Kangen Band, bisa dimengerti kenapa mereka tidak terima kita sepanggung. Itu wajar. Semua bagian dari proses filter untuk pada akhirnya hanya penggemar sejati yang tersisa.
- Siapa yang merancang kebutuhan visual SID? (fotografer, logo, artwork, videoworks, etc)
Jrx: Semua dari SID sendiri. Kita bertiga membuat konsep, merancang artworks, menulis skenario klip dll. Biasanya kita kerjasama dengan photografer/videomaker lokal untuk urusan photo/klip. Selalu support local talent semampu kita.
- SID sering menggunakan ikon-ikon "rasa amerika", seperti : cadillac, whiskey, tattoo, dadu, gurun nevada, tequila, vegas, lowrider, bengkel, etc. baik visual, lirik sampai artikel di web kalian.
apa ada alasan tertentu?
apa latar belakangnya terciptanya ikon tsb?
apakah suatu saat akan berubah?
Jrx: Alasan pertama tentu saja karena kita mencintai ikon-ikon tersebut. Terlepas apakah mereka berasal dari Amerika atau tidak bukanlah hal yang penting. Kami menyukainya secara estetika [gagah] dan secara konsep [jelas], bukan karena berasal dari Amerika. The way we see it, ada banyak energi yang tersimpan dalam ikon-ikon tersebut. Sebut saja misalnya Cadillac yang bagi kami melambangkan kekuatan yang anggun, tattoo yang melambangkan komitmen dan loyalitas, whiskey yang melambangkan kerasnya hidup, dadu yang melambangkan sikap berani mengambil resiko. Hal-hal seperti itu yang membuat SID tetap berbahaya dan tidak bisa ditiru di Indonesia. Apakah suatu saat semua itu akan berubah? Cuma Elvis dan Tuhan yang tahu.....
- Baru saja Jakarta menjadi korban teror bom, apa yang SID lakukan bila ada kesempatan bertemu langsung dengan mastermind teroris?
Jrx: Saya akan memaksanya untuk tiarap dan menggigit tepi trotoar, lalu dengan sekuat tenaga akan saya injak kepalanya sampai rahangnya hancur. Saya tidak menyukai kekerasan tapi hanya untuk sang mastermind teror, saya siap menjadi setan.
- Lets talk bout enviroment. bali sempat dikecam dunia internasional karena dianggap sebagai tempat pembantaian penyu dan jalak bali juga nyaris punah.
ada tangapan SID tentang hal ini?
Jrx: Sangat sedih, tapi memang tidak banyak yang bisa kita lakukan. Kesadaran masyarakat di Bali masih rendah. Jangankan melindungi binatang langka, membuang sampah saja masih sembarangan. Masyarakat Bali berpikir sangat simpel dan issue-issue tersebut dianggap kurang penting karena masih ada issue lain yang lebih dekat dengan kehidupan ekonomi mereka. Harus ada satu moment kuat yang bisa menyadarkan mereka. Kita tunggu saja, mudah-mudahan SID memiliki moment tersebut.
Label:
Interview,
Superman Is Dead
Interview Jrx In English 2005
1. Do you remember the first band you heard or CD you bought? What or who was it?
Jrx: Well, when I was a kid my dad used to own a very small record shop at downtown Kuta in the 80s, so I hardly buy records [CD didnt even exist yet in Indonesia]. But I remember growing up listening to Dads fave like Men At Work, Midnight Oil, Rod Stewart, Bob Marley, Roy Orbison, Gipsy Kings and some Indonesian bands/solo artists..mostly ready-to-cry pop artists that are probably die already. But when I was 15, I fell in love w/ Nirvana and all the Seattle warriors. But the first record I bought was Sepultura Chaos A.D coz I couldnt find this album in my dads shop.
2. When and why did you decide that you wanted to become a rock star?
Jrx: Funny question. I don't like the term rockstar so I prefer punkrocker or musician. And the first time I wanted to be a musician is when I was 16 . We had a hi-school party and one of my class mate was playing the drum. I was never see anyone playing drum so close and I got so amazed by the sounds and they way he played it. That hits me and from that moment I wanted to be a musician. In school I got involved in some cover bands playing Guns n Roses and Bon Jovi cos no one are into grunge at the moment. Weird.
3. Have you always been a fan of the punk genre? What do you like about punk?
Jrx: A year later [1995] when I was 17, Green Day came and open up my mind about all the youth rebellion and about being a punkrocker. I fell in love with the whole concept of being different, honest and not listening to what people say. The resistance, the alcohol, eyeliner, tattoos, wifebeater, everything.Thats when this entire roller coaster ride started. I'd never wanna be a rockstar but if people today call what I do is being a rockstar, I don't care. Me and my band know what were made of.
4. Do you consider your music a fusion of punk and rockabilly? How does rockabilly come into play in your music?
Jrx: Yes, were a blend of punkrock and a bit of rockabilly. At the beginning we dont know anything about rockabilly, until 1997 when I know found out about the Orange Countys Social Distortion. This band blew my mind and gave me bigger impact than Green Day, still until this day. I know rockabilly from their interviews and stuff. Then we try to find out about other rocka/psychobilly bands like The Reverend Horton Heat, The Cramps, Johny Cash and all that. But still, Superman Is Dead roots are punkrock. We just put rockabilly elements in our lyrics, guitars and the way we dress up, mainly. We mix it up cos we love both genres. Also we don't wanna look and sounds like an average punkrock bands.
5. What was the first punk band you heard?
Jrx: Sex Pistols, but didnt like them very much until now.
6. Who are your influences?
Jrx: Social Distortion, The Clash, Ramones, Green Day, Rancid, U.S Bombs, Tiger Army, Dropkick Murphys, NOFX, The Living End, Johny Cash, The Reverend Horton Heat, AFI, Transplants, Cypress Hill, Avenged Sevenfold, Michael Buble, Brian Setzer, Big Bad Voodoo Daddy and some Balinese/Indonesian punkrock bands.
7. Why is most of your music in English rather than Bahasa?
Jrx: Its just a habit factor. Cos mostly were listening to western bands so when we write songs, English is the first language that came up in our head. Easy and simple like that. But in our newest 6th album Black Market Love we tried to write a bit more songs in Bahasa cos we have so many important and significant massages for the generation, and we want them to understand what were singing about. We wanna show people what were made of. We wanna make some point since theres so many misunderstanding about us goin on in Indonesia. Lots of people thinks were just some punk band with tattoos that just wanna be rich and famous.
8. Do you have plans to play in North America, Europe or Australia, where some of your overseas fans are based?
Jrx: Yes we do have many, but until now it's not happening yet. We got so many offers to play overseas but it's always got canceled. Maybe it's not our luck yet. Plus it's not easy you know, for a 3rd world country band like us, who have a shitty money rate, to go travel overseas. Next year we have another offer to play in U.K, hopefully this ones for real. God please put some mercy on me.
9. Which countries outside of Asia have you played in?
Jrx: A really really empty country called None. [kidding]
10. Which artists would you like to work with?
Jrx: Mike Ness, Brian Setzer, Billie Joe Armstrong, Johny Cash, Joe Strummer, Tim Armstrong and Shaggy Dog [ska swing band from Indonesia].
11. Has the music scene in Bali and Indonesia in general changed since the bombings? How has your music and outlook on life in general changed since then?
Jrx: Yes, it brought us so much anger and frustration. Bali is never gonna be the same since the bombings. So many people got crazy, lose their jobs and the criminal statistic got higher. And as the youth of counter-culture, we have a lot of things to fight now. Fascism, ignorance, discrimination, terrorism [by east and west], religion fundamentalists & media brainwash. Were fighting for our minority rights [yes, Bali is the most minority province in Indonesia]. We want our home to be like what it used to be, but theres so many fascist-pig out there thinks that our home needs to be destroyed. That's what the Bali punkrock scene is all about now. Were sick and tired of being in the middle of this so-called religion war. We dont wanna be a part of it and we dont wanna take sides cos we think both sides are wrong. I hope U.S President Mr. George W. Bush is reading this interview. MR. BUSH, PLEASE STOP THE WAR IN IRAQ! It destroys and hurts the whole world, race and religion. You know the reason why they bombs Bali? It's cos U.S keeps bombing Iraq. They want revenge and Bali is a perfect target since there are many westerns in Bali. We Balinese really feel the impact of the war in Iraq but we got no power to resist that. We are minority in our country. We are victims for things were not. So Mr. Bush, please stop it if you got a sense of humanity.
Source: https://www.facebook.com/notes/jrx/jrx-interview-in-english-2005/199640946245
Jrx: Well, when I was a kid my dad used to own a very small record shop at downtown Kuta in the 80s, so I hardly buy records [CD didnt even exist yet in Indonesia]. But I remember growing up listening to Dads fave like Men At Work, Midnight Oil, Rod Stewart, Bob Marley, Roy Orbison, Gipsy Kings and some Indonesian bands/solo artists..mostly ready-to-cry pop artists that are probably die already. But when I was 15, I fell in love w/ Nirvana and all the Seattle warriors. But the first record I bought was Sepultura Chaos A.D coz I couldnt find this album in my dads shop.
2. When and why did you decide that you wanted to become a rock star?
Jrx: Funny question. I don't like the term rockstar so I prefer punkrocker or musician. And the first time I wanted to be a musician is when I was 16 . We had a hi-school party and one of my class mate was playing the drum. I was never see anyone playing drum so close and I got so amazed by the sounds and they way he played it. That hits me and from that moment I wanted to be a musician. In school I got involved in some cover bands playing Guns n Roses and Bon Jovi cos no one are into grunge at the moment. Weird.
3. Have you always been a fan of the punk genre? What do you like about punk?
Jrx: A year later [1995] when I was 17, Green Day came and open up my mind about all the youth rebellion and about being a punkrocker. I fell in love with the whole concept of being different, honest and not listening to what people say. The resistance, the alcohol, eyeliner, tattoos, wifebeater, everything.Thats when this entire roller coaster ride started. I'd never wanna be a rockstar but if people today call what I do is being a rockstar, I don't care. Me and my band know what were made of.
4. Do you consider your music a fusion of punk and rockabilly? How does rockabilly come into play in your music?
Jrx: Yes, were a blend of punkrock and a bit of rockabilly. At the beginning we dont know anything about rockabilly, until 1997 when I know found out about the Orange Countys Social Distortion. This band blew my mind and gave me bigger impact than Green Day, still until this day. I know rockabilly from their interviews and stuff. Then we try to find out about other rocka/psychobilly bands like The Reverend Horton Heat, The Cramps, Johny Cash and all that. But still, Superman Is Dead roots are punkrock. We just put rockabilly elements in our lyrics, guitars and the way we dress up, mainly. We mix it up cos we love both genres. Also we don't wanna look and sounds like an average punkrock bands.
5. What was the first punk band you heard?
Jrx: Sex Pistols, but didnt like them very much until now.
6. Who are your influences?
Jrx: Social Distortion, The Clash, Ramones, Green Day, Rancid, U.S Bombs, Tiger Army, Dropkick Murphys, NOFX, The Living End, Johny Cash, The Reverend Horton Heat, AFI, Transplants, Cypress Hill, Avenged Sevenfold, Michael Buble, Brian Setzer, Big Bad Voodoo Daddy and some Balinese/Indonesian punkrock bands.
7. Why is most of your music in English rather than Bahasa?
Jrx: Its just a habit factor. Cos mostly were listening to western bands so when we write songs, English is the first language that came up in our head. Easy and simple like that. But in our newest 6th album Black Market Love we tried to write a bit more songs in Bahasa cos we have so many important and significant massages for the generation, and we want them to understand what were singing about. We wanna show people what were made of. We wanna make some point since theres so many misunderstanding about us goin on in Indonesia. Lots of people thinks were just some punk band with tattoos that just wanna be rich and famous.
8. Do you have plans to play in North America, Europe or Australia, where some of your overseas fans are based?
Jrx: Yes we do have many, but until now it's not happening yet. We got so many offers to play overseas but it's always got canceled. Maybe it's not our luck yet. Plus it's not easy you know, for a 3rd world country band like us, who have a shitty money rate, to go travel overseas. Next year we have another offer to play in U.K, hopefully this ones for real. God please put some mercy on me.
9. Which countries outside of Asia have you played in?
Jrx: A really really empty country called None. [kidding]
10. Which artists would you like to work with?
Jrx: Mike Ness, Brian Setzer, Billie Joe Armstrong, Johny Cash, Joe Strummer, Tim Armstrong and Shaggy Dog [ska swing band from Indonesia].
11. Has the music scene in Bali and Indonesia in general changed since the bombings? How has your music and outlook on life in general changed since then?
Jrx: Yes, it brought us so much anger and frustration. Bali is never gonna be the same since the bombings. So many people got crazy, lose their jobs and the criminal statistic got higher. And as the youth of counter-culture, we have a lot of things to fight now. Fascism, ignorance, discrimination, terrorism [by east and west], religion fundamentalists & media brainwash. Were fighting for our minority rights [yes, Bali is the most minority province in Indonesia]. We want our home to be like what it used to be, but theres so many fascist-pig out there thinks that our home needs to be destroyed. That's what the Bali punkrock scene is all about now. Were sick and tired of being in the middle of this so-called religion war. We dont wanna be a part of it and we dont wanna take sides cos we think both sides are wrong. I hope U.S President Mr. George W. Bush is reading this interview. MR. BUSH, PLEASE STOP THE WAR IN IRAQ! It destroys and hurts the whole world, race and religion. You know the reason why they bombs Bali? It's cos U.S keeps bombing Iraq. They want revenge and Bali is a perfect target since there are many westerns in Bali. We Balinese really feel the impact of the war in Iraq but we got no power to resist that. We are minority in our country. We are victims for things were not. So Mr. Bush, please stop it if you got a sense of humanity.
Source: https://www.facebook.com/notes/jrx/jrx-interview-in-english-2005/199640946245
Rabu, 13 Maret 2013
Interview Jrx dengan Mave Magazine: Devildice
1. Langsung aja, DEVILDICE (what, who, when, where, why, and how) ?
Devildice (DD) adalah orkestra ilmu hitam tercanggih dari Bali. DD memperbudak saya (JRX) pada gitar/vokal, Kuzz-bass, TR-drums, Cash-gitar/vokal latar dan Mr.F pada trumpet/gitar akustik. Terbentuk tahun 1997 dengan nama awal Culture On Fire dan berubah menjadi DD tahun 2002 karena ereksi tidak bisa diberi pisang goreng. DD juga lahir karena tidak semua lagu yang saya tulis pas untuk karakter death metal SID.
2. Bisa ceritakan tentang album DEVILDICE yang akan di-release dalam waktu dekat ini?
Album baru kami akan rilis bulan Juni 2011 via Sony Music Indonesia. Konten-nya dominan tentang rasa sepi, nihilisme dan harapan/perayaan terhadap identitas-identitas baru yang kita temui sepanjang garis kehidupan yang (kadang) tidak lucu ini. Jika harus dijelaskan, arah musikalnya pekat terpengaruh film-film kelas B, budaya motor, musik latin, Johny Cash, Leonard Cohen, Social Distortion dll.
3. Berapa lama proses pengerjaan album DEVILDICE?
Sekitar 6 bulan, di Electrohell Studio, Denpasar.
4. Apa nama album DEVILDICE dan ada berapa lagu?
"Army Of The Black Rose" berkekuatan 11 skala richter plus 1 track instrumentalia untuk ngamuk jam 3 pagi di pasar Kumbasari.
5. Di album ini ada yang featuring dengan musisi lain ga? Kalo ada kenapa memilih dengan musisi tersebut?
Banyak. Ada Sari (Nymphea) yang berduet dengan saya di "Diamonds Are Forever" dimana Leo dan Kape (Suicidal Sinatra) juga ikut mengisi gitar/bass. Ada Hendra (Telephone) yang selain sebagai music director DD, juga ikut membantu pada gitar. Lalu ada Alit Anima pada organ dan Bobby Kool pada backing vokal. Mereka kami pilih karena rata-rata punya motor sendiri, jadi gak perlu dijemput saat mau rekaman. Jelas?
6. Apa yang diharapkan dari album DEVILDICE ini?
Tidak banyak. We just wanna play some music and make some art. Menyenangkan diri sendiri. If people like it then it's good, if they don't then it's totally OK. DD tidak ingin mengubah dunia. Mungkin DD mencoba melawan dunia. Tapi gak terlalu niat :)
7. Ada pesan-pesan yang disampaikan ga di album DEVILDICE ini?
Tidak ada. Hampir semua lyric bersifat autobiografi yang disesaki roh narcism, jadi gak berpesan apa-apa selain; This is us, Devildice and we think we are a good band.
8. Seluruh personil DEVILDICE kan biker, motor apa ajah yang digunakan oleh setiap personil?
TR dan Cash adalah loyalis Jap Style, mereka memakai Honda CB yang di kustom dengan gaya old skool oleh Keduk. Saya dan Kuzz loyalis HD, sama-sama memakai Sportster yang sudah di kustom dengan direksi chopper/bobber. Saya dan Kuzz juga sempat jadi kolektor mobil tua, dan sejak jadi bintang iklan shampo si Kuzz makin percaya diri dengan koleksi mobil tua nya.
9. Menurut DEVILDICE seberapa erat hubungan motor dengan musik DEVILDICE?
DD dan motor memiliki beberapa persamaan: Sama-sama dipakai untuk melarikan diri dari masalah. Sama-sama membutuhkan 'batu' dalam menikmatinya. Dan yang paling sakti: DD dan motor sama-sama bisa pergi begitu saja tanpa tahu kemana arah yang dituju.
10. Pengalaman paling menarik saat riding?
Pada saat riding, jangan pernah mau berada di posisi dibelakang Kuzz. Cuma itu yang bisa kami informasikan. Detailnya terlalu sadis untuk majalah ini. Melibatkan darah dan leher patah.
11. Mike Ness. Siapa Mike Ness untuk kalian?
Semacam figur om-om keren yang meski ketinggalan jaman, tetap respect sama generasi setelah dia.
12. Bagaimana tanggapan kalian dengan kematian Osama?
Biasa saja, gak akan mengubah apa-apa. Kekerasan atas nama agama hanya akan bisa berkurang/hilang ketika di dunia ini tidak ada lagi yang merasa agamanya paling hebat/benar. Rasa sejajar itu yang susah atau bahkan tidak mungkin terwujud.
13. TIMES beberapa waktu lalu memberitakan tentang "keburukan" Kuta (sampah, macet, dll) tanggapan kalian gimana? Ada saran?
Memang media kadang melebihkan/mengurangi kadar kebenaran. Tapi tentang situasi Kuta memang demikian adanya. Saran kami? Simpel. Buang sampah pada tempatnya. Kurangi naik motor/mobil. Hidupkan kembali Car Free Day. Sebenarnya jalan keluarnya sudah jelas dan mudah. Problem nya cuma satu: masyarakat mau gak meminggirkan kepentingan pribadi demi kebaikan yang lebih besar?
14. Apa yang akan kalian lakukan jika kalian diberi kesempatan menjadi polisi dalam waktu satu hari?
Ini imajinasi saja, jadi tolong jangan dianggap terlalu serius: Setelah puas makan sate kambing di GOR, kami akan ngebut menerobos lusinan lampu merah, merampok bank, lalu menculik dan mengawini seluruh teller nya, baik laki atau perempuan! :)
15. Pilih Honda Win atau Yamaha RX King?
RX King! Demi menjaga citra brandes yang susah kami lepaskan ini *lirik Cash*
16. Pilih fixie atau low rider?
Low Rider. Karena belum punya fixie.
17. Pilih Julia Perez atau Dewi Persik?
Julia terlihat sedikit lebih pintar dan punya selera. So ya….
18. Ok..last words?
"Diantara mawar dan belati, selalu ada senja abadi, disana kita bertemu dan belajar bahwa hidup tak pernah sempurna"
Join Mave Magazine fanpage at http://www.facebook.com/pages/MAVE-Magz/200893589938306?ref=ts&sk=wall
Devildice (DD) adalah orkestra ilmu hitam tercanggih dari Bali. DD memperbudak saya (JRX) pada gitar/vokal, Kuzz-bass, TR-drums, Cash-gitar/vokal latar dan Mr.F pada trumpet/gitar akustik. Terbentuk tahun 1997 dengan nama awal Culture On Fire dan berubah menjadi DD tahun 2002 karena ereksi tidak bisa diberi pisang goreng. DD juga lahir karena tidak semua lagu yang saya tulis pas untuk karakter death metal SID.
2. Bisa ceritakan tentang album DEVILDICE yang akan di-release dalam waktu dekat ini?
Album baru kami akan rilis bulan Juni 2011 via Sony Music Indonesia. Konten-nya dominan tentang rasa sepi, nihilisme dan harapan/perayaan terhadap identitas-identitas baru yang kita temui sepanjang garis kehidupan yang (kadang) tidak lucu ini. Jika harus dijelaskan, arah musikalnya pekat terpengaruh film-film kelas B, budaya motor, musik latin, Johny Cash, Leonard Cohen, Social Distortion dll.
3. Berapa lama proses pengerjaan album DEVILDICE?
Sekitar 6 bulan, di Electrohell Studio, Denpasar.
4. Apa nama album DEVILDICE dan ada berapa lagu?
"Army Of The Black Rose" berkekuatan 11 skala richter plus 1 track instrumentalia untuk ngamuk jam 3 pagi di pasar Kumbasari.
5. Di album ini ada yang featuring dengan musisi lain ga? Kalo ada kenapa memilih dengan musisi tersebut?
Banyak. Ada Sari (Nymphea) yang berduet dengan saya di "Diamonds Are Forever" dimana Leo dan Kape (Suicidal Sinatra) juga ikut mengisi gitar/bass. Ada Hendra (Telephone) yang selain sebagai music director DD, juga ikut membantu pada gitar. Lalu ada Alit Anima pada organ dan Bobby Kool pada backing vokal. Mereka kami pilih karena rata-rata punya motor sendiri, jadi gak perlu dijemput saat mau rekaman. Jelas?
6. Apa yang diharapkan dari album DEVILDICE ini?
Tidak banyak. We just wanna play some music and make some art. Menyenangkan diri sendiri. If people like it then it's good, if they don't then it's totally OK. DD tidak ingin mengubah dunia. Mungkin DD mencoba melawan dunia. Tapi gak terlalu niat :)
7. Ada pesan-pesan yang disampaikan ga di album DEVILDICE ini?
Tidak ada. Hampir semua lyric bersifat autobiografi yang disesaki roh narcism, jadi gak berpesan apa-apa selain; This is us, Devildice and we think we are a good band.
8. Seluruh personil DEVILDICE kan biker, motor apa ajah yang digunakan oleh setiap personil?
TR dan Cash adalah loyalis Jap Style, mereka memakai Honda CB yang di kustom dengan gaya old skool oleh Keduk. Saya dan Kuzz loyalis HD, sama-sama memakai Sportster yang sudah di kustom dengan direksi chopper/bobber. Saya dan Kuzz juga sempat jadi kolektor mobil tua, dan sejak jadi bintang iklan shampo si Kuzz makin percaya diri dengan koleksi mobil tua nya.
9. Menurut DEVILDICE seberapa erat hubungan motor dengan musik DEVILDICE?
DD dan motor memiliki beberapa persamaan: Sama-sama dipakai untuk melarikan diri dari masalah. Sama-sama membutuhkan 'batu' dalam menikmatinya. Dan yang paling sakti: DD dan motor sama-sama bisa pergi begitu saja tanpa tahu kemana arah yang dituju.
10. Pengalaman paling menarik saat riding?
Pada saat riding, jangan pernah mau berada di posisi dibelakang Kuzz. Cuma itu yang bisa kami informasikan. Detailnya terlalu sadis untuk majalah ini. Melibatkan darah dan leher patah.
11. Mike Ness. Siapa Mike Ness untuk kalian?
Semacam figur om-om keren yang meski ketinggalan jaman, tetap respect sama generasi setelah dia.
12. Bagaimana tanggapan kalian dengan kematian Osama?
Biasa saja, gak akan mengubah apa-apa. Kekerasan atas nama agama hanya akan bisa berkurang/hilang ketika di dunia ini tidak ada lagi yang merasa agamanya paling hebat/benar. Rasa sejajar itu yang susah atau bahkan tidak mungkin terwujud.
13. TIMES beberapa waktu lalu memberitakan tentang "keburukan" Kuta (sampah, macet, dll) tanggapan kalian gimana? Ada saran?
Memang media kadang melebihkan/mengurangi kadar kebenaran. Tapi tentang situasi Kuta memang demikian adanya. Saran kami? Simpel. Buang sampah pada tempatnya. Kurangi naik motor/mobil. Hidupkan kembali Car Free Day. Sebenarnya jalan keluarnya sudah jelas dan mudah. Problem nya cuma satu: masyarakat mau gak meminggirkan kepentingan pribadi demi kebaikan yang lebih besar?
14. Apa yang akan kalian lakukan jika kalian diberi kesempatan menjadi polisi dalam waktu satu hari?
Ini imajinasi saja, jadi tolong jangan dianggap terlalu serius: Setelah puas makan sate kambing di GOR, kami akan ngebut menerobos lusinan lampu merah, merampok bank, lalu menculik dan mengawini seluruh teller nya, baik laki atau perempuan! :)
15. Pilih Honda Win atau Yamaha RX King?
RX King! Demi menjaga citra brandes yang susah kami lepaskan ini *lirik Cash*
16. Pilih fixie atau low rider?
Low Rider. Karena belum punya fixie.
17. Pilih Julia Perez atau Dewi Persik?
Julia terlihat sedikit lebih pintar dan punya selera. So ya….
18. Ok..last words?
"Diantara mawar dan belati, selalu ada senja abadi, disana kita bertemu dan belajar bahwa hidup tak pernah sempurna"
Join Mave Magazine fanpage at http://www.facebook.com/pages/MAVE-Magz/200893589938306?ref=ts&sk=wall
Interview Jrx Tentang Nyepi
1. Arti Nyepi buat JRX?
Bagi saya, Nyepi adalah ketika alam (di Bali) diberi kesempatan untuk bernafas bebas, Nyepi adalah satu hari dimana alam bisa lepas dari beban yang dihasilkan oleh ritual keseharian manusia.
2. Apa saja ritual yang selalu dilakukan pada saat Nyepi? Siapa saja yang harus atau boleh melakukannya? Selain nggak boleh menyalakan lampu dan beraktivitas, apa lagi sih yang nggak boleh dilakukan saat Nyepi?
Tergantung. Bagi yang ingin melakukan meditasi/puasa selama Nyepi, tentu saja ritual yang dipersiapkan beda dengan mereka yang ingin bersantai saja selama Nyepi. Dan tidak ada peraturan kalau semua orang di Bali harus melakukan penyepian secara spiritual (meditasi/puasa). Bebas saja, selama tidak keluar rumah (kecuali dalam situasi sakit/melahirkan dll) dan tidak membuat suara bising atau meng-ekspose cahaya/lampu/api secara berlebihan. Perlu saya tambahkan, di Bali walau hampir 100% menerapkan peraturan 'dilarang keluar rumah' saat Nyepi, ada juga desa yang memperbolehkan warga nya untuk keluar rumah, bahkan di beberapa desa ada semacam tradisi 'pesta jalanan' di siang-sore hari nya disaat Nyepi berlangsung.
3. Pengalaman apa yang paling menyenangkan selama melakukan perayaan Nyepi selama hidup Mas?
Mungkin tidak begitu menyenangkan saat itu terjadi tapi it sounds fun now. Jadi sekitar awal tahun 2000 saya dan beberapa teman memutuskan untuk menyepi di sebuah villa tua dan terpencil di Ubud. Dan for some reason, kita memutuskan untuk (hanya) membawa film-film horror untuk ditonton. Saat tiba di villa, suasana sudah mulai aneh. Pelan-pelan terkuak cerita-cerita seperti tentang kolam renang di depan villa yang pernah memakan korban jiwa, cerita tentang bagaimana seorang tamu pernah melihat kepala-kepala keluar dari tembok villa dan -yang paling seru- cerita tentang adanya kuburan tepat disebelah villa yang kita tempati. Saat itu film horor fenomenal 'The Blair Witch Project' baru keluar. Dan karena sifat sok pemberani yang berlebihan, kita memutuskan untuk menontonnya ketika hari menjelang malam. Dan bisa ditebak kejadian selanjutnya: film (yang ternyata) maha ngeri itu akhirnya sukses membuat kita (berempat) ketakutan luar biasa. Dan alam disekitar kita bereaksi terhadap energi rasa takut yang kita dirasakan. Teror pun dimulai, sepanjang malam hingga pagi datang, tak seorang pun dari kita bisa tidur karena suara-suara dan hal-hal aneh mulai bermunculan disekitar villa. It was a real horror time. Pada intinya: nyepi + villa tua + dvd horror = not a good mix.
4. Masih ingat nggak pengalaman pertama melakukan Nyepi? Boleh ceritakan sedikit?
Wah, terus terang saya lupa Nyepi pertama saya. Tapi yang jelas, saat saya masih kecil, Nyepi selalu terlihat sakral, meriah dan penuh misteri. Ada perang petasan dan pesta ogoh-ogoh (semacam patung besar yang diarak beramai-ramai) di malam sebelum Nyepi, para pecalang (patroli keamanan tradisional Bali) yang terlihat angker & galak, dan makanan rumah yang dimasak spesial dikala Nyepi. Sekarang -mungkin karena pengaruh usia- saya tidak merasakan energi yang sama saat Nyepi. Saya lebih concern dengan konsep bahwa Nyepi bukan tentang manusia, tapi tentang alam dan bagaimana manusia menghormati alam. Tentang memberi alam kesempatan untuk bernafas lega.
5. Mas kan orangnya ekpresif dan energetik. Apakah ada kesulitan waktu Nyepi? Misalnya sulit menahan untuk tidak keluar atau pun beraktivitas.
Tidak. Kan ada banyak hal yang bisa saya lakukan di rumah :)
6. Setelah Nyepi, biasanya melakukan apa sih?
Di Bali, sehari setelah Nyepi namanya Manis Nyepi dan hari itu biasanya semua masih libur. Orang-orang merayakannya dengan jalan-jalan bersama keluarga, piknik, ke mall, ke pantai dan semacam nya. Saya mengisi Manis Nyepi dengan hal-hal normal yang saya lakukan setiap hari nya.
7. Seperti apa sih Bali saat Nyepi dan apa yang Mas sukai dari Bali saat Nyepi?
Hal yang tidak pernah saya lewatkan saat Nyepi adalah mencoba mendengar apa yang semesta katakan pada manusia. Mendengarkan bagaimana semesta bernafas adalah sebuah keindahan tersendiri. Dan menurut saya pribadi, jika ritual Nyepi bisa dilakukan di seluruh dunia serentak dan rutin selama -misalnya- sebulan sekali, kita akan bisa menyelamatkan banyak hal yang tidak kita pikirkan sebelumnya.
Rabu, 27 Februari 2013
Interview tentang Outsiders & Lady Rose
Baru-baru ini Superman Is Dead (SID) berhasil menembus chart popular Billboard. SID dianggap memiliki lebih dari 1,6 juta fans dari seluruh dunia di Facebok. Dan juga berdasarkan survei terhadap sejumlah website, seperti YouTube, Wikipedia, MySpace, Last.fm, dan lainnya jaringan media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Menarik bagi kita untuk mengetahui bagaimana SID bersosialisasi dengan fansnya (Outsiders/LadyRose) dan juga pihak lainnya. Silahkan simak wawancara dengan SID melalui JRX.
1. Seberapa senang sekaligus kebanggaan Indonesia dengan capaian yang diberikan oleh "Billboard"?
JRX: Kami bangga, bisa meletakkan nama Indonesia di peta persaingan musik global. Indonesia juga (sebaiknya) belajar meng-apreciate hal-hal seperti ini dengan adil dan seimbang, jangan hal-hal yang negatif saja yg di blow up.
2. Muda, beda dan berbahaya bagi SID adalah?
JRX: Rangkaian kalimat tsb merepresentasikan energi dan semangat perubahan untuk melawan nilai-nilai lama yg masih dipertahankan kaum mainstream demi eksistensi kepentingan golongan-nya saja.
3. Bagaimana SID melukiskan Outsiders/LadyRose?
JRX: Mereka memiliki 'sesuatu' yg tdk dimiliki fanbase band-band lainnya. Kami percaya hukum semesta dan seleksi alam. Setidaknya, dari jutaan Outsiders/LadyRose pasti akan ada beberapa persen dari mereka yang akan tumbuh menjadi penentu masa depan daerah atau bahkan negara nya. Dan semoga, persepsi positif mereka thd SID bisa menjadi referensi dalam mengambil keputusan nantinya.
4. Tentang suka bersama Outsiders/LadyRose?
JRX: Keriangan kami bersifat sejajar, dikala SID berkunjung ke kota mereka -jika memungkinkan- kita naik sepeda bersama, kadang membersihkan sampah plastik bersama. Itu benar-benar membuat kami bahagia. Juga disaat kami menemukan beberapa Outsiders/LadyRose yg memiliki kecerdasan dan wawasan luas, kadang kami terpesona dan belajar dari mereka.
5. Tentang duka bersama Outsiders/LadyRose?
JRX: Disaat beberapa dari mereka menghujat band lain dengan membawa-bawa nama Outsiders/LadyRose. Itu sangat memalukan! Juga ada beberapa Outsiders/LadyRose dadakan yang tiba-tiba -juga secara mendadak- menyatakan diri anti thd SID setelah tahu kalau SID bukanlah band yang hanya bisa bicara tentang musik.
6. Menuju pertanyaan global, bagaimana pandangan SID terhadap indie scene di Bali, juga di Indonesia?
JRX: Internet sangat berperan dalam memajukan skena indie di dunia, termasuk Indonesia. Dan sudah seharusnya band-band indie makin bisa bersaing seiring dengan kemajuan tehknologi. Dan indikasinya sudah terlihat. Jaman sekarang ga harus kawin cerai lalu masuk infotainment untuk menjadi musisi besar.
7. Juga tentang musik Indonesia secara umum saat ini?
JRX: Secara umum sedikit membaik. Munculnya kembali musisi pop berkelas macam KLA Project, Anggun atau yang lebih baru semacam Sandy Sondhoro, Dira Sugandi dll mampu sedikit mengobati iritasi telinga akibat serangan nada arus utama yang itu-itu saja.
8. Pertanyaan terakhir pernyataan bebas yang ingin disampaikan?
JRX: Semoga Indonesia bisa menjadi rumah yang adil serta nyaman dihidupi oleh seluruh warga negara nya.
Label:
Interview,
Superman Is Dead
Interview Jrx dengan Akarumput 2011
Ari Astina atau Jerinx (JRX) bicara tentang kegelisahannya pada kondisi lingkungan Bali, kritiknya pada ritual adat yang kehilangan esensi pemeliharaan ekologi, dan kenangan masa kecilnya di Kuta yang dulu masih indah.
Pada 20 Agustus 2011, akun twitter @JRX_SID yang memiliki sekitar 118.600 follower menulis: “To all Balinese: Apa gunanya rajin sembahyang & percaya konsep Tri Hita Karana jika diam saja melihat Bali pelan-pelan dirusak? Hipokrit?”
Tidak sekali itu drummer Superman Is Dead dan vokalis Devildice ini menulis kritiknya tentang eksploitasi alam di Bali yang kian buruk akhir-akhir ini. Dia juga rajin mengkritik rencana proyek Bali International Park (BIP) di kawasan Bukit, Jimbaran. Proyek di atas lahan telantar seluas 200 hektare ini dimaksudkan sebagai fasilitas Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) tahun 2013.
Bupati Badung belum menurunkan izin untuk mega proyek yang harusnya mulai berjalan bulan Oktober ini. Sudah ada surat Keputusan Presiden (Keppres) untuk memuluskan proyek ini dan pemerintah pusat yang diwakili Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik (yang orang Bali) mendesak proyek ini tetap akan berjalan. Menurut Wacik, Bali masih kekurangan sarana konferensi tingkat internasional. Padahal Nusa Dua sudah punya fasilitas dan berpengalaman sebagai tuan rumah seperti KTT Perubahan Iklim tahun 2007.
JRX juga menulis perkara lingkungan dalam konteks yang lebih kecil. Misalnya tentang program “Recycle Before Dishonor” dari usahanya Rumble Cloth dan Rumble Shop. Toko Rumble di Ubud akan tidak menyediakan kantong plastik untuk mendukung upaya menekan masalah sampah plastik yang pelik di Bali.
Selama satu jam, JRX bicara dengan Alfred Ginting di rumahnya di kawasan Sanur. Petang itu JRX di cukup santai di tengah kesibukannya pengambilan gambar untuk film “Description Without Place” yang disutradarai Richard Oh. Dalam film itu JRX berperan sebagai pemuda Bali, sopir untuk Happy Salma, pengusaha dari Jakarta yang ingin membuka pabrik air mineral di Bali.
“Saya menerima tawaran peran itu karena suka ceritanya, cerita yang aneh. Dan peran saya tidak menuntut saya jauh dari karakter saya yang sebenarnya. Juga ada pesan ekologisnya,” kata JRX. Berikut petikan wawancaranya:
Apa yang melatarbelakangi Rumble untuk membuat program tidak menyediakan kemasan plastik?
Tema pengurangan tas plastik sudah lama disuarakan SID dan Devidice, jadi supaya ada sinkronisasi antara perkataan dengan tindakan saja sebenarnya. Kami mencoba dari dulu mengangkat tema seperti ini, sebagai bentuk tindakannya. Karena kunci dasar perubahan ekologi itu berawal dari diri sendiri. Kalau kita tidak mulai dari diri sendiri tidak mungkin mengajak orang lain mengikuti kita. Kenapa Rumble Shop di Ubud dan brand Rumble, selain mengangkat tema-tema cutting edge, ingin ada tema edukasinya meski tidak secara langsung. Rumble desainnya untuk anak muda, mudah-mudahan pesan ini sampai ke mereka. Nanti di pintu masuk toko akan dicantumkan pesan untuk membawa kantongan sendiri dari rumah karena tidak tersedia tas plastik, atau membeli tas kain atau tote bag yang disediakan.
Rumble Shop itu pembelinya rata-rata remaja, mungkin dengan cara-cara seperti itu pesannya mudah sampai, daripada mereka diberi penyuluhan. Karena remaja kan otaknya masih bersenang-senang. Kalau dikasih dengan cara-cara yang santai seperti ini lebih enak, meski ada sedikit paksaan. Dari Rumble kita memang harus spend more money menambah modal, tapi we’ll do it. Karena Rumble identik dengan SID dan saya. Jadi pemberontakan jalan, edukasi juga tetap ada.
Kenapa akhir-akhir ini semakin sering bicara tentang ekologi di twitter?
Banyak hal, mungkin salah satu faktor karena saya mulai pindah ke Sanur. Jadi bisa sering ketemu kawan-kawan lama, aktivis seperti Gendo (aktivis Walhi Wayan Gendo Suardana). Waktu saya masih tinggal di Kuta, jarang ketemu karena kehidupan di sana sangat berbeda. Dan kemarin sangat sibuk dengan dua band, rekaman, promo, SID juga sedang siapkan album yang akan rilis tahun ini. Namanya manusia, kekuatan pikiran susah dibagi. Kalau fokus pada satu hal, itu terus dikerjakan, kecuali butuh trigger baru lagi. Sejak pindah ke Sanur ini ketemu teman-teman diskusi dulu di zaman kuliah. Gendo bilang tentang kasus BIP (Bali International Park). Ini salah satu trigger.
Setelah ngobrol berjam-jam dengan dia mulai terbuka lagi cakrawala baru tentang betapa rapuhnya Bali ini. Dan kebijakan-kebijakan yang ada sekarang ini sebagian besar dikontrol oleh pertimbangan ekonomi daripada pertimbangan ekologi. Bali ini sangat kecil, jika nanti 10 atau 20 tahun lagi seperti yang diprediksi terjadi krisis air, kemacetan yang luar biasa, apa bedanya Bali dengan daerah lain? Apalagi sesuatu yang spesial yang kita banggakan dari Bali?
Jadi semuanya karena hal simpel seperti itu. Bukan karena kecintaan pada daerah yang membabi buta atau berlebihan. Rasional saja. Orang Bali secara mainstream percaya pada karma, alam, berserah, rajin sembahyang, tapi tindakan yang nyata untuk memertahankan mimpi mereka agar Bali tetap asri tidak ada. Cuma berdoa agar Bali tetap damai, tetap aman. Tindakan nyata masih jarang. Ini yang perlu diangkat lagi, agar anak muda tergerak. Karena anak muda yang mendengarkan saya adalah yang cutting edge, yang punya pemikiran tidak terlalu terikat dengan adat. Jadi keterikatan pada adat ini yang kadang-kadang bisa menyinggung mereka untk melawan.
Secara kreatif, apakah warna ekologi akan kental di SID atau Devildice?
Secara berkesenian kalau Devildice jarang menyentuh tema-tema seperti ini. Devildice kan semacam proyek alter ego, dimana saya ingin lepas dari masalah-masalah dunia, ini dunia sendiri. Di SID akan selalu ada isu-isu yang kita anggap penting, krusial untuk dibicarakan. Dan masalah ekologi di album baru SID nantinya akan ada, kerangka dasar lirik sudah ada, sasarannya kemana dan apa yang akan diserang. Dari ngobrol-ngobrol lagi dengan aktivis, referensinya makin kuat.
Dengan menggerakkan anak muda, apakah ini jadi kesadaran yang akan membesar?
Saya pikir iya, kalau cara penyampaiannya berkelanjutan dan tujuannya jelas. Dan anak muda itu harus diberi contoh, efek negatif sudah ada. Bali sudah tidak sama lagi, kalau tidak bertindak sekarang akan terlambat. Kalau soal penerimaan mereka apakah akan dilakukan di kehidupan sehari-hari, ya memang tidak bisa instan. Mungkin mereka akan merasakan sendiri dulu akibatnya. Misalnya di rumahnya terjadi krisis air, atau airnya tiba-tiba berwarna hijau atau biru, saat itu mereka akan sadar. Kalau belum tersentuh memang agak susah.
Bagi SID sebagai sebuah band yang besar dari hal-hal yang berbau perubahan ini sudah menjadi tanggung jawab sebuah band, to sing about it, to do something about it.
Momen apa yang paling menyentuh melihat kerusakan ekologi Bali?
Banyak sekali, Pantai Serangan, misalnya. Kami beberapa kali konser atau difoto di sana, dan itu salah satu contoh kegagalan pemerintah termasuk masyarakat adat untuk memertahankan daerahnya. Serangan itu efeknya tidak hanya di sana. Karena pantai itu direklamasi, dibentuk, manusia bergaya seolah-olah dia Tuhan begitu, efeknya bedampak seperti pantai di Ketewel. Teman-teman saya yang tinggal di sana mengeluh, sejak reklamasi di Serangan, abrasi makin parah. Dan masyarakat di sana jadi kehilangan mata pencaharian. Dreamland juga. Kita sering di sana, melihat tebing-tebing dipotong, demi apa sih? Demi orang yang punya duit banyak dan mereka mau nambah lagi. What the fuck, man?
Padahal apalagi kurangnya Bali, apa yang tidak ada di sini sekarang.
Dan orang bali sudah berkecukupan, tinggal maintain saja. Kalau kita mencari esensi dari setiap permasalahan ini, ya larinya ke kepentingan orang-orang luar yang serakah, selalu merasa kurang. Saking pintarnya mereka itu bisa membeli kepala-kepala daerah, tokoh-tokoh adat. Dan orang-orang Bali selama ini resistensinya sangat kecil. Kita di sini cuma akan turun jalan kalau sudah tersentuh masalah spiritual, religi. Itu baru kompak. Kalau masalah seperti ini sangat soft.
Saya dengan Bobby dan Eka sering bicarakan msalah-masalah ini, dan SID bukan band anak-anak lagi, harus ada yang kita perjuangkan. Sebuah band harus ada purpose. Dan purpose kita bukan hanya fame, uang, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk hal-hal seperti ini. Bali ini rumah kita, kita mau apa lagi. Kalau Bali hancur mau pindah kemana? Jogja?
Karena dari sisi pencapaian, di SID materi sudah cukup dan fame kan sudah didapat?
Menurutmu? Hahaha.
Paling basic sih, kita orang bali kalau melakukan sesuatu dalam konteks musik sudah, kami juga sudah coba membuka jalan bagi band-band Bali lain untuk semakin dikenal, meski di Indonesia memang sulit. Kontribusi kami untuk Bali membuka jalan, memerkenalkan nama Bali di kancah nasional. Hahaha. Kancah, blantika, apa sih.
Sukses bagi kami sekarang ini, bukan lagi untuk dikenal semua orang, tapi apakah kita sukses memertahankan rumah kita. Kita kan selalu merasa minoritas di Indonesia, meski Indonesia ini Bhinneka Tunggal Ika. Secara ekonomi Bali diserang, secara kultur diserang dari segala penjuru dan kita tidak kompak. Kita hanya punya jargon Ajeg Bali, tapi itu sebatas kulit saja. Ajeg Bali itu apa? Harus pakai udeng? Harus rajin ke banjar? Itu bukan Ajeg Bali yang sebenarnya. Itu untuk fungsi sosial aaja, kalau kamu nanti mati ada yang datang. Itu aja ketakutannya, tidak mikir ke hal lain. Kita terlalu nyaman di zona itu.
Padahal ritual ada banyak sekali pemujaan pada ekologi…
Menurut saya, ritual itu simbol. Leluhur kita melakukan ritual itu sebagai simbol penghormatan mereka terhadap bumi. Sekarang di saat Bali sudah diserang secara ekologi dan ekonomi, apakah simbol-simbol itu masih relevan? Bukankan tindakan lebih relevan daripada simbol? Saya pernah tweet: untuk apa kita rajin sembahyang, untuk apa kita percaya Tri Hita Karana, kalau kita diam saja tanah kita dirusak, ekologi kita hancur, dan ekonomi kita dikuasai orang asing? Sementara pejabat-pejabat kita, katakanlah Mangku kuasai tanah di sana sini, menguasai ekonomi, masyarakat lemah ditindas. Gila.
Statement ini bisa saja akan mengusik mereka yang di pemerintahan? Siap berdebat dengan mereka.
Siap. Asal tujuan debatnya demi Bali jangka panjang. Tujuan saya kan bukan untuk jadi gubernur, atau jadi orang yang berpengaruh. Cuma keresahan saya sebagai orang Indonesia, orang Bali. Banyak sekali yang membuat saya resah. Perlakuan orang-orang asing terhadap orang Bali yang semakin menurun kualitas rasa hormatnya. Kenapa orang-orang asing, terutama di Kuta, menganggap kita bodoh, budaya mudah dibeli. Karena mentalitas kita itu budak, terbiasa hidup seperti budak. Kalau ada bule ramah, ke sesama orang Bali beda. Kepada pendatang dari Jawa kasar. Apa sih itu kalau bukan mental budak?
Banyak hal-hal yang meresahkan saya. Kalau dulu kan pariwisata lokal itu dengan senyum, masyarakat ramah, dan sekarang keramahan itu makin palsu. Dibuat-buat supaya untuk selamat saja. Padahal kita bisa selamat kalau kita tahu cara bertahan. Tidak perlu ditindas dulu untuk berhasil.
Bisa ceritakan bagaimana pengalaman masa kecil tentang kondisi ekologi Kuta dulu?
Wah banyak sekali, paling signifikan waktu zaman SD di Kuta. Zaman dulu Kuta begitu indah, gang-gangnya masih berpasir. Warung tradisional dimana-mana. Salak bali, pohon kelapa dimana-mana. Hotel-hotel tidak terlalu banyak. Dan yang paling berkesan itu attitude orang asing yang datang ke Bali benar-benar bersahabat. Dan persahabatan mereka dengan orang-orang Bali benar-benar bagus. Mereka surat-suratan. Itu semua didukung lingkungan. Penginapan-penginapan sangat sederhana, dari kayu. Tidak banyak mobil.
Harusnya sekarang itu di Kuta tidak boleh lagi mobil masuk, atau yang boleh masuk hanya sepeda lah. Semua mobil yang mau ke Kuta ke Sentral Parkir. Buat apa itu dibangun Sentral Parkir? Saya pikir dulu tujuannya itu. Sempat ada car free day, dan resistensi terbesarnya itu dari mayarakat lokal. What the fuck? Bukannya berpikir untuk kepentingan yang lebih besar. Kamu nggak mau menyehatkan badanmu sendiri dengan berjalan kaki atau sepeda.
Sebagai anak kecil apa bagian paling menyenangkan di Kuta dulu?
Di sepanjang gang itu seru. Naik sepeda. Gang-gang itu seperti wahana bermain, ada jalan-jalan rahasia. Banyak pohon. Beli es daluman di warung, rujak. Ketemu bule-bule tua yang baik. Karakter bule-bule yang di Kuta dulu agak sama dengan bule-bule yang di Sanur sekarang. Kalau sekarang kan kayak sampah bule-bule di kuta, mereka cuma berpikir semuanya bisa dibeli. Indah banget dulu itu. Waktu kecil punya semacam orang tua angkat, bule-bule tua yang datang tiap tahun, seperti keluarga. Dan bule-bule seperti itu sudah tidak ada lagi di Kuta sekarang. Sekarang mereka ke sini buka bisnis, cari uang.
Ini agak di luar masalah ekologi. Harus diakui orang lokal kalah secara SDM, dijajah secara ekonomi tadi. Orang dari luar Indonesia datang ke Bali buka bisnis dan bisa lebih sukses dari orang Indonesia karena kualitas SDM berbeda. Saya pikir pemerintah harus sadari ini, batasi, jangan sampai kita jadi budak di tanah sendiri. Aneh kan.
Saya pernah menemukan grafiti kecil di Legian isinya: behave stranger, this ain’t your home. Saya khawatir ini bisa menjadi xenophobia?
Tendensi ke arah sana sudah ada. Karena dua faktor, lokal tidak mengedukasi diri. Dan orang luar ke Bali melihat orang lokal begitu mudah dibeli. Lingkaran setan ini yang lama-lama bisa mengerucut menjadi sebuah permusuhan.
Saya pernah mengirim surat ke Jero Wacik entah dia baca atau tidak. Saya kirim email, juga surat tangan, tentang ini. Saya pikir orang penting di pemerintahan itu tidak pernah turun ke jalan, mereka tidak tahu betapa macetnya Kuta setiap malam, banyak anak kecil mengemis, pencopet, jambret. Mereka tidak pernah tahu bagaimana tiap jam enam pagi anak SD ke sekolah mereka lihat bule mabuk, muntah pinggir jalan, naik motor nggak jelas.
Harus pikirkan efek psikologisnya bagi anak-anak. Ini kan tidak bagus bagi masyarakat lokal. Mereka tidak bisa tumbuh dengan natural, mereka sejak kecil terdidik menjadi manusia dangkal, “hidup itu harus seperti ini ya.” Itu bahaya bagi anak-anak Bali. Makanya anak muda di Kuta jarang ada yang kritis, apatis, mereka merasa semuanya normal. It’s not normal, man. They’re on holiday. Sementara kita yang harusnya punya kehidupan normal.
Ketika hidup di daerah ini, merasakan sebenarnya Denpasar atau Sanur lebih baik?
Saya pindah ke sini untuk terapi, setahun mengasingkan diri dulu dari alkohol dan segala amcam. Masih sering ke Kuta, dan sudah terbiasa ke Kuta tanpa minum. Setelah saya rasakan kehidupan di sini lebih organized. Contohnya sanur kan daerah wisata juga, tapi kenapa Sanur lebih bersih dan tertib. Kenapa Kuta tidak? Menurut saya karena masyarakat lokal. Sudah pasti itu. Kalau orang lokal pintar, tahu cara maintain tempatnya, orang akan segan. Seperti kita ke lapangan atau taman yang bersih, mau buang puntung rokok malu kan. Kuta itu dipandang seperti lapangan yang sudah kotor, jadi orang tidak merasa apa-apa buang sampah.
Resistensi masyarakat Kuta sangat kecil. Saya meski sejak kecil di sana, tapi tidak pernah menjadi bagian dari warga di sana, bagian dari banjar. Saya kan pendatang juga. Agak susah juga untuk bisa ikut memengaruhi keputusan lokal.
Kenapa tidak mencoba masuk dan bicara dengan masyarakat lokal?
Itu tidak bisa dilakukan. Seperti ada batas-batas di desa adat itu, kecuali warga asli. Dan harus bersosialisasi. Saya lebih suka esensi daripada omong-omong kosong. Saya pikir sekarang yang harus diajak bicara dan mendengarkan itu orang-orang yang mengambil keputusan penting. Mungkin bupati, baru dia bisa mengatur camat, dan dari camat ke desa adat. Seperti car free day itu gagal karena orang lokal, tidak punya upaya memperbaiki tempatnya. Itu program pemerintah saja gagal, apalagi saya yang bicara yang jelas tidak semua orang suka.
Makanya saya sekarang cuma bisa berharap dari SID, bisa pelan-pelan menyuarakan. Kalau genderasi saya sekarang mungkin mereka sudah tidak suka musik. Sekarang anak-anak SMP, SMA yang mulai bikin Outsiders Kuta dan segala macam, mudah-mudahan nanti mereka bisa membuat pengaruh di banjarnya. Itu cara yang yang paling masuk akal untuk mengubah kondisi Kuta.
Ada harapan yang tumbuh melihat fans?
Banyak. Contoh kecil, seperti kemarin kita sering bikin aktivitas membersihkan pantai. Sudah banyajk Outsider Canggu, Sanur atau Nusa Dua mulai bikin kegiatan serupa. Kita kan tidak bisa mengubah mind set seribu orang secara bersamaan. Mungkin dari seribu orang itu ada 5 atau 3 orang yang melakukannya dengan hati dan akan bergulir terus. Orang-orang inilah yang akan membawa perubahan nantinya. Negara kita kan juga merdeka belum lama. It takes time.
Justru fan base SID di jawa yang benar-benar bergerak, lebih kritis, turun ke lapangan lebih sering. Karakter orang di Jawa kan lebih fight, kita di sini lebih laid back. Secara geografis memang begitu. Tapi di Sanur juga laid back, tapi bisa tegas. Kalau Kuta laid back under slavery.
Saya berharap ada pemimpin Bali nanti yang care pada ekologi, pada masalah citra Bali. Memang Bali bukan Kuta saja, tapi pintunya kan di sana, orang masuk ke Bali melewati daerah itu. Sekarang macetnya sudah gawat. Orang asing yang turun dari pesawat keluar dari airport harus melewati Bypass Ngurah Rai yang kalau jam-jam tertentu macetnya kayak setan. Ada rencana bikin jalan layang. Kebanyakan ambisi, tapi fondasinya masih rapuh. Ambisi banyak itu karena motivasi uang, bukan karena ingin melindungi masyarakat lokal.
Ada kemajuan-kemajuan kecil seperti Trans Sarbagita mulai beroperasi. Meski banyak resistensi karena Sarbagita dianggap terlalu memakan banyak badan jalan dan membuat kemacetan.
Idealnya Sarbagita ya memang untuk transportasi publik. Seperti Jakarta punya busway. Memang kondisi jalannya juga harus menyesuaikan. Tapi masalanya untuk skala makro, Bali tidak didesain untuk seperti yang terjadi sekarang. Jadi kita harus memilih Denpasar dan Badung ini akan menjadi sebuah kota metropolitan atau tetap desa? Kalau sekarang kan ada pertempuran apakah memertahankan ini tetap desa atau menjadi metropolitan. Ketimpangan inilah yang akhirnya tidak ketemu, clash dan menjadi masalah. Kalau dari awal maunya metropolitan, ya bangun jalan yang lebar.
Almarhum Ida Bagus Mantra kan sudah jelas idenya seperti apa Bali ini, tetap menjadi desa besar yang bermartabat, bertaksu, yang Bali banget. Kalau yang sekarang maunya jual jual jual. Bali ini seperti gula yang mendunia, semutnya bukan hanya dari Indonesia. Yang kita lawan itu besar sekali. Sementara orang Bali sibuk berkelahi dengan saudaranya sendiri.
Saya khawatir Bali mengalami seperti di masyarakat Betawi yang terpinggirkan di Jakarta. Di sini juga orang terus menjual tanah. Jual tanah buka rental mobil…
Hahahaha. Betul, saya mengalami ketakutan seperti itu Ada tulisan saya baca tentang seorang petani yang tadinya kaya raya di daerah Jimbaran. Tanahnya dijual, dan sekarang menjadi miskin, balik lagi jadi buruh tani. Dan itu umumnya pengaruh anak, minta ini-itu. Kebanggaan-kebanggan semu di desa masih seperti itu. “Wah dia punya motor baru, punya mobil baru.” Bangga. Begitu saja. Bisa traktir teman-temannya di café, bangga. Karena faktor pendidikan ya, tidak biasa berpikir panjang.
Di keluarga saya sendiri banyak seperti itu. Jual tanah dengan mudahnya, padahal bisa dikontrakkan, dan banyak yang mau. Kenapa dijual? Bisa mirip Betawi ya. Dibutakan oleh bagaimana caranya menaikkan status sosial di kalangannya, biar kelihatan lebih hebat dari tetangga. Penting sekali buat mereka.
Sekarang orang-orang lokal yang jadi susah beli tanah. Tidak terjangkau,. Harganya internasional. Kalau terus-terusan begini, kita stay di satu titik, sementara mereka mengusai tempat lain. Kita makin kecil dan terkepung, sudah lah jadi pegawai saja di hotel.
Label:
Interview,
Superman Is Dead
Interview SID dengan DEATHROCKSTAR 2001 (webzine)
tolong jelasin konsep musik SID itu. apa lebih dari sekedar punkrock, atau apa?
Di istilah pribadi SID menamakan genre yang dianut sebagai: 3-Chordsabilly Beer Punk Rock. Deskripsinya? (baca biografi yang diselipin di e-mail ini). Sementara itu secara perspektif sosio-musikal bisa dibilang SID hampir tak menyuarakan pesan apa-apa kepada publik kecuali: jadilah diri sendiri. Pula SID gak bakal mencoba menyuarakan slogan anti narkoba, anti ini anti itu. Sebab hidup adalah pilihan. Biarkan orang melakukan apa yang mereka suka. Dan SID semampunya menghindari stigma mendikte atau menggurui publik. SID menganggap Generasi Y telah cukup pintar utk memilah-milah yang mana baik yang mana buruk. Jangan ketika banyak band menyuarakan politik lalu kita ikut-ikutan melakukannya semata untuk membuktikan bahwa band kita intelektual plus banjir peduli pada kelangsungan negara ini. We have nothing to prove. You are who you are. And be proud of it.
gue pernah ngobrol ngobrol dengan beberapa teman, terjadi sedikit perdebatan tentang album terbaru kalian, satu bagian menyatakan album baru kalian tidak memiliki greget lebih dibanding kan rilisan sebelumnya (bad bad bad). sementara yang lain menyatakan lebih enjoyable.. menurut SID sendiri bagaimana?
SID sendiri menganggap album “Kuta Rock City”–sejauh ini–adalah pencapaian artistik tertinggi di jazirah berkesenian SID (yah, paling kita kurang puas ama sound di album itu aja, maklum, namanya juga putra daerah, masih gagap teknologi dan tata suara he he he…). Seandainya ternyata di kecenderungan komunal ada pro-kontra tentang kualitas estetika “Kuta Rock City”, well, tiap individu berhak punya pendapat berbeda, kan? Apalagi jika menyangkut faktor selera, wih, amat subjektif sifatnya. Dan di sini tak ada pendapat absolut tentang siapa benar siapa salah. Tapi lebih tentang soal suka tidak suka.
ada pernyataan lain yang menyatakan itu adalah akibat kalian masuk major label..pendapat SID tentang itu?
To whom it may concern: ketika hendak menyimpulkan sebuah fenomena emang sebaiknya dimunculkan niat menghargai proses alias peduli pada elemen kronologis yang disebut pra-kondisi terlebih dahulu. Coba investigasi secara holistik, pasang kuping lebih lebar, buka mata sampai jauh, serta terus tegar loyal pada akurasi informasi. Jika sudah, baru deh menyertakan estetika seni subjektif di situ lalu baru kemudian gagah berani mengambil kesimpulan: album ini yummy yummy, album ini yucky yucky, album ini not so yummy not so yucky. Let me get this straight, Major bisa dibilang nihil andil di proses berkesenian SID. SID dipersilakan berkreasi suka-suka hati. Dari bikin lagu, bikin desain cover, bikin vidklip, semua dikerjakan SID sendiri (Sony cuma supervisi dalam skala bukan artistik). Nah, kemerdekaan berimprovisasi segitu dramatis–ngomongin so-called pra-kondisi nih–didapat oleh SID lewat negosiasi yang alot dan menghabiskan banyak energi dan riuh botol bir. Look, dude, proses negosiasi sampai sekitar 4-5 bulan. Melelahkan. Tekanan mental ultra tinggi. Asli. Dus, jangan pernah lupa, SID ndak pernah yang namanya nyodorin demo ke label mana pun. Never. No, dude, never. Sebab dari awal SID telah sadar, jika SID nyodorin demo ke label (Indie, Major Indie, Major, whatever) maka posisi tawar menawar SID akan jomplang sejak mula. Kesannya SID yang perlu pada itu label. Padahal sama-sama butuh. Dan hierarki yang natural muncul nantinya adalah bak atasan dengan bawahan. Kalo diilustrasikan, persis kayak pegawai yang butuh pekerjaan. Sementara yang SID pengen adalah partnership yang notabene hubungannya bakal sejajar. Kayak manajer berprestasi yang dikejar oleh sebuah perusahaan besar. Selanjutnya sang manajer bakal berani mati bilang: “Lu berani bayar gue berapa?” Seperti itu, dude. Kenapa SID menyanggupi bekerja sama dengan major label? Sederhana, SID itu band miskin. Kalo SID setajir Setiawan Djody, wih, ngapain juga kerjasama dengan Major??! Nah, karna SID adalah band yang secara finansial pas-pasan (baca: duit honor manggung dan penjualan album cuma cukup buat beli bir dan berdandan fully Rock Star, lain tidak), on the other hand SID pengen melulu hidup dari musik, ya sudah, SID memilih realistis lalu menjalin kerjasama mutual dengan taipan bernama Sony Music Indonesia. (Dude, lu gak tau gimana demi mempertahankan idealisme “pantang nyerahin demo ke label” ini sudah bikin SID nangis darah, muntah keringat, vertigo akut, hingga 8 tahun…) Sekarang sih SID udah sedikit hidup lebih enak karna SID cuma mikirin tentang:
1. Giat berkesenian.
2. Giat berkesenian.
3. Giat berkesenian. Sampe mati.
Urusan distribusi dll udah diurusin Sony. Dengan 24/7 fokus berkesenian an sich, niscaya diharapkan hasil yang muncul lebih opitmal… Hey, esensial diingat, independensi tak serta merta pararel dengan eksistensi institusi di situ. Maksudnya, ketika sebuah band berada di bawah–katakanlah–Major (baca: institusi) bukan otomatis berarti band tsb katro’ (seperti kecurigaan komunal di Indonesia juga dunia pada band-band di bawah Major). Sebab jika demikian itu sama aja dengan nuduh rakyat Indonesia (baca: band) yang tinggal di negara paling korup di dunia bernama Indonesia (baca: institusi) adalah bagian integral dari axis of evil alias poros kejahatan. Negara Indonesia = korup > Rakyat Indonesia = korup. Begitu? Se-stereotype itu? Oh, come on…. Furthermore, saatnya nanti jika SID sudah tangguh secara finansial SID bakal bikin label sendiri dus akan mengimplementasikan obsesi SID selama ini.
PS:
1. Sarwono Kusuma Atmadja pernah bilang, “Saya pada prinsipnya lebih peduli pada proses serta pra-kondisi dibanding hasil akhir…”
2. Rancid saat sudah gabung dengan Major, mereka tetep Punk Rock, kan?
apa sebenarnya peran masing masing personel SID dalam membuat sebuah lagu>?
Kronologinya kerap seperti ini:
-Bobby bikin musik
-Jerinx bikin lirik
-Eka kadang ikut serta bikin lirik juga musik
-Bir Bintang (botol besar dan dingin) menyatukan harmoni ketiganya
apa yang menjadi inspirasi kalian dalam membuat sebuah lagu?
Dominan tentang keseharian SID a.k.a. old school Punk Rock principal: Sex, Drugs and Rock ‘N Roll.
apa yang menjadi acuan kalian dalam menulis lirik? pengalaman pribadi kah, atau harapan, atau apa?
Ya keseharian itu tadi: Sex, Drugs, and Rock ‘N Roll. Drink beers, crank up Punk Rock and having a good time.
dalam banyak artikel saya baca, kalau kalian selalu memainkan lagu karangan sendiri. dan telah memiliki beberapa rilisan. apakah akhirnya SID berhasil mendapatkan ‘cara paling baik dan termudah membuat lagu bagus ala SID’.? bisa di tuliskan disini? dan bagaimana cara SID tetap memiliki sesuatu yang fresh?
From the beginning, cara kita bikin lagu ya sama saja: Bobby dateng bawa lagu baru, kita nge-jam, minum bir, setelah aransemennya dapet kita ngerjain liriknya. Abis itu ya minum bir lagi… plain and simple.
SID terkenal sebagai band yang bersedia dibayar murah. bahkan bersedia bermain tanpa dibayar dalam event tertentu, bahkan dalam beberapa interview saya baca kalian mengalami proyek rugi., . ada alasan khusus dibaliknya? apa tuh?
SID hidup dari musik. SID udah gak disubsidi lagi oleh ortu tercinta. Untuk mengakomodasi kebutuhan hidup layak SID ya cari duit dengan bermain di event-event besar (itu pun dengan syarat-syarat khusus, contoh soal: SID pernah diajak sebuah event organizer untuk jadi band pembuka Ari Lasso serta dibayar sesuai standar SID. Tapi SID nolak. Bukan karna Ari Lasso seperti ini seperti itu. Bukan karna pilihan musikal Ari salah. Bukan karna SID gak butuh duit. Lebih karna imej SID beda dengan Ari. Dan SID selalu coba sekuatnya loyal pada brand image. Simple as that. Not a judgemental decision). SID rela dibayar murah bahkan gak dibayar jika sifat dari pertunjukan tsb non-komersial atau DIY. Alasan kenapa mau main dalam kondisi macam begitu, roots SID emang dari event kayak gitu, dan SID akan terus mempertahankan itu. Hell yeah, kacang yang mencoba setia pada kulitnya.
apa yang sedang SID dengarkan saat ini? musisi/band.. dan apakah itu mempengaruhi musik SID?
Stereo SID sekarang sedang dipenuhi band-band Rockabilly/Swing macam Reverend Horton Heat, Living End, Rocket From The Crypt, Supersuckers pula Brian Setzer Orchestra. Jejak mereka di “Kuta Rock City” kental tercuat salah satunya di lagu “Graveyard Blues/Vodkabilly”. Dan yang tak pernah sirna dari stereo SID adalah album-album Social Distortion. Kilas balik, SID pada awal kemunculan masif dipengaruhi NOFX dan Green Day. Sejalan waktu, SID bergeser ke genre a la Social Distortion, Living End dan Supersuckers. Tentu saja grup-grup tadi punya andil dalam proses kreatif SID, hanya saja seiring meningkatnya kepercayaan diri SID, band-band yang disebut di atas pada akhirnya lebih berposisi sebagai suri tauladan dalam konteks psiko-sosial. Pengaruh musikal mereka telah jauh menipis. Sampai kemudian akhirnya muncul yang SID sebut sendiri sebagai “3-Chordsabilly Beer Punk Rock”.
trend musik saat ini yang banyak memunculkan band band berimage punk dengan tampilan yang lebih manis.. seperti simple plan, busted, dan hmm Avril… apakh itu berpengaruh terhadap kalian?> dan opini kalian tentang trend tersebut?…
They ain’t got nothing on us. SID gak ada sangkut pautnya dengan mereka baik konsep musikal ataupun tampilan visual. Opini SID terhadap utamanya Busted, hmm…, jangan-jangan mereka cuma rekayasa produser…
walaupun tidak banyak yang beredar luas, tapi dari media massa orang mengetahui kalian mempunyai rilisan yang tidak sedikit…album apakah yang paling kalian nikmati hasilnya, dan pembuatannya.?
Ya, kita udah bikin 3 album indie (“Case 15″ thn 95, “Superman Is Dead” thn 99, “Bad Bad Bad” thn 2002> “Bad Bad Bad” dirilis ulang lagi dalam bentuk single oleh Spills Record, Bandung), ikut serta di beberapa album kompilasi, dan 1 album Major yaitu “Kuta Rock City” thn 2003. Secara popularitas album “Bad Bad Bad” yang mulai mencuri perhatian publik. Saat pembuatan album “Bad Bad Bad” juga SID sudah lebih merasa lebih dewasa dalam bermusik (Punk Rock). Kalo secara duit, belom ada yang kita nikmati hasilnya. Album satu sampai tiga duitnya tau lenyap kemana. Untuk “Kuta Rock City” belom kebagian royalti nih. Denger-denger sih udah laku puluhan ribu kopi hingga minggu ke-3 ini. Mudah-mudahan duit bisa cepet masuk ke kas kita. Bosen banget miskin, euy!
dan rilisan apakah yang akan kalian sarankan kepada orang orang yang baru akan memulai mendengarkan SID? dan kenapa?
Album “Bad Bad Bad” sebab di situ SID pribadi merasa proses pendewasaan musikal mulai menunjukkan taringnya. Setelah itu baru deh ikuti dengan mengkoleksi “Kuta Rock City” sebab proses pendewasaan musikal sudah makin gahar.
kalau punya kesempatan membuat album lagu lagu terbaik versi kalian.. lagu apa sajakah yang akan kalian masukan? dan kenapa?
Oh well, sejujurnya, SID belom kepikiran sampe ke situ. Maaf.
sebutkan band band lokal terutama indie yang kalian rekomendasikan?
Kebunku
Pitstop
Navicula
The Brews
Shaggy Dog
kalau band luar?
Social Distortion
Stray Cats
The Clash
Brian Setzer Orchestra
AFI
Reverend Horton Heat
Green Day
Rocket From The Crypt
Johnny Cash
Living End
Supersuckers
No Use For A Name
Alkaline Trio
sebagai orang indonesia, pasti kalian tau kalau indonesia adalah surga pembajak. apa opini kalian tentang hal tersebut, dan apa yang kalian lakukan apabila SID menjadi korban pembajakan?
Lucu juga kalo liat kecenderungan yang terjadi pada sebagian musisi anak negeri. Mereka agresif pula bangga mengadopsi falsafah band luar tanpa filter seraya menyarankan: “dude, bajak aja album ini!” tanpa pernah sadar saatnya nanti ketika benar-benar hidup melulu dari bermusik–ketika karya seninya dibajak–baru deh kelojotan setengah mati. Emang enak udah capek-capek bikin sesuatu yang menurut kita rockandroll-estetis-luhur-suci taunya orang lain minus penghargaan pun belas kasihan langsung main bajak aja. You have to experience it yourself so you know how bad it is! Pada prinsipnya SID menganggap pembajakan itu tak dapat dibenarkan dari sudut apa pun. Sayangnya negara Indonesia tercinta adalah masih tergolong dunia ke-3 (baca: miskin rupiah berkesadaran hukum rendah beli bir saja susah), tentu saja masalah ini terjebak jadi duh dilematis.
pendapat kalian tentang konflik Aceh?
Terhadap politik, jujur saja, SID benar-benar miskin minat. Memang sih pada awal kemunculan SID sempat cukup vokal menyuarakan nafas politik. Namun sejalan dengan waktu SID kemudian menyadari bahwa fenomena politik dan sejenisnya gak pas dengan suara hati SID. Sebab di atmosfer berkesenian SID (juga Bali/Kuta Rock City pada umumnya) yang paling dominan adalah–in no particular order–tentang minum bir dan bergembira bermain musik. Begitulah keseharian SID yang paling sejati. Dan SID gak akan coba lagi menyuarakan hal yang SID tak paham. Namun yang paling hakiki di sini,–dalam konteks konflik Aceh–SID sejak awal tak pernah setuju dengan budaya kekerasan. Sebisanya segala persoalan diselesaikan dengan bicara hati ke hati dan dengan kepala dingin untuk menuju satu titik kesepakatan. Perang adalah opsi paling paling paling akhir. Make Rock ‘N Roll Not War.
Di istilah pribadi SID menamakan genre yang dianut sebagai: 3-Chordsabilly Beer Punk Rock. Deskripsinya? (baca biografi yang diselipin di e-mail ini). Sementara itu secara perspektif sosio-musikal bisa dibilang SID hampir tak menyuarakan pesan apa-apa kepada publik kecuali: jadilah diri sendiri. Pula SID gak bakal mencoba menyuarakan slogan anti narkoba, anti ini anti itu. Sebab hidup adalah pilihan. Biarkan orang melakukan apa yang mereka suka. Dan SID semampunya menghindari stigma mendikte atau menggurui publik. SID menganggap Generasi Y telah cukup pintar utk memilah-milah yang mana baik yang mana buruk. Jangan ketika banyak band menyuarakan politik lalu kita ikut-ikutan melakukannya semata untuk membuktikan bahwa band kita intelektual plus banjir peduli pada kelangsungan negara ini. We have nothing to prove. You are who you are. And be proud of it.
gue pernah ngobrol ngobrol dengan beberapa teman, terjadi sedikit perdebatan tentang album terbaru kalian, satu bagian menyatakan album baru kalian tidak memiliki greget lebih dibanding kan rilisan sebelumnya (bad bad bad). sementara yang lain menyatakan lebih enjoyable.. menurut SID sendiri bagaimana?
SID sendiri menganggap album “Kuta Rock City”–sejauh ini–adalah pencapaian artistik tertinggi di jazirah berkesenian SID (yah, paling kita kurang puas ama sound di album itu aja, maklum, namanya juga putra daerah, masih gagap teknologi dan tata suara he he he…). Seandainya ternyata di kecenderungan komunal ada pro-kontra tentang kualitas estetika “Kuta Rock City”, well, tiap individu berhak punya pendapat berbeda, kan? Apalagi jika menyangkut faktor selera, wih, amat subjektif sifatnya. Dan di sini tak ada pendapat absolut tentang siapa benar siapa salah. Tapi lebih tentang soal suka tidak suka.
ada pernyataan lain yang menyatakan itu adalah akibat kalian masuk major label..pendapat SID tentang itu?
To whom it may concern: ketika hendak menyimpulkan sebuah fenomena emang sebaiknya dimunculkan niat menghargai proses alias peduli pada elemen kronologis yang disebut pra-kondisi terlebih dahulu. Coba investigasi secara holistik, pasang kuping lebih lebar, buka mata sampai jauh, serta terus tegar loyal pada akurasi informasi. Jika sudah, baru deh menyertakan estetika seni subjektif di situ lalu baru kemudian gagah berani mengambil kesimpulan: album ini yummy yummy, album ini yucky yucky, album ini not so yummy not so yucky. Let me get this straight, Major bisa dibilang nihil andil di proses berkesenian SID. SID dipersilakan berkreasi suka-suka hati. Dari bikin lagu, bikin desain cover, bikin vidklip, semua dikerjakan SID sendiri (Sony cuma supervisi dalam skala bukan artistik). Nah, kemerdekaan berimprovisasi segitu dramatis–ngomongin so-called pra-kondisi nih–didapat oleh SID lewat negosiasi yang alot dan menghabiskan banyak energi dan riuh botol bir. Look, dude, proses negosiasi sampai sekitar 4-5 bulan. Melelahkan. Tekanan mental ultra tinggi. Asli. Dus, jangan pernah lupa, SID ndak pernah yang namanya nyodorin demo ke label mana pun. Never. No, dude, never. Sebab dari awal SID telah sadar, jika SID nyodorin demo ke label (Indie, Major Indie, Major, whatever) maka posisi tawar menawar SID akan jomplang sejak mula. Kesannya SID yang perlu pada itu label. Padahal sama-sama butuh. Dan hierarki yang natural muncul nantinya adalah bak atasan dengan bawahan. Kalo diilustrasikan, persis kayak pegawai yang butuh pekerjaan. Sementara yang SID pengen adalah partnership yang notabene hubungannya bakal sejajar. Kayak manajer berprestasi yang dikejar oleh sebuah perusahaan besar. Selanjutnya sang manajer bakal berani mati bilang: “Lu berani bayar gue berapa?” Seperti itu, dude. Kenapa SID menyanggupi bekerja sama dengan major label? Sederhana, SID itu band miskin. Kalo SID setajir Setiawan Djody, wih, ngapain juga kerjasama dengan Major??! Nah, karna SID adalah band yang secara finansial pas-pasan (baca: duit honor manggung dan penjualan album cuma cukup buat beli bir dan berdandan fully Rock Star, lain tidak), on the other hand SID pengen melulu hidup dari musik, ya sudah, SID memilih realistis lalu menjalin kerjasama mutual dengan taipan bernama Sony Music Indonesia. (Dude, lu gak tau gimana demi mempertahankan idealisme “pantang nyerahin demo ke label” ini sudah bikin SID nangis darah, muntah keringat, vertigo akut, hingga 8 tahun…) Sekarang sih SID udah sedikit hidup lebih enak karna SID cuma mikirin tentang:
1. Giat berkesenian.
2. Giat berkesenian.
3. Giat berkesenian. Sampe mati.
Urusan distribusi dll udah diurusin Sony. Dengan 24/7 fokus berkesenian an sich, niscaya diharapkan hasil yang muncul lebih opitmal… Hey, esensial diingat, independensi tak serta merta pararel dengan eksistensi institusi di situ. Maksudnya, ketika sebuah band berada di bawah–katakanlah–Major (baca: institusi) bukan otomatis berarti band tsb katro’ (seperti kecurigaan komunal di Indonesia juga dunia pada band-band di bawah Major). Sebab jika demikian itu sama aja dengan nuduh rakyat Indonesia (baca: band) yang tinggal di negara paling korup di dunia bernama Indonesia (baca: institusi) adalah bagian integral dari axis of evil alias poros kejahatan. Negara Indonesia = korup > Rakyat Indonesia = korup. Begitu? Se-stereotype itu? Oh, come on…. Furthermore, saatnya nanti jika SID sudah tangguh secara finansial SID bakal bikin label sendiri dus akan mengimplementasikan obsesi SID selama ini.
PS:
1. Sarwono Kusuma Atmadja pernah bilang, “Saya pada prinsipnya lebih peduli pada proses serta pra-kondisi dibanding hasil akhir…”
2. Rancid saat sudah gabung dengan Major, mereka tetep Punk Rock, kan?
apa sebenarnya peran masing masing personel SID dalam membuat sebuah lagu>?
Kronologinya kerap seperti ini:
-Bobby bikin musik
-Jerinx bikin lirik
-Eka kadang ikut serta bikin lirik juga musik
-Bir Bintang (botol besar dan dingin) menyatukan harmoni ketiganya
apa yang menjadi inspirasi kalian dalam membuat sebuah lagu?
Dominan tentang keseharian SID a.k.a. old school Punk Rock principal: Sex, Drugs and Rock ‘N Roll.
apa yang menjadi acuan kalian dalam menulis lirik? pengalaman pribadi kah, atau harapan, atau apa?
Ya keseharian itu tadi: Sex, Drugs, and Rock ‘N Roll. Drink beers, crank up Punk Rock and having a good time.
dalam banyak artikel saya baca, kalau kalian selalu memainkan lagu karangan sendiri. dan telah memiliki beberapa rilisan. apakah akhirnya SID berhasil mendapatkan ‘cara paling baik dan termudah membuat lagu bagus ala SID’.? bisa di tuliskan disini? dan bagaimana cara SID tetap memiliki sesuatu yang fresh?
From the beginning, cara kita bikin lagu ya sama saja: Bobby dateng bawa lagu baru, kita nge-jam, minum bir, setelah aransemennya dapet kita ngerjain liriknya. Abis itu ya minum bir lagi… plain and simple.
SID terkenal sebagai band yang bersedia dibayar murah. bahkan bersedia bermain tanpa dibayar dalam event tertentu, bahkan dalam beberapa interview saya baca kalian mengalami proyek rugi., . ada alasan khusus dibaliknya? apa tuh?
SID hidup dari musik. SID udah gak disubsidi lagi oleh ortu tercinta. Untuk mengakomodasi kebutuhan hidup layak SID ya cari duit dengan bermain di event-event besar (itu pun dengan syarat-syarat khusus, contoh soal: SID pernah diajak sebuah event organizer untuk jadi band pembuka Ari Lasso serta dibayar sesuai standar SID. Tapi SID nolak. Bukan karna Ari Lasso seperti ini seperti itu. Bukan karna pilihan musikal Ari salah. Bukan karna SID gak butuh duit. Lebih karna imej SID beda dengan Ari. Dan SID selalu coba sekuatnya loyal pada brand image. Simple as that. Not a judgemental decision). SID rela dibayar murah bahkan gak dibayar jika sifat dari pertunjukan tsb non-komersial atau DIY. Alasan kenapa mau main dalam kondisi macam begitu, roots SID emang dari event kayak gitu, dan SID akan terus mempertahankan itu. Hell yeah, kacang yang mencoba setia pada kulitnya.
apa yang sedang SID dengarkan saat ini? musisi/band.. dan apakah itu mempengaruhi musik SID?
Stereo SID sekarang sedang dipenuhi band-band Rockabilly/Swing macam Reverend Horton Heat, Living End, Rocket From The Crypt, Supersuckers pula Brian Setzer Orchestra. Jejak mereka di “Kuta Rock City” kental tercuat salah satunya di lagu “Graveyard Blues/Vodkabilly”. Dan yang tak pernah sirna dari stereo SID adalah album-album Social Distortion. Kilas balik, SID pada awal kemunculan masif dipengaruhi NOFX dan Green Day. Sejalan waktu, SID bergeser ke genre a la Social Distortion, Living End dan Supersuckers. Tentu saja grup-grup tadi punya andil dalam proses kreatif SID, hanya saja seiring meningkatnya kepercayaan diri SID, band-band yang disebut di atas pada akhirnya lebih berposisi sebagai suri tauladan dalam konteks psiko-sosial. Pengaruh musikal mereka telah jauh menipis. Sampai kemudian akhirnya muncul yang SID sebut sendiri sebagai “3-Chordsabilly Beer Punk Rock”.
trend musik saat ini yang banyak memunculkan band band berimage punk dengan tampilan yang lebih manis.. seperti simple plan, busted, dan hmm Avril… apakh itu berpengaruh terhadap kalian?> dan opini kalian tentang trend tersebut?…
They ain’t got nothing on us. SID gak ada sangkut pautnya dengan mereka baik konsep musikal ataupun tampilan visual. Opini SID terhadap utamanya Busted, hmm…, jangan-jangan mereka cuma rekayasa produser…
walaupun tidak banyak yang beredar luas, tapi dari media massa orang mengetahui kalian mempunyai rilisan yang tidak sedikit…album apakah yang paling kalian nikmati hasilnya, dan pembuatannya.?
Ya, kita udah bikin 3 album indie (“Case 15″ thn 95, “Superman Is Dead” thn 99, “Bad Bad Bad” thn 2002> “Bad Bad Bad” dirilis ulang lagi dalam bentuk single oleh Spills Record, Bandung), ikut serta di beberapa album kompilasi, dan 1 album Major yaitu “Kuta Rock City” thn 2003. Secara popularitas album “Bad Bad Bad” yang mulai mencuri perhatian publik. Saat pembuatan album “Bad Bad Bad” juga SID sudah lebih merasa lebih dewasa dalam bermusik (Punk Rock). Kalo secara duit, belom ada yang kita nikmati hasilnya. Album satu sampai tiga duitnya tau lenyap kemana. Untuk “Kuta Rock City” belom kebagian royalti nih. Denger-denger sih udah laku puluhan ribu kopi hingga minggu ke-3 ini. Mudah-mudahan duit bisa cepet masuk ke kas kita. Bosen banget miskin, euy!
dan rilisan apakah yang akan kalian sarankan kepada orang orang yang baru akan memulai mendengarkan SID? dan kenapa?
Album “Bad Bad Bad” sebab di situ SID pribadi merasa proses pendewasaan musikal mulai menunjukkan taringnya. Setelah itu baru deh ikuti dengan mengkoleksi “Kuta Rock City” sebab proses pendewasaan musikal sudah makin gahar.
kalau punya kesempatan membuat album lagu lagu terbaik versi kalian.. lagu apa sajakah yang akan kalian masukan? dan kenapa?
Oh well, sejujurnya, SID belom kepikiran sampe ke situ. Maaf.
sebutkan band band lokal terutama indie yang kalian rekomendasikan?
Kebunku
Pitstop
Navicula
The Brews
Shaggy Dog
kalau band luar?
Social Distortion
Stray Cats
The Clash
Brian Setzer Orchestra
AFI
Reverend Horton Heat
Green Day
Rocket From The Crypt
Johnny Cash
Living End
Supersuckers
No Use For A Name
Alkaline Trio
sebagai orang indonesia, pasti kalian tau kalau indonesia adalah surga pembajak. apa opini kalian tentang hal tersebut, dan apa yang kalian lakukan apabila SID menjadi korban pembajakan?
Lucu juga kalo liat kecenderungan yang terjadi pada sebagian musisi anak negeri. Mereka agresif pula bangga mengadopsi falsafah band luar tanpa filter seraya menyarankan: “dude, bajak aja album ini!” tanpa pernah sadar saatnya nanti ketika benar-benar hidup melulu dari bermusik–ketika karya seninya dibajak–baru deh kelojotan setengah mati. Emang enak udah capek-capek bikin sesuatu yang menurut kita rockandroll-estetis-luhur-suci taunya orang lain minus penghargaan pun belas kasihan langsung main bajak aja. You have to experience it yourself so you know how bad it is! Pada prinsipnya SID menganggap pembajakan itu tak dapat dibenarkan dari sudut apa pun. Sayangnya negara Indonesia tercinta adalah masih tergolong dunia ke-3 (baca: miskin rupiah berkesadaran hukum rendah beli bir saja susah), tentu saja masalah ini terjebak jadi duh dilematis.
pendapat kalian tentang konflik Aceh?
Terhadap politik, jujur saja, SID benar-benar miskin minat. Memang sih pada awal kemunculan SID sempat cukup vokal menyuarakan nafas politik. Namun sejalan dengan waktu SID kemudian menyadari bahwa fenomena politik dan sejenisnya gak pas dengan suara hati SID. Sebab di atmosfer berkesenian SID (juga Bali/Kuta Rock City pada umumnya) yang paling dominan adalah–in no particular order–tentang minum bir dan bergembira bermain musik. Begitulah keseharian SID yang paling sejati. Dan SID gak akan coba lagi menyuarakan hal yang SID tak paham. Namun yang paling hakiki di sini,–dalam konteks konflik Aceh–SID sejak awal tak pernah setuju dengan budaya kekerasan. Sebisanya segala persoalan diselesaikan dengan bicara hati ke hati dan dengan kepala dingin untuk menuju satu titik kesepakatan. Perang adalah opsi paling paling paling akhir. Make Rock ‘N Roll Not War.
Label:
Interview,
Superman Is Dead
Interview SID dengan The Jakarta Post 2012 (versi asli dalam bahasa Indonesia)
01. Ini
wawancara kedua saya dengan kalian. Pertama kali untuk Pause Magazine di
Jakarta –sebelum main di PL Fair, kalau nggak salah 2002 atau 2003—,
apa yang sudah berubah dari SID secara general? Kalian masih band punk
rock yang berbahaya, punya tujuan yang jelas dan bisa dipercaya oleh
penggemar. Tapi, secara personal, apa yang sudah berubah?
JRX: Yg jelas sudut pandang saya melihat sesuatu banyak berubah. Jika dulu takaran pandang hanya 1-3 tahun kedepan, kini sudah bisa sedikit melihat gambaran besar, bukan bintik bintik lagi. Clarity. Dan itu kadang membuat saya sedikit tidak nyaman.
Bobby Kool: Well.. Secara musikalitas SID tidak terlalu berubah, kita masih sama memainkan musik berjenis kelamin Punk Rock, perubahannya itu skr ada pada penulisan Lirik lagu, yg dimana penulisannya mengajak orang untuk lebih kreatif berfikir :) secara personal perubahan terlihat pada umur yg semakin bertambah.. Hehe.
EkaRock: Perubahan pada SID mungkin dari pengembangan dari cara bermusik, lebih teliti dari pemilihan kata-kata untuk lirik seiring dengan perkembangan usia. Secara personal. basic kami tidak merasakan ada perubahan hanya semakin merasa harus bertanggung jawab akan keadaan yang kita hadapi sekarang ini.
02. Bagaimana SID memandang musik kalian yang hari ini? Apakah masih sama seperti memulai segalanya beberapa belas tahun yang lalu? Apa sih yang masih ingin kalian perjuangkan dari segi musik?
JRX: Meski masih jauh dari bentuk terakhir, saya melihatnya bagai bunga yang baru mulai mekar dan banyak kumbang mendekati. Kadang kumbang madu, kadang tidak. Yang masih diperjuangkan sudah pasti kejujuran.
Bobby Kool: Musik kami akan selalu berevolusi, seiring perubahan pola pikir, keadaan, situasi, dan apa yg kita lihat dan apa yg akan kita tuangkan nantinya di lagu.. Dan yg kita perjuangkan dr musik adalah : dimana kita sangat mencintai seni musik ini, mengekprisikan diri didalamnya, meraih setiap mimpi yg kita inginkan, memberikan sesuatu perubahan positif kepada orang yg mengerti apa yg kita tulis atau apa yg kita perbuat..
EkaRock: Diibaratkan sebagai kehidupan, kami sedang tumbuh, dan banyak faktor yang bisa mempengaruhi kehidupan kami.. kami tetep berusaha menyenangkan kehidupan kami dan dimana telah menjadi tumpuan harapan bagi orang yang mengikuti kami, tanggung jawab dan tetap memberikan energi positif.
03. Ada beda yang jelas sekarang, kalian punya pengikut fanatik yang luas dan tidak hanya terbatas dari Bali saja. Pernah berpikir ada di titik ini, sebelumnya?
JRX: Tidak, saat itu saya terlalu sibuk memikirkan cita-cita mulia: punya stok malam liar dan alkohol yang tak berkesudahan.
Bobby Kool: Sama sekali belum ada pikiran mempunyai fans sampai "diluar" hanya masih berfikir di seputaran membuat lagu, menikmati prosesnya dan mendistribusikannya..
EkaRock : Tidak pernah terpikir, pikiran saya hanya mengekspresikan diri semaksimal mungkin.
04. Apa yang bisa kalian berdayakan dari penggemar itu? Apa yang ingin kalian sampaikan kepada mereka?
JRX: Impian setiap band cerdas adalah memiliki penggemar yang cerdas juga. Sebagai band yang 'merasa' cerdas, kami kadang memiliki penggemar yang 'merasa' cerdas juga. Dan kami ingin mereka sadar itu. SID bukanlah kebenaran tertinggi. Saya rasa itu yang ingin disampaikan.
Bobby Kool: Yg kita lakukan pertama adalah : melalukan sesuatu dr diri kita sendiri,,, melakukan sesuatu untuk perubahan positif dengan itu otomatis mereka akan melihat dan meniru apa yg kita lakukan dan itu sudah terjadi pada mereka..
EkaRock : Sekali lagi sebuah energi positif, menyebarkannya, dan melakukan perubahan ..dampak besar atau kecil, itulah yang memotivasi kita untuk terus berkarya.
05. Loyalitas penggemar kalian juga melintas batas di internet. Ada beberapa rekor tercipta sejauh ini, apakah itu penting? Gimana sih caranya supaya bisa punya banyak pengikut sekaligus di dua dunia; nyata dan maya?
JRX: Simpel, syarat-nya selalu mempesona baik di nyata ataupun maya. Dan hal itu hanya bisa dilakukan jika kamu tulus dan natural; tidak terlalu memproyeksikan diri menjadi idola sempurna.
Bobby Kool: Berarti sudah bisa dilihat, gerakan2 atau sesuatu yg sudah kita karyakan dan mereka tau apa yg kita perbuat.. Bukan masalah penting atau tidak, setidaknya kita tau seberapa gerakan yg sudah kita buat dan bisa lebih berkomunikatif dengan mereka di dunia maya..
EkaRock : Tetap jujur dengan hati nurani dengan apa yang dilakukan, tanpa paksaan ambisi berlebihan kepada mereka...
06. Bali hari ini, gimana scene lokal menurut kalian? Sempat ada virus akut yang menyebar saat kalian menembus dogma band punk rock itu tidak bisa harmonis dengan major label di Indonesia. Virus itu membuat banyak anak muda lokal bermain musik dan punya kepercayaan diri bisa menembus audience yang lebih luas. Keberhasilan itu membawa Bali dikenal kembali dengan scene musiknya. Kalian membuka pintu untuk banyak band lokal untuk bisa didengar orang banyak di luar Bali. Sekarang, kondisinya gimana? Apakah scenenya lebih baik?
JRX: Menurut saya sih lebih bagus sekarang. Banyak band-band Bali yang bermain diluar daerah/diluar negeri. Banyak yang sign up dengan label-label kredibel. Meski belum ada yang meledak banget, tapi secara networking, musisi lokal makin elok. Bom-bom waktu ini hanya membutuhkan moment yang tepat untuk meledak secara serius.
Bobby Kool: Scene musik Bali saat ini bisa dikatakan lebih bervariasi dr segi genre, dan banyak skr band Bali menjajal konser ke daerah2 di luar bali, dan karya2 mereka sangat berkwalitas. Virus itu sudah km suntik dengan karya yg berbeda dimana dengan karya yg berbeda dan memiliki visi misi didalamnya.. Dengan membuat karya yg "bagus" tdk ada orang yg akan mengintervensi karya itu.. Jadi teruslah membuat sesuatu yg mempunya tujuan, gerakan, dan perlawanan..
EkaRock : Perkembangan scene musik Bali sekarang ini bisa dibilang sangat baik dan akan menjadi lebih baik. Peluang untuk merepresentasikan karya-karya mereka sudah semakin terbuka, kesempatan untuk manggung di luar daerah dan membangun jaringan sudah semakin aktif. Sekarang yang diperlukan hanyalah menetapkan titik fokus terhadap karya/band yang mereka bawa…menggali lebih luas potensi dan kesempatan untuk maju, agar lebih terjawab pertanyaan kenapa mereka ada di dalam band tersebut.
07. Masih suka main di klub kecil dengan penonton terbatas? Kalau iya, main di tempat-tempat kecil itu apa sih kenikmatannya?
JRX: Energi mentah nan jahanam dan cipratan keringat penonton adalah salah satu bahan dasar teori kekacauan.
Bobby Kool: Jelas lauh lebih nikmat, berada dalam lingkaran api yg panas, membaur dengan abunya.. Api itulah yg memberikan energi.. Dimana kita bisa melihat emosi, tetetas keringat, semangat, mereka dalam setiap konser kecil..
EkaRock: Energi liar yang memercikan bensin ke bara panas kami, disambut dengan kipasan emosi mereka, secara jujur dan meledakkannya tanpa kepura puraan.
08. Apa yang masih membuat kalian turn on ketika bermain musik di atas panggung?
JRX: Panggung besar: lirikan mesra pak pulisi. Panggung kecil: si dia yang menanti di pojokan bar.
Bobby Kool: Beer dan energi tarian penonton
EkaRock: Senyum sumringah penonton yang mengharapkan ledakan energi kami.
09. Satu hal yang juga menarik, kalian nampaknya cukup jauh dengan media mainstream karena memang apa yang kalian mainkan tidak sesuai dengan selera pasar. Apa sih resepnya bisa diterima dan terus menerus bertahan melakukan yang kalian suka?
JRX: Tahu cara mengemas. Meski kita mungkin gak selalu tahu caranya, tapi ya pura-pura tahu aja: percaya diri.
Bobby Kool: Kita akan tetap menjadi diri kita sendiri, berjalan dan memainkan dan tinggal di tempat yg kita suka.. Dan kita lebih tertarik dengan media yg mengerti siapa kita..
EkaRock : Knowing our power, bisa selalu memupuk rasa percaya diri kita. untuk melakukan apa yang kita suka...
10. Bagaimana dengan kiprah internasional? Apakah punya rencana untuk ekspansi dalam bentuk karya –tidak hanya tur— di negara asing? Misalnya merilis rekaman untuk pasar itu?
JRX: Rencana selalu ada, belum dapat momen yang pas aja.
Bobby Kool: Sangat ada.. Dimana kita tau industri dan studio recording disana bisa dikatakan lebih maju secara kualitas, untuk mendapatkan kualitas itu kita sadar bahwa kualitas band juga harus mendukung..
EkaRock : Selalu ada, untuk bisa lebih bersabar menunggu kesempatan itu, mungkin dgn mematangkan apa yang kita punya disini itu bisa lebih berguna.
11. Tentang rekaman terbaru, ide dasar membuat vinyl itu bagaimana munculnya?
JRX: Dari kesukaan terhadap hal-hal yang klasik dan tidak gaul. Dan rasanya belum sah jadi pemusik kalau belum rilis vinyl. Kebetulan label kita juga sedang gila.
Bobby Kool: Sudah dijelaskan oleh JRX.. Hehe
EkaRock : Sudah ditambahkan oleh Bobby
12. Apakah sulit untuk meyakinkan Sony Music untuk merilis rekaman ini?
JRX: SID = Sulit Itu Dosa
Bobby Kool: Dan yg ini akan dijawab sama mas Dodix.. Kakwkakwka..
EkaRock : I am relax ...
13. Apakah Sony Music partner yang cocok untuk menyebarluaskan karya kalian di Indonesia setelah beberapa album bekerja sama?
JRX: Sejauh ini masih aman-aman saja. Semua karya kami masih jujur dan kalau ketemu Pak Jan pasti diajak makan. Beliau tahu kami butuh gizi dan kasih sayang.
Bobby Kool: Bisa dikatakan "iya" suatu kebanggaan juga album kami di distibusikan oleh label besar sekelas Sony music Indonesia.. Karena yg kita butuhkan adalah meratanya album SID tersebar di seleuruh Indonesia..
EkaRock : Levelnya hijau, …masih saling rangkul.
14. Apa yang bisa kalian bilang ke orang-orang yang masih berpikiran kuno bahwa band punk rock tidak bisa berpelukan erat dengan major label?
JRX: Saya suka yang kuno-kuno. Langka dan nilai jualnya tinggi.
Bobby Kool: Orang tidak akan tau kalau mereka belom mengenal apa itu major label, tidak semua major label memperlakukan sesuatu yg tidak disukai oleh band, terlalu banyak mengatur dan sebagainya. Tapi ada juga jalur indie yg berperilaku seperti label major kebanyakan..
EkaRock : Tergantung cara berpelukannya sih, kalo posisinya kebanyakan nafsu pasti gak enak…
15. Sebagai band, apa sih yang masih belum kalian capai? Masih ada cita-cita atau hasrat apa yang ingin kalian kejar?
JRX: Tur keliling dunia yang disponsori PKS.
Bobby Kool: Yg jelas dalam hidup ini kami akan menyapa sang waktu dengan membuat karya sebanyak-banyaknya yg mempunyai visi, misi, perlawanan, pergerakan. menyebarluaskan karya2 yg kita buat, ingin manggung ke tempat yg belom pernah kita datangi dan berkolaborasi dengan musisi yg kita kagumi..
EkaRock: Kali ini sepertinya jawaban Bobby yang saya pilih.
Hidup Bobby!

JRX: Yg jelas sudut pandang saya melihat sesuatu banyak berubah. Jika dulu takaran pandang hanya 1-3 tahun kedepan, kini sudah bisa sedikit melihat gambaran besar, bukan bintik bintik lagi. Clarity. Dan itu kadang membuat saya sedikit tidak nyaman.
Bobby Kool: Well.. Secara musikalitas SID tidak terlalu berubah, kita masih sama memainkan musik berjenis kelamin Punk Rock, perubahannya itu skr ada pada penulisan Lirik lagu, yg dimana penulisannya mengajak orang untuk lebih kreatif berfikir :) secara personal perubahan terlihat pada umur yg semakin bertambah.. Hehe.
EkaRock: Perubahan pada SID mungkin dari pengembangan dari cara bermusik, lebih teliti dari pemilihan kata-kata untuk lirik seiring dengan perkembangan usia. Secara personal. basic kami tidak merasakan ada perubahan hanya semakin merasa harus bertanggung jawab akan keadaan yang kita hadapi sekarang ini.
02. Bagaimana SID memandang musik kalian yang hari ini? Apakah masih sama seperti memulai segalanya beberapa belas tahun yang lalu? Apa sih yang masih ingin kalian perjuangkan dari segi musik?
JRX: Meski masih jauh dari bentuk terakhir, saya melihatnya bagai bunga yang baru mulai mekar dan banyak kumbang mendekati. Kadang kumbang madu, kadang tidak. Yang masih diperjuangkan sudah pasti kejujuran.
Bobby Kool: Musik kami akan selalu berevolusi, seiring perubahan pola pikir, keadaan, situasi, dan apa yg kita lihat dan apa yg akan kita tuangkan nantinya di lagu.. Dan yg kita perjuangkan dr musik adalah : dimana kita sangat mencintai seni musik ini, mengekprisikan diri didalamnya, meraih setiap mimpi yg kita inginkan, memberikan sesuatu perubahan positif kepada orang yg mengerti apa yg kita tulis atau apa yg kita perbuat..
EkaRock: Diibaratkan sebagai kehidupan, kami sedang tumbuh, dan banyak faktor yang bisa mempengaruhi kehidupan kami.. kami tetep berusaha menyenangkan kehidupan kami dan dimana telah menjadi tumpuan harapan bagi orang yang mengikuti kami, tanggung jawab dan tetap memberikan energi positif.
03. Ada beda yang jelas sekarang, kalian punya pengikut fanatik yang luas dan tidak hanya terbatas dari Bali saja. Pernah berpikir ada di titik ini, sebelumnya?
JRX: Tidak, saat itu saya terlalu sibuk memikirkan cita-cita mulia: punya stok malam liar dan alkohol yang tak berkesudahan.
Bobby Kool: Sama sekali belum ada pikiran mempunyai fans sampai "diluar" hanya masih berfikir di seputaran membuat lagu, menikmati prosesnya dan mendistribusikannya..
EkaRock : Tidak pernah terpikir, pikiran saya hanya mengekspresikan diri semaksimal mungkin.
04. Apa yang bisa kalian berdayakan dari penggemar itu? Apa yang ingin kalian sampaikan kepada mereka?
JRX: Impian setiap band cerdas adalah memiliki penggemar yang cerdas juga. Sebagai band yang 'merasa' cerdas, kami kadang memiliki penggemar yang 'merasa' cerdas juga. Dan kami ingin mereka sadar itu. SID bukanlah kebenaran tertinggi. Saya rasa itu yang ingin disampaikan.
Bobby Kool: Yg kita lakukan pertama adalah : melalukan sesuatu dr diri kita sendiri,,, melakukan sesuatu untuk perubahan positif dengan itu otomatis mereka akan melihat dan meniru apa yg kita lakukan dan itu sudah terjadi pada mereka..
EkaRock : Sekali lagi sebuah energi positif, menyebarkannya, dan melakukan perubahan ..dampak besar atau kecil, itulah yang memotivasi kita untuk terus berkarya.
05. Loyalitas penggemar kalian juga melintas batas di internet. Ada beberapa rekor tercipta sejauh ini, apakah itu penting? Gimana sih caranya supaya bisa punya banyak pengikut sekaligus di dua dunia; nyata dan maya?
JRX: Simpel, syarat-nya selalu mempesona baik di nyata ataupun maya. Dan hal itu hanya bisa dilakukan jika kamu tulus dan natural; tidak terlalu memproyeksikan diri menjadi idola sempurna.
Bobby Kool: Berarti sudah bisa dilihat, gerakan2 atau sesuatu yg sudah kita karyakan dan mereka tau apa yg kita perbuat.. Bukan masalah penting atau tidak, setidaknya kita tau seberapa gerakan yg sudah kita buat dan bisa lebih berkomunikatif dengan mereka di dunia maya..
EkaRock : Tetap jujur dengan hati nurani dengan apa yang dilakukan, tanpa paksaan ambisi berlebihan kepada mereka...
06. Bali hari ini, gimana scene lokal menurut kalian? Sempat ada virus akut yang menyebar saat kalian menembus dogma band punk rock itu tidak bisa harmonis dengan major label di Indonesia. Virus itu membuat banyak anak muda lokal bermain musik dan punya kepercayaan diri bisa menembus audience yang lebih luas. Keberhasilan itu membawa Bali dikenal kembali dengan scene musiknya. Kalian membuka pintu untuk banyak band lokal untuk bisa didengar orang banyak di luar Bali. Sekarang, kondisinya gimana? Apakah scenenya lebih baik?
JRX: Menurut saya sih lebih bagus sekarang. Banyak band-band Bali yang bermain diluar daerah/diluar negeri. Banyak yang sign up dengan label-label kredibel. Meski belum ada yang meledak banget, tapi secara networking, musisi lokal makin elok. Bom-bom waktu ini hanya membutuhkan moment yang tepat untuk meledak secara serius.
Bobby Kool: Scene musik Bali saat ini bisa dikatakan lebih bervariasi dr segi genre, dan banyak skr band Bali menjajal konser ke daerah2 di luar bali, dan karya2 mereka sangat berkwalitas. Virus itu sudah km suntik dengan karya yg berbeda dimana dengan karya yg berbeda dan memiliki visi misi didalamnya.. Dengan membuat karya yg "bagus" tdk ada orang yg akan mengintervensi karya itu.. Jadi teruslah membuat sesuatu yg mempunya tujuan, gerakan, dan perlawanan..
EkaRock : Perkembangan scene musik Bali sekarang ini bisa dibilang sangat baik dan akan menjadi lebih baik. Peluang untuk merepresentasikan karya-karya mereka sudah semakin terbuka, kesempatan untuk manggung di luar daerah dan membangun jaringan sudah semakin aktif. Sekarang yang diperlukan hanyalah menetapkan titik fokus terhadap karya/band yang mereka bawa…menggali lebih luas potensi dan kesempatan untuk maju, agar lebih terjawab pertanyaan kenapa mereka ada di dalam band tersebut.
07. Masih suka main di klub kecil dengan penonton terbatas? Kalau iya, main di tempat-tempat kecil itu apa sih kenikmatannya?
JRX: Energi mentah nan jahanam dan cipratan keringat penonton adalah salah satu bahan dasar teori kekacauan.
Bobby Kool: Jelas lauh lebih nikmat, berada dalam lingkaran api yg panas, membaur dengan abunya.. Api itulah yg memberikan energi.. Dimana kita bisa melihat emosi, tetetas keringat, semangat, mereka dalam setiap konser kecil..
EkaRock: Energi liar yang memercikan bensin ke bara panas kami, disambut dengan kipasan emosi mereka, secara jujur dan meledakkannya tanpa kepura puraan.
08. Apa yang masih membuat kalian turn on ketika bermain musik di atas panggung?
JRX: Panggung besar: lirikan mesra pak pulisi. Panggung kecil: si dia yang menanti di pojokan bar.
Bobby Kool: Beer dan energi tarian penonton
EkaRock: Senyum sumringah penonton yang mengharapkan ledakan energi kami.
09. Satu hal yang juga menarik, kalian nampaknya cukup jauh dengan media mainstream karena memang apa yang kalian mainkan tidak sesuai dengan selera pasar. Apa sih resepnya bisa diterima dan terus menerus bertahan melakukan yang kalian suka?
JRX: Tahu cara mengemas. Meski kita mungkin gak selalu tahu caranya, tapi ya pura-pura tahu aja: percaya diri.
Bobby Kool: Kita akan tetap menjadi diri kita sendiri, berjalan dan memainkan dan tinggal di tempat yg kita suka.. Dan kita lebih tertarik dengan media yg mengerti siapa kita..
EkaRock : Knowing our power, bisa selalu memupuk rasa percaya diri kita. untuk melakukan apa yang kita suka...
10. Bagaimana dengan kiprah internasional? Apakah punya rencana untuk ekspansi dalam bentuk karya –tidak hanya tur— di negara asing? Misalnya merilis rekaman untuk pasar itu?
JRX: Rencana selalu ada, belum dapat momen yang pas aja.
Bobby Kool: Sangat ada.. Dimana kita tau industri dan studio recording disana bisa dikatakan lebih maju secara kualitas, untuk mendapatkan kualitas itu kita sadar bahwa kualitas band juga harus mendukung..
EkaRock : Selalu ada, untuk bisa lebih bersabar menunggu kesempatan itu, mungkin dgn mematangkan apa yang kita punya disini itu bisa lebih berguna.
11. Tentang rekaman terbaru, ide dasar membuat vinyl itu bagaimana munculnya?
JRX: Dari kesukaan terhadap hal-hal yang klasik dan tidak gaul. Dan rasanya belum sah jadi pemusik kalau belum rilis vinyl. Kebetulan label kita juga sedang gila.
Bobby Kool: Sudah dijelaskan oleh JRX.. Hehe
EkaRock : Sudah ditambahkan oleh Bobby
12. Apakah sulit untuk meyakinkan Sony Music untuk merilis rekaman ini?
JRX: SID = Sulit Itu Dosa
Bobby Kool: Dan yg ini akan dijawab sama mas Dodix.. Kakwkakwka..
EkaRock : I am relax ...
13. Apakah Sony Music partner yang cocok untuk menyebarluaskan karya kalian di Indonesia setelah beberapa album bekerja sama?
JRX: Sejauh ini masih aman-aman saja. Semua karya kami masih jujur dan kalau ketemu Pak Jan pasti diajak makan. Beliau tahu kami butuh gizi dan kasih sayang.
Bobby Kool: Bisa dikatakan "iya" suatu kebanggaan juga album kami di distibusikan oleh label besar sekelas Sony music Indonesia.. Karena yg kita butuhkan adalah meratanya album SID tersebar di seleuruh Indonesia..
EkaRock : Levelnya hijau, …masih saling rangkul.
14. Apa yang bisa kalian bilang ke orang-orang yang masih berpikiran kuno bahwa band punk rock tidak bisa berpelukan erat dengan major label?
JRX: Saya suka yang kuno-kuno. Langka dan nilai jualnya tinggi.
Bobby Kool: Orang tidak akan tau kalau mereka belom mengenal apa itu major label, tidak semua major label memperlakukan sesuatu yg tidak disukai oleh band, terlalu banyak mengatur dan sebagainya. Tapi ada juga jalur indie yg berperilaku seperti label major kebanyakan..
EkaRock : Tergantung cara berpelukannya sih, kalo posisinya kebanyakan nafsu pasti gak enak…
15. Sebagai band, apa sih yang masih belum kalian capai? Masih ada cita-cita atau hasrat apa yang ingin kalian kejar?
JRX: Tur keliling dunia yang disponsori PKS.
Bobby Kool: Yg jelas dalam hidup ini kami akan menyapa sang waktu dengan membuat karya sebanyak-banyaknya yg mempunyai visi, misi, perlawanan, pergerakan. menyebarluaskan karya2 yg kita buat, ingin manggung ke tempat yg belom pernah kita datangi dan berkolaborasi dengan musisi yg kita kagumi..
EkaRock: Kali ini sepertinya jawaban Bobby yang saya pilih.
Hidup Bobby!

Label:
Interview,
Superman Is Dead
Interview SID dengan Jakarta Post 2012 (versi bahasa Inggris)
After nearly 20 years on the road, for them, punk rock is still about saying no and being true to themselves.
Have you ever dug the life of Indonesia’s biggest punk rock outfit? What is it like on a daily basis? Are they still true to what they believe in? Do they really have a good understanding about what punk rock is?
Ask whatever you want, at the end of the day you will still get a positive image of Superman is Dead.
This 100 percent Bali-resident band have been around since the 1990s with their debut album Case 15, a milestone in our local punk rock scene’s history, recorded back in 1997. The members are still the same old dudes who swung around the happy-go-lucky life back in the day — charismatic drummer JRX, flamboyant bassist EkaRock and super good frontman Bobby Kool.
Let us take you back to 2001, 11 years ago. Sometime that year, all of a sudden, Sony Music Indonesia announced they were going to release their first punk rock album produced by a local act.
Jan D. Djuhana — the legendary Sony Music Indonesia icon who discovered Dewa 19, Padi, Glenn Fredly and many other top-notch artists here in Indonesia — thought that this band had the X factor that would shake up the industry.
It was controversial — industry insiders rolled their eyes, thinking that Sony Music Indonesia was making a big mistake by investing money in a punk rock band, while the punk rock scene criticized Superman is Dead for selling out, signing a deal with the capitalist music industry for six albums. But both parties went ahead.
Over the years, this collaboration has managed to silence their critics and provided positive evidence to those who believe that change could be made possible through punk rock.
Look
at them now — five albums, hundreds of gigs, thousands of good times
along the road and, this is the most important thing, millions of fans
from cities all across Indonesia and a significant amount of
international acclaim that has kept their connection with the world’s
punk rock scene alive.
“The relationship level is still at the green stage,” chuckles EkaRock. “If we meet, Pak Jan still takes us out for a meal. He knows us well, we still need his love,” adds JRX, also in the same humorous tone.
Well, don’t believe it all until you see how big they are on the Internet. Google anything about them and you will be overwhelmed by the facts you will find.
“We’re still the old Superman is Dead, still playing punk rock. Only our ages have moved forward,” says Bobby Kool. “And we now have a bigger responsibility,” continues EkaRock. The band carries a heavy mission to make the world a better place.
“We want to spread positivity and bring changes, well, big or small we all need to do that. That’s always the motivation behind Superman is Dead,” tells EkaRock.
“In every smart band’s dream there is always a smart gang of fans. We want to have that and we want them to realize they’re smart. That’s what we want to deliver through our music,” JRX adds.
So far, Superman is Dead has been a massive agent of change where they have made small-but-beautiful gestures on a daily basis. For example, in almost every city they visit, they encourage people to have an afternoon stroll with them to clean the environment by picking up any trash they see.
Their contribution to the community can be considered real. What they stand for is a true representation of how people are willing to opt for a better life under the big roof called punk rock.
Of course, they have been supported by their legions of fanatic fans that have fallen in love with the free spirit the band have been expressing for years. They are a good example of how warm the relationship between a punk rock act and their followers can be.
“We’re trying hard not to project ourselves as a perfect idol figure for those kids; we just show them what we are. You can have so many followers if you’re natural and honest with people,” says full-of-wisdom-punk rocker JRX.
At the moment, their flags are flying high, literally.
“My point of view now has changed. I used to have a short term point of view, two or three years only. Now I have a bigger picture, not focusing on minor details. Clarity,” JRX says.
Looking back, they admit that what they have now on their hands was not even in their minds in day one.
“I never thought of this. I was so busy thinking about the good things in life; how to have wild nights out and a never ending alcohol adventure,” jokes JRX.
As
would be expected of happy-go-lucky young punk rockers, life in the
early stages of their career was always about having some fun and going
wild 24/7. The old saying “everything big starts small” is really
appropriate in their case. Don’t think big at the very start.
Small gigs were the best while big stadium or arena gigs were not even on their horizon back then. Well, nowadays, small gigs are still on their agenda but it needs to be discreetly done.
“Police will monitor your behavior while you’re doing big stadium gigs, while a sweet girl will wait for you in the corner in a small gig,” again, jokes JRX. “Raw and devilish energy plus the audience’s sweat are the basic ingredients of chaos.”
“We love the wild energy which actually is the fuel that drives our engine. We want to explode it all without a single fake emotion. That’s how a small gig feels to us,” adds EkaRock.
From any of the anecdotes you read, it’s easy to sense how they have kept their feet on the ground, living their enjoyable life to the fullest. The band still call Bali home despite the major effort to go on tour or promote their work.
“We want to say go on forever by writing as many songs as we can, we want to see places we’ve never been to before and do many things in the future,” says Bobby Kool.
The band is now promoting their newly released vinyl record consisting of eight of their best tracks. The vinyl is the first product from Sony Music Indonesia in this old fashioned but sexy format. The band managed to push yet another boundary by getting their label to fulfill their dream of having a release in vinyl format.
“You cannot call yourself a musician if you don’t have vinyl in your catalogue. We’re fortunate that at this time our label is on crazy mode,” says JRX. This, of course, is a joke, maybe.
Keep watching, because Superman is Dead will probably make another big break while surfing the mainstream industry with their bold punk rock attitude.
Have you ever dug the life of Indonesia’s biggest punk rock outfit? What is it like on a daily basis? Are they still true to what they believe in? Do they really have a good understanding about what punk rock is?
Ask whatever you want, at the end of the day you will still get a positive image of Superman is Dead.
This 100 percent Bali-resident band have been around since the 1990s with their debut album Case 15, a milestone in our local punk rock scene’s history, recorded back in 1997. The members are still the same old dudes who swung around the happy-go-lucky life back in the day — charismatic drummer JRX, flamboyant bassist EkaRock and super good frontman Bobby Kool.
Let us take you back to 2001, 11 years ago. Sometime that year, all of a sudden, Sony Music Indonesia announced they were going to release their first punk rock album produced by a local act.
Jan D. Djuhana — the legendary Sony Music Indonesia icon who discovered Dewa 19, Padi, Glenn Fredly and many other top-notch artists here in Indonesia — thought that this band had the X factor that would shake up the industry.
It was controversial — industry insiders rolled their eyes, thinking that Sony Music Indonesia was making a big mistake by investing money in a punk rock band, while the punk rock scene criticized Superman is Dead for selling out, signing a deal with the capitalist music industry for six albums. But both parties went ahead.
Over the years, this collaboration has managed to silence their critics and provided positive evidence to those who believe that change could be made possible through punk rock.
Look
at them now — five albums, hundreds of gigs, thousands of good times
along the road and, this is the most important thing, millions of fans
from cities all across Indonesia and a significant amount of
international acclaim that has kept their connection with the world’s
punk rock scene alive.“The relationship level is still at the green stage,” chuckles EkaRock. “If we meet, Pak Jan still takes us out for a meal. He knows us well, we still need his love,” adds JRX, also in the same humorous tone.
Well, don’t believe it all until you see how big they are on the Internet. Google anything about them and you will be overwhelmed by the facts you will find.
“We’re still the old Superman is Dead, still playing punk rock. Only our ages have moved forward,” says Bobby Kool. “And we now have a bigger responsibility,” continues EkaRock. The band carries a heavy mission to make the world a better place.
“We want to spread positivity and bring changes, well, big or small we all need to do that. That’s always the motivation behind Superman is Dead,” tells EkaRock.
“In every smart band’s dream there is always a smart gang of fans. We want to have that and we want them to realize they’re smart. That’s what we want to deliver through our music,” JRX adds.
So far, Superman is Dead has been a massive agent of change where they have made small-but-beautiful gestures on a daily basis. For example, in almost every city they visit, they encourage people to have an afternoon stroll with them to clean the environment by picking up any trash they see.
Their contribution to the community can be considered real. What they stand for is a true representation of how people are willing to opt for a better life under the big roof called punk rock.
Of course, they have been supported by their legions of fanatic fans that have fallen in love with the free spirit the band have been expressing for years. They are a good example of how warm the relationship between a punk rock act and their followers can be.
“We’re trying hard not to project ourselves as a perfect idol figure for those kids; we just show them what we are. You can have so many followers if you’re natural and honest with people,” says full-of-wisdom-punk rocker JRX.
At the moment, their flags are flying high, literally.
“My point of view now has changed. I used to have a short term point of view, two or three years only. Now I have a bigger picture, not focusing on minor details. Clarity,” JRX says.
Looking back, they admit that what they have now on their hands was not even in their minds in day one.
“I never thought of this. I was so busy thinking about the good things in life; how to have wild nights out and a never ending alcohol adventure,” jokes JRX.
As
would be expected of happy-go-lucky young punk rockers, life in the
early stages of their career was always about having some fun and going
wild 24/7. The old saying “everything big starts small” is really
appropriate in their case. Don’t think big at the very start.Small gigs were the best while big stadium or arena gigs were not even on their horizon back then. Well, nowadays, small gigs are still on their agenda but it needs to be discreetly done.
“Police will monitor your behavior while you’re doing big stadium gigs, while a sweet girl will wait for you in the corner in a small gig,” again, jokes JRX. “Raw and devilish energy plus the audience’s sweat are the basic ingredients of chaos.”
“We love the wild energy which actually is the fuel that drives our engine. We want to explode it all without a single fake emotion. That’s how a small gig feels to us,” adds EkaRock.
From any of the anecdotes you read, it’s easy to sense how they have kept their feet on the ground, living their enjoyable life to the fullest. The band still call Bali home despite the major effort to go on tour or promote their work.
“We want to say go on forever by writing as many songs as we can, we want to see places we’ve never been to before and do many things in the future,” says Bobby Kool.
The band is now promoting their newly released vinyl record consisting of eight of their best tracks. The vinyl is the first product from Sony Music Indonesia in this old fashioned but sexy format. The band managed to push yet another boundary by getting their label to fulfill their dream of having a release in vinyl format.
“You cannot call yourself a musician if you don’t have vinyl in your catalogue. We’re fortunate that at this time our label is on crazy mode,” says JRX. This, of course, is a joke, maybe.
Keep watching, because Superman is Dead will probably make another big break while surfing the mainstream industry with their bold punk rock attitude.
Label:
Interview,
Superman Is Dead
Interview SID dengan Jurnallica Webzine 2009
1) Apa yang membuat kalian tetap eksis? Pada
press release album terakhir sepertinya kalian ingin memuntahkan
masa-masa kemelut dalam eksistensi ben ini, sampai-sampai si Superman
merasa hampir menyerah.
Jrx: Rasa cinta dan dukungan alam semesta yang membuat kami bertahan. Dua faktor tersebut tidak bisa dikalahkan oleh apapun juga.
2) Jika pada masa sulit itu membuat SID bubar, kira-kira kalian akan mengambil alih pekerjaan apa? Kita tau, di Indonesia banyak musisi indie/cutting-edge belum bisa menggantungkan hidup dari nge-ben. Atau kalian memang mendedikasikan hidup sebagai ben punkrock dan trus rock n roll?
Jrx: Jika SID harus bubar, saya akan menjadi aktor atau desainer, Bobby menjadi graphic designer dan atlet badminton, Eka bisa menjadi ahli IT dan multimedia. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Tapi kenyataannya, SID tidak akan bubar. Kita mungkin suatu saat akan meredup, tapi tidak akan pernah padam.
3) Apa yang signifikan dari “Angels & The Outsiders” dibanding album-album sebelumnya?
Jrx: Kita membuka pemikiran orang bahwa nyawa punkrock tidak terletak pada distorsi, makian dan tempo lagu yang cepat. It's all in the lyrics and attitude...
4) We know, industri musik di sini masih mengedepankan sisi komersialisme dibanding mutu karya. Dalam arti, label rekaman cenderung memilih musik yang gampang dicerna, catchy, easy-listening dan akhirnya terlihat seragam. Kalian sebagai ben punk yang tergabung dalam label mayor, apakah juga kompromi dalam berkarya? Apa yang kalian lakukan untuk meyakinkan Jan Djuhana agar SID tetap di label SONY?
Jrx: Dari awal Sony Music sudah tahu karakter SID seperti apa dan kita memiliki gentleman's agreement bahwa label tidak ikut campur di wilayah berkesenian SID. Lagu, lirik, video klip, art work, image, konser, dll kita yang menentukan. Sony memproduseri album, mengurus promo dan distribusinya.
5) Selain di luar itu, apa yang ‘meresahkan’ dari dunia industri musik?
Jrx: Yang meresahkan bukan pelaku industrinya saja, tapi peminat industrinya. Semua bertalian. Selera mereka yang seragam membuat band berlomba-lomba untuk menjadi seragam. Di sini media punya peran besar dalam membentuk selera pasar. Jangan cuma menyalahkan band atau media juga, kita semua ikut terlibat kok dalam kemunduran ini. Dan tidak ada gunanya mengeluh, lebih baik lakukan sesuatu yang besar dan hajar kemunduran sampai titik penghabisan.
6) Sebagai ben, apa kalian memerlukan sebuah imej/citra?
Jrx: Jika kamu ingin meraih langit, citra sangat signifikan karena setiap band memerlu-kan wajah. Sama seperti manusia, wajah [citra] ini ber-fungsi untuk dijadikan kekuatan yang membedakan-mu dengan band/manusia yang lain. Dan citra tidak harus identik dengan fashion. Attitude, movement, lirik, dll bisa menjadi citra/wajah setiap band.
7) Apa yang membuat SID lebih terekspos dari ben-ben Bali lainnya? Apakah di Bali tidak memiliki basis media yang kuat (khususnya untuk musik cutting-edge)? Atau kalian merasa ada sentralisme pada permusikan Indonesia?
Jrx: Yup, Bali belum memiliki basis media yang kuat. Semua masih terpusat di Jakarta. SID terekspos karena kami melakukan sesuatu yang layak di-ekspos. Bukan karena skandal infotainment pastinya.
8) Seandainya SID tak berlanjut, mungkin kalian tak akan merealisasikan mimpi agung-nya, yaitu tur Amerika. Ada 2 tur lagih! Pada tur Vans Warped kalian cuma tampil sebagai ben ‘ecek-ecek’ (baca: kurang famous) sedangkan di tur From Bali with Rock kalian hadir sebagai headliner. Apa perbedaan yang kalian rasakan dari 2 tur tersebut? Dan setelah merasakan panggung bergengsi dalam festival dunia, apa yang berbeda dari event-event lainnya?
Jrx: Tidak ada perbedaan besar karena di US walaupun kami headliner, tetap saja orang sana mostly tidak tahu SID. Faktor perjuangannya sangat dominan. Perbedaan event internasional dengan event lainnya lebih pada disiplin waktu yang akurat dan masalah kebersihan. Orang Indonesia harus lebih sadar kebersihan dan menghilangkan kebiasaan jam karet.
9) Saya teringat statement dari promoter lokal ternama, bahwa yang membuat ben-ben Indonesia sulit go international adalah perkara bahasa/lirik. Tapi dengan berhasilnya SID tur ke Amerika telah melabrak argument-argumen yang sama. Kalo bagi kalian, apa yang membuat ben-ben lokal susah tembus ke skala dunia? Atau, semua itu memang ada faktor keberuntungan juga?
Jrx: Hukum alam. Mungkin karena memang belum waktunya. Jika harus terjadi, pasti akan terjadi. Everything happens for a reason.
10) Secara kultur musik, kalian kan juga mengadopsi budaya luar. Tapi selama tur di Amerika kalian merasa ada penilaian ‘dibanding-bandingkan’ ‘ga?
Jrx: Gak ada, mungkin publik AS sudah melewati fase 'membanding-bandingkan' band ini dengan band itu. Mereka lebih kepada sikap take it or leave it. Jika suka, mereka tunjukkan dukungan, jika tidak suka ya mereka pergi. Fair dan gak banyak basa basi seperti di Indonesia.
11) SID pernah buat DVD tur Australia. Ada rencana tur Amerika kemarin dibuatkan DVD-nya juga? Kalo iya, kapan dirilis?
Jrx: Sedang di-edit, mudah-mudahan rilis sebelum 2010.
12) Ehm! Selama tur Amerika kemarin kalian dapet groupis ‘ga?
Jrx: No comment.
13) Sebelumnya, sejauhmana kalian mengetahui fanbase SID di luar Indonesia, terutama Amerika?
Jrx: Kami mengetahuinya lewat Myspace, ada beberapa warga AS yang menyimak perjalanan SID dan memesan merchandise/CD untuk dikirim ke AS. Walaupun jumlahnya tidak fantastis, lumayanlah daripada tidak ada sama sekali.
14) Baru-baru ini SID mendeklarasikan para “Outsiders” wanita dengan sebutan “Lady Rose”. Ada alasan khusus?
Jrx: Agar wanita dalm dunia punkrock lebih dihargai dan dilindungi. Tidak dianggap sebagai pelengkap saja karena sejatinya peran mereka juga besar. Selain itu juga untuk mengikis image 'machoisme' yang berlebihan dalam punkrock. Kami sudah muak dengan stigma punkrock itu simbol kekerasan/kejantanan. Itu semua omong kosong manusia-manusia berpikiran sempit. Punkrock tidak mengenal jenis kelamin, ras, dan strata sosial. Punkrock ada untuk semua manusia tanpa terkecuali. Miskin-kaya tua-muda laki-perempuan, semua bebas menikmati punkrock.
15) Banyak ben-ben luar (terutama yang cutting-edge) lebih mengharapkan ‘pemasukannya’ dari hasil tur dibanding penjualan album. Kalian sendiri bagaimana?
Jrx: Sama.
16) Dengan partisipasi kalian dalam tur Vans Warped, ini tentu menambah reputasi kalian. Dengan begitu, apa ‘bayaran’ kalian juga naik?
Jrx: Tergantung acaranya. Kemarin konser amal untuk Padang kita tidak dibayar dan ikut menyumbangkan donasi dalam bentuk lelang t-shirt/CD SID. Tapi kalau acaranya memang komersial dan disponsori korporat besar, kenapa harus malu meminta bagian yang besar juga. Realistis tidak ada salahnya.
17) Melihat style kalian yang rockabilly, jelas SID punya influens sisi western yang cukup kuat. Tapi saat tur Vans Warped kalian mengenakan pakaian adat Bali. Apa ini hanya pendomplengan identitas aja supaya mendapat simpatik? Bukankah sebelumnya kalian mengumbar nilai-nilai be yourself?
Jrx: Pertanyaanmu agak norak sebenarnya [hehehe-red] but anyway, kita memakai pakaian adat Bali karena beberapa alasan;
1. Publik AS tidak tahu Bali/Indonesia itu seperti apa dan pakaian adat bisa menjadi penegas darimana kita berasal.
2. Posisi kita di sana sebagai duta Indonesia dan tour kita memang bertujuan mempromosikan Bali/Indonesia.
3. Kita tetap menjadi diri sendiri karena di Bali kita sering memakai pakaian adat untuk beberapa acara yang bersifat adat.
18) Bagaimana pengklaiman budaya atas negara lain yang belum lama ini terjadi, bahkan tari Pendet dari Bali sempat kena imbasnya.
Jrx: Basi. Tiba-tiba semua orang menjadi patriotik berlebihan. Tidak mau melihat fenomena ini lebih luas dan bijak. Maunya perang dan perang. Lebih baik perbaiki dulu negara kita, benahi sistem pendidikan dan kesehatan untuk warga miskin, kurangi jumlah pengangguran. Kalau sudah kuat baru kita bicara perang. Tapi SID tidak pernah mendukung perang. Perang tidak pernah menyelasaikan masalah tapi menambah masalah. Buktinya sudah banyak: Iraq, Israel, Palestina. Semua masalah bisa diselesaikan tanpa harus menghilangkan nyawa manusia-manusia tidak bersalah. Fuck war!
19) Seandainya Bali berpisah dari Indonesia dan menjadi negara tunggal, kalian sepakat ngga?
Jrx: Haha. Gak mau dan gak mungkin bisa, listrik saja Bali masih tergantung sama Jawa. Cuma orang gila yang berpikir Bali bisa menjadi negara tunggal karena faktanya Bali masih sangat tergantung dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia.
20) Pernah ngga kalian ditolak orang tua pacar karena penampilan kalian yang rock n roll?
Jrx: No comment.
21) Ok. Ada yang ingin ditambahkan?
Jrx: Jaga dan hormati bumi ini maka ia akan membalasnya dengan cinta. Masa depan semesta ini kita semua yang menentukan.
Diambil dari :
http://www.jurnallica.com/intie_07_superman-is-dead.htm(Oktober '09).
Jrx: Rasa cinta dan dukungan alam semesta yang membuat kami bertahan. Dua faktor tersebut tidak bisa dikalahkan oleh apapun juga.
2) Jika pada masa sulit itu membuat SID bubar, kira-kira kalian akan mengambil alih pekerjaan apa? Kita tau, di Indonesia banyak musisi indie/cutting-edge belum bisa menggantungkan hidup dari nge-ben. Atau kalian memang mendedikasikan hidup sebagai ben punkrock dan trus rock n roll?
Jrx: Jika SID harus bubar, saya akan menjadi aktor atau desainer, Bobby menjadi graphic designer dan atlet badminton, Eka bisa menjadi ahli IT dan multimedia. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Tapi kenyataannya, SID tidak akan bubar. Kita mungkin suatu saat akan meredup, tapi tidak akan pernah padam.
3) Apa yang signifikan dari “Angels & The Outsiders” dibanding album-album sebelumnya?
Jrx: Kita membuka pemikiran orang bahwa nyawa punkrock tidak terletak pada distorsi, makian dan tempo lagu yang cepat. It's all in the lyrics and attitude...
4) We know, industri musik di sini masih mengedepankan sisi komersialisme dibanding mutu karya. Dalam arti, label rekaman cenderung memilih musik yang gampang dicerna, catchy, easy-listening dan akhirnya terlihat seragam. Kalian sebagai ben punk yang tergabung dalam label mayor, apakah juga kompromi dalam berkarya? Apa yang kalian lakukan untuk meyakinkan Jan Djuhana agar SID tetap di label SONY?
Jrx: Dari awal Sony Music sudah tahu karakter SID seperti apa dan kita memiliki gentleman's agreement bahwa label tidak ikut campur di wilayah berkesenian SID. Lagu, lirik, video klip, art work, image, konser, dll kita yang menentukan. Sony memproduseri album, mengurus promo dan distribusinya.
5) Selain di luar itu, apa yang ‘meresahkan’ dari dunia industri musik?
Jrx: Yang meresahkan bukan pelaku industrinya saja, tapi peminat industrinya. Semua bertalian. Selera mereka yang seragam membuat band berlomba-lomba untuk menjadi seragam. Di sini media punya peran besar dalam membentuk selera pasar. Jangan cuma menyalahkan band atau media juga, kita semua ikut terlibat kok dalam kemunduran ini. Dan tidak ada gunanya mengeluh, lebih baik lakukan sesuatu yang besar dan hajar kemunduran sampai titik penghabisan.
6) Sebagai ben, apa kalian memerlukan sebuah imej/citra?
Jrx: Jika kamu ingin meraih langit, citra sangat signifikan karena setiap band memerlu-kan wajah. Sama seperti manusia, wajah [citra] ini ber-fungsi untuk dijadikan kekuatan yang membedakan-mu dengan band/manusia yang lain. Dan citra tidak harus identik dengan fashion. Attitude, movement, lirik, dll bisa menjadi citra/wajah setiap band.
7) Apa yang membuat SID lebih terekspos dari ben-ben Bali lainnya? Apakah di Bali tidak memiliki basis media yang kuat (khususnya untuk musik cutting-edge)? Atau kalian merasa ada sentralisme pada permusikan Indonesia?
Jrx: Yup, Bali belum memiliki basis media yang kuat. Semua masih terpusat di Jakarta. SID terekspos karena kami melakukan sesuatu yang layak di-ekspos. Bukan karena skandal infotainment pastinya.
8) Seandainya SID tak berlanjut, mungkin kalian tak akan merealisasikan mimpi agung-nya, yaitu tur Amerika. Ada 2 tur lagih! Pada tur Vans Warped kalian cuma tampil sebagai ben ‘ecek-ecek’ (baca: kurang famous) sedangkan di tur From Bali with Rock kalian hadir sebagai headliner. Apa perbedaan yang kalian rasakan dari 2 tur tersebut? Dan setelah merasakan panggung bergengsi dalam festival dunia, apa yang berbeda dari event-event lainnya?
Jrx: Tidak ada perbedaan besar karena di US walaupun kami headliner, tetap saja orang sana mostly tidak tahu SID. Faktor perjuangannya sangat dominan. Perbedaan event internasional dengan event lainnya lebih pada disiplin waktu yang akurat dan masalah kebersihan. Orang Indonesia harus lebih sadar kebersihan dan menghilangkan kebiasaan jam karet.
9) Saya teringat statement dari promoter lokal ternama, bahwa yang membuat ben-ben Indonesia sulit go international adalah perkara bahasa/lirik. Tapi dengan berhasilnya SID tur ke Amerika telah melabrak argument-argumen yang sama. Kalo bagi kalian, apa yang membuat ben-ben lokal susah tembus ke skala dunia? Atau, semua itu memang ada faktor keberuntungan juga?
Jrx: Hukum alam. Mungkin karena memang belum waktunya. Jika harus terjadi, pasti akan terjadi. Everything happens for a reason.
10) Secara kultur musik, kalian kan juga mengadopsi budaya luar. Tapi selama tur di Amerika kalian merasa ada penilaian ‘dibanding-bandingkan’ ‘ga?
Jrx: Gak ada, mungkin publik AS sudah melewati fase 'membanding-bandingkan' band ini dengan band itu. Mereka lebih kepada sikap take it or leave it. Jika suka, mereka tunjukkan dukungan, jika tidak suka ya mereka pergi. Fair dan gak banyak basa basi seperti di Indonesia.
11) SID pernah buat DVD tur Australia. Ada rencana tur Amerika kemarin dibuatkan DVD-nya juga? Kalo iya, kapan dirilis?
Jrx: Sedang di-edit, mudah-mudahan rilis sebelum 2010.
12) Ehm! Selama tur Amerika kemarin kalian dapet groupis ‘ga?
Jrx: No comment.
13) Sebelumnya, sejauhmana kalian mengetahui fanbase SID di luar Indonesia, terutama Amerika?
Jrx: Kami mengetahuinya lewat Myspace, ada beberapa warga AS yang menyimak perjalanan SID dan memesan merchandise/CD untuk dikirim ke AS. Walaupun jumlahnya tidak fantastis, lumayanlah daripada tidak ada sama sekali.
14) Baru-baru ini SID mendeklarasikan para “Outsiders” wanita dengan sebutan “Lady Rose”. Ada alasan khusus?
Jrx: Agar wanita dalm dunia punkrock lebih dihargai dan dilindungi. Tidak dianggap sebagai pelengkap saja karena sejatinya peran mereka juga besar. Selain itu juga untuk mengikis image 'machoisme' yang berlebihan dalam punkrock. Kami sudah muak dengan stigma punkrock itu simbol kekerasan/kejantanan. Itu semua omong kosong manusia-manusia berpikiran sempit. Punkrock tidak mengenal jenis kelamin, ras, dan strata sosial. Punkrock ada untuk semua manusia tanpa terkecuali. Miskin-kaya tua-muda laki-perempuan, semua bebas menikmati punkrock.
15) Banyak ben-ben luar (terutama yang cutting-edge) lebih mengharapkan ‘pemasukannya’ dari hasil tur dibanding penjualan album. Kalian sendiri bagaimana?
Jrx: Sama.
16) Dengan partisipasi kalian dalam tur Vans Warped, ini tentu menambah reputasi kalian. Dengan begitu, apa ‘bayaran’ kalian juga naik?
Jrx: Tergantung acaranya. Kemarin konser amal untuk Padang kita tidak dibayar dan ikut menyumbangkan donasi dalam bentuk lelang t-shirt/CD SID. Tapi kalau acaranya memang komersial dan disponsori korporat besar, kenapa harus malu meminta bagian yang besar juga. Realistis tidak ada salahnya.
17) Melihat style kalian yang rockabilly, jelas SID punya influens sisi western yang cukup kuat. Tapi saat tur Vans Warped kalian mengenakan pakaian adat Bali. Apa ini hanya pendomplengan identitas aja supaya mendapat simpatik? Bukankah sebelumnya kalian mengumbar nilai-nilai be yourself?
Jrx: Pertanyaanmu agak norak sebenarnya [hehehe-red] but anyway, kita memakai pakaian adat Bali karena beberapa alasan;
1. Publik AS tidak tahu Bali/Indonesia itu seperti apa dan pakaian adat bisa menjadi penegas darimana kita berasal.
2. Posisi kita di sana sebagai duta Indonesia dan tour kita memang bertujuan mempromosikan Bali/Indonesia.
3. Kita tetap menjadi diri sendiri karena di Bali kita sering memakai pakaian adat untuk beberapa acara yang bersifat adat.
18) Bagaimana pengklaiman budaya atas negara lain yang belum lama ini terjadi, bahkan tari Pendet dari Bali sempat kena imbasnya.
Jrx: Basi. Tiba-tiba semua orang menjadi patriotik berlebihan. Tidak mau melihat fenomena ini lebih luas dan bijak. Maunya perang dan perang. Lebih baik perbaiki dulu negara kita, benahi sistem pendidikan dan kesehatan untuk warga miskin, kurangi jumlah pengangguran. Kalau sudah kuat baru kita bicara perang. Tapi SID tidak pernah mendukung perang. Perang tidak pernah menyelasaikan masalah tapi menambah masalah. Buktinya sudah banyak: Iraq, Israel, Palestina. Semua masalah bisa diselesaikan tanpa harus menghilangkan nyawa manusia-manusia tidak bersalah. Fuck war!
19) Seandainya Bali berpisah dari Indonesia dan menjadi negara tunggal, kalian sepakat ngga?
Jrx: Haha. Gak mau dan gak mungkin bisa, listrik saja Bali masih tergantung sama Jawa. Cuma orang gila yang berpikir Bali bisa menjadi negara tunggal karena faktanya Bali masih sangat tergantung dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia.
20) Pernah ngga kalian ditolak orang tua pacar karena penampilan kalian yang rock n roll?
Jrx: No comment.
21) Ok. Ada yang ingin ditambahkan?
Jrx: Jaga dan hormati bumi ini maka ia akan membalasnya dengan cinta. Masa depan semesta ini kita semua yang menentukan.
Diambil dari :
http://www.jurnallica.com/intie_07_superman-is-dead.htm(Oktober '09).
Label:
Interview,
Superman Is Dead
Langganan:
Komentar (Atom)